Connect with us

RELATIONSHIP

Lakukan Ini Saat Anda Merasa Tak Bahagia

Published

on

Lakukan Ini Saat Anda Merasa Tak Bahagia.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Mencoba menyingkirkan perasaan tidak bahagia, seperti melakukan hal-Bahagia, ternyata tak mampu membuat Anda benar-benar merasa bahagia kembali.

Ketika merasa tidak bahagia, banyak orang yang secara alami mencoba menyingkirkan pikiran itu, seperti beralih ke sesuatu yang positif, dengan harapan dapat merasakan kebahagiaan kembali.

Tetapi, menurut Mo Gawdat penulis buku Solve for Happy, menyingkirkan perasaan tidak bahagia bukanlah jalan keluar dalam menemukan kebahagiaan kembali. Rasa tidak bahagia yang sengaja dilupakan itu, sewaktu-waktu dapat kembali dan membuat ketidakbahagiaan Anda menjadi berkepanjangan.

“Ketika sesuatu memicu ketidakbahagiaan, langkah terbaik adalah ‘mengunjunginya’ dan menghadapinya,” kata Gawdat pada sebuah takshowbaru-baru ini di New York City, yang dirangkum oleh Shana Lebowitz di Business Insider.

Gawdat mengibaratkan rasa tidak bahagia seperti sakit perut, Anda harus menemukan sebab utamanya dan melakukan perawatan untuk kembali sembuh. Hanya saja, terkadang lebih mudah mengenali penyakit fisik ketimbang menyadari bahwa Anda merasa tidak bahagia.

“Bila ada sesuatu yang mengganjal di hati, membuat Anda sulit tersenyum, dan lebih ingin menangis atau mengurung diri, berhentilah sejenak untuk mengenali perasaan Anda lebih dalam,” Gawdat menjelaskan. “Bahkan jika Anda belum tahu apa penyebabnya, akuilah bahwa ‘Saya tidak merasa baik-baik saja.’”

Walau saran Gawdat mungkin terdengar tidak nyaman, sebuah penelitian mendukung saran tersebut. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology edisi Agustus menyebutkan, rahasia kebahagiaan adalah kemampuan untuk bisa merasa “payah”, sedih, atau apapun itu yang membuat Anda tidak bahagia.

Penelitian tersebut menyurvei 2.300 mahasiswa usia kuliah di A.S., Brazil dan China, dan menanyakan kepada mereka tentang emosi yang mereka ingin rasakan, ingin mereka kurangi, dan emosi mana yang sebenarnya sedang mereka rasakan.

Para mahasiswa yang melaporkan kepuasan hidup lebih besar dan lebih sedikit gejala depresi adalah mereka yang benar-benar merasakan emosi apa pun, baik itu negatif maupun positif.

“Ingin bahagia atau gembira sepanjang waktu tidak terlalu realistis, begitu juga dengan berkata ‘saya baik-baik saja’ sepanjang waktu,” kata penulis studi Maya Tamir, seorang profesor psikologi di The Hebrew University of Jerusalem, kepada HuffPost.

“Jika kita bisa menerima dan bahkan menyambut emosi negatif yang kita miliki, mengakuinya, dan mencari jalan keluar, baik itu sendiri atau dengan bantuan orang lain, kita cenderung lebih bahagia dan lebih puas. ”

Jadi, saran Gawdat, pada saat Anda merasa tidak bahagia, cobalah untuk benar-benar merasakan apa yang membuat Anda tidak bahagia. Menangislah bila perlu. Dan bila memungkinkan, berbagilah dengan orang yang benar-benar Anda percaya, sehingga rasa tidak bahagia perlahan akan berkurang, dan tergantikan oleh rasa yang lebih positif. (jzn)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATIONSHIP

Bercerai Bisa Kurangi Harapan Hidup

Published

on

Kepuasan hidup yang lebih rendah di antara orang yang bercerai bisa membuat mereka lebih rendah beraktivitas fisik.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Kepuasan hidup yang lebih rendah di antara orang yang bercerai bisa membuat mereka lebih rendah beraktivitas fisik dan meningkatkan kecenderungan merokok.

Dua hal inilah yang menjadi penyebab angka harapan hidup berkurang.

