Connect with us

DIGITAL

Pakar : Facebook Harus Ungkap Motif Penggunaan Data

Published

on

Pakar Keamanan Siber, Doktor Pratama Persadha.

Indonesiaraya.co.id, Semarang – Pakar keamanan siber Doktor Pratama Persadha menyatakan manajemen Facebook di hadapan DPR RI harus mengungkap motif pencurian data milik warganet Indonesia.

“Yang tidak kalah penting adalah 1.096.666 data pengguna Facebook yang bocor ke Cambridge Analytica digunakan oleh siapa dan untuk apa saja?” kata Pratama menjawab pertanyaan Antara di Semarang, Jumat (13/4/2018) pagi.

Sebelumnya, ada dugaan sekitar 87 juta data pengguna Facebook di dunia diambil dan diolah oleh Cambridge Analytica. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.096.666 pengguna di antaranya adalah warganet (netizen) Indonesia.

Sebagaimana diwartakan oleh Antara, Komisi I (Bidang Pertahanan, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika, dan Intelijen) DPR RI menjadwal ulang pemanggilan manajamen Facebook pada pekan depan untuk klarifikasi terkait dengan kasus tersebut.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI W. Yudha di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (11/4/2018), mengatakan bahwa DPR ingin mengetahui tentang keamanan data pengguna Facebook.

“Apakah ditransaksikan atau tidak, misalnya, kepada lembaga survei di Jakarta atau kepada siapa saja penggunanya,” kata anggota DPR RI dari dari Fraksi Golkar itu.

Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) berharap pengelola Facebook menyebutkan sejumlah pihak pengembang aplikasi yang terlibat.

Baik aparat kepolisian maupun Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bisa meminta penjelasan lebih jauh kepada manajemen Facebook, terutama terkait dengan keamanan data pengguna Facebook.

“Apakah Facebook telah memberikan pintu yang terlalu besar kepada pihak pengembang aplikasi dalam mengambil data penggunanya?” kata Pratama yang pernah sebagai Pelaksana Tugas Direktur Pengamanan Sinyal Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) yang kini menjadi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) itu.

Selain itu, dalam pertemuan antara DPR RI dan Facebook, masyarakat Indonesia juga mengetahui kebocoran data oleh pengembang aplikasi lainnya. Hal ini menurut Pratama terbuka lebar.

Dalam kasus Cambridge Analytica, misalnya, munculnya karena pengakuan oleh mantan pegawai.

“Dalam pertemuan antara DPR RI dan Facebook, perlu pula menanyakan bagaimana upaya Facebook mengetahui upaya-upaya dari pengembang yang lain yang telah mengambil data pengguna Facebook,” kata Pratama, seperti dikutip Antara. (ddk)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DIGITAL

WhatsApp akan Batasi Pesan Yang Diteruskan

Published

on

WhatsApp akan menghilangkan tombol meneruskan secara cepat (quick forward button) di dekat pesan media.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Facebook Inc sedang menguji coba membatasi pesan yang diteruskan, setelah kejadian di India yang menelan korban jiwa akibat pesan berantai yang beredar melalui WhatsApp.

“Kami yakin perubahan-perubahan ini, yang akan terus kami evaluasi, akan membantu WhatsApp tetap menjadi seperti tujuan aplikasi ini dibuat: aplikasi untuk pesan pribadi,” kata WhatsApp di blog mereka.

Saat ini uji coba masih dilakukan di India, belum ada informasi apakah negara lain juga akan mengalami hal yang sama. Di India, pesan yang diteruskan akan dibatasi hanya lima percakapan, baik secara pribadi maupun dalam grup.

Masih di India, seperti diberitakan Reuters, WhatsApp akan menghilangkan tombol meneruskan secara cepat (quick forward button) di dekat pesan media.

India disebut sebagai pengguna salah satu yang banyak meneruskan pesan, foto dan video.

Beberapa waktu lalu, pesan berantai yang beredar melalui WhatsApp menyebabkan massa memukul lebih dari 12 orang yang diduga penculik anak, beberapa di antaranya meninggal.

Pemerintah India meminta WhatsApp turun tangan dalam mengatasi persebaran informasi di dalam platform.

Merespons permintaan India, WhatsApp mengeluarkan fitur label untuk meneruskan pesan agar orang yang menerima pesan tersebut tahu bahwa pengirim mendapatkannya dari orang lain, seperti dikutip Antara. (ant)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DIGITAL

Pengguna Instagram Kini Bisa Lihat Teman yang Sedang Online

Published

on

Instagram mengumumkan pembaruan, melalui blog mereka, bahwa pengguna kini dapat melihat