Akibat merokok, orang-orang memiliki fungsi paru-paru yang lebih buruk, yang memprediksi kematian dini, menurut sebuah studi dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine.

Temuan ini berdasarkan dat studi kesehatan jangka panjang orang dewasa di atas usia 50 yang tinggal di Inggris. Penelitian ini mencakup tujuh gelombang data, yang dikumpulkan dari peserta setiap dua tahun dan dimulai pada tahun 2002.

Studi ini melibatkan 5786 peserta dan 926 orang dari jumlah itu telah bercerai, berpisah atau belum menikah kembali.

Para peserta melaporkan sendiri kepuasan hidup mereka, frekuensi olahraga dan status merokok. Fungsi paru-paru mereka dan tingkat peradangan juga diperiksa.

Setelah melacak kematian di antara para peserta selama penelitian, para peneliti menemukan bahwa mereka yang bercerai atau terpisah, 46 persen lebih besar berisiko kematian daripada rekan-rekan mereka yang masih menikah.

Peserta wanita yang bercerai atau terpisah memiliki kepuasan hidup lebih rendah daripada peserta yang sudah menikah.

“Meskipun penelitian ini tidak secara eksplisit memeriksa mengapa perceraian berhubungan dengan kemungkinan merokok yang lebih besar dan tingkat latihan fisik yang lebih rendah, satu penjelasan yang mungkin, didukung oleh penelitian yang ada, adalah bahwa individu yang diceraikan tidak lagi memiliki pasangan yang meminta bertanggung jawab atas perilaku kesehatan mereka,” kata Kyle Bourassa dari University of Arizona di Amerika Serikat.

“Dalam banyak hal, ketika hubungan berakhir, kita kehilangan kendali sosial yang penting dari perilaku kesehatan kita,” imbuh Bourassa.

Penting untuk dicatat bahwa perceraian tidak selalu mengarah pada hasil kesehatan yang negatif. Kualitas hidup, misalnya, dapat meningkat secara signifikan bagi individu yang telah mengakhiri hubungan tidak sehat. Demikian seperti dilansir Indian Express, seperti dikutip Antara. (lws)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Kiat Tingkatkan Kualitas Hubungan Asmara Menurut Ahli

Published

on

Meningkatkan kualitas hubungan bersama penting demi membuat ikatan hubungan semakin kuat.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta -Meningkatkan kualitas hubungan bersama penting demi membuat ikatan hubungan semakin kuat.

“Dalam social penetration theory terungkap bahwa walaupun hubungan seseorang berkembang menjadi lebih intim, namun akan tetap mengalami up and down, sehingga perlu bagi setiap pasangan untuk melakukan evaluasi hubungan percintaan mereka,” kata psikolog Elizabeth Santosa dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/5/2018).

Dia pun membeberkan kiat yang bisa Anda lakukan untuk membuat hubungan percintaan menjadi lebih sehat dan berwarna, yakni:

1. Komunikasi dari hati ke hati

Ketika Anda belajar untuk berbicara dari hati ke hati dengan pasangan, Anda akan mengembangkan hubungan yang lebih dalam, serta membuat Anda dan pasangan saling mempercayai satu sama lain.

Berkomunikasi dari hati ke hati akan membuat percakapan terasa lebih menyenangkan, dan mengembangkan hubungan menjadi lebih baik dan dekat.

2. Jangan egois

Ada baiknya agar Anda berkomitmen untuk tidak menjadi pribadi yang egois dan memperbanyak usaha untuk lebih mengalah dengan pasangan. Mengurangi tuntutan kepada pasangan dan memberikan lebih banyak waktu untuk pasangan.

3. Empati

Hubungan yang berlandaskan empati saling mengerti dan memahami pasangan, memiliki berbagai manfaat antara lain dapat menjembatani perbedaan sehingga mengurangi terjadinya pertikaian dengan pasangan.

Lalu, dapat memberikan perhatian pasangan secara lebih, membawa aura positif kepada hidup Anda dan pasangan, serta melatih jiwa kesabaran Anda.

4. Jaga pola makan

Kualitas cinta Anda tidak akan tercapai apabila Anda tidak memenuhi pola hidup mendasar, yaitu menjaga pola makan secara teratur.

Untuk urusan percintaan, Anda bisa memperbanyak konsumsi afrodisiak, seperti buah anggur atau strawberry. Afrodisiak dapat membangkitkan gairah, sehingga akan membuat kehidupan percintaan Anda semakin bergairah.

5. Tubuh dan pikiran sehat

Memiliki tubuh dan pikiran yang sehat adalah salah satu hal yang akan menunjang kualitas hubungan Anda. Jadi, tidak ada salahnya untuk sesekali mengajak pasangan melakukan olah raga bersama misalnya seperti tenis/squash atau yoga untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan pasangan.

6. Kualitas hubungan seksual

Ketika berbicara tentang relationship, kualitas hubungan seksual menjadi salah satu kunci utama. Cobalah membuat momen intimasi Anda, seperti dikutip Antara. (ant)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Pola Asuh “Positive Parenting” untuk Generasi Milenial

Published

on

Pola asuh positive parenting dapat membantu orang tua menerapkan disiplin efektif tanpa kehilangan momen menyenangkan bersama anak.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Setiap orang tua pada dasarnya ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Seiring dengan berkembangnya zaman, pola asuh anak pun harus disesuaikan.

Menurut psikolog anak dan keluarga Ajeng Raviando pola asuh positive parentingdinilai tepat bagi orang tua masa kini untuk diterapkan kepada anaknya yang merupakan generasi milenial.

Ajeng menjelaskan bahwa pola asuh positive parenting dapt membantu orang tua menerapkan disiplin efektif tanpa kehilangan momen menyenangkan bersama anak.

“Pola asuh ini menekankan pasa sesuatu yang positif. Tidak ada kalimat negatif atau menyalahkan anak seperti ‘gitu saja enggak bisa’, atau ‘yang lain bisa kenapa kamu enggak bisa’, ” ujar Ajeng dalam acara Homework Rescue Creative Workshop yang digelar HP bersama Disney, di Jakarta, Jumat (11/5/2018).

“Pola asuh ini melihat sisi positif anak, kemudian anak memiliki kesempatan bersuara,” lanjut dia.

Lebih lanjut, Ajeng membagian cara-cara untuk menerapkan pola asuh positive parenting ini.

Pertama, orang tua diharap menjadi model yang baik dengan menjadi teladan untuk anak. Selanjutnya, meluangkan waktu berkualitas secara rutin dengan anak. “Menemani anak mengerjakan PR, misalnya,” ujar Ajeng.

Orang tua juga diharap fokus pada perilaku positif anak. “Memberikan pujian kepada anak. Orang tua tidak melulu fokus pada prestasi anak, jika anak memiliki perilaku yang baik, suka menolong, itu lebih baik,” kata Ajeng.

Selain itu, orang tua juga harus memberikn konsekuensi logis, bersikap tegas, disiplin, jelas dan konsisten.

“Saat mengerjakan PR misalnya, kasih pilihan, kalau tidak segera dikerjakan konsekuensinya bisa jadi PR-nya enggak selesai, bisa jadi pagi kebingungan,” ujar Ajeng.

Cara selanjutnya adalah melakukan diskusi dan negoisasi dengan anak. Menurut Ajeng, tua harus memonitor apa yang dikerjakan anak, mengingatkan manajemen waktu untuk melakukan sesuatu dengan tuntas.

Orang tua juga harus menciptakan komunikasi efektif dengan anak. “Misalnya, orang tua bisa sharing pengalaman saat dulu tidak mengerjakan PR, sehingga anak juga merasa bahwa orang tuanya pernah di posisi mereka,” kata Ajeng.

Selain itu, untuk menerapkan pola asuh positive parenting, orang tua juga diharap dapat memberi ruang tumbuh dan memberi kesempatan bagi anak untuk melakukan kesalahan. “Ini penting karena anak bisa belajar dari kesalahan,” ujar Ajeng.

Terakhir, orang tua harus memberikan cinta tanpa syarat. “Orang tua harus memahami anaknpunya keunggulan dan potensi yajg dimiliki,” tambah Ajeng, seperti dikutip Antara. (ari)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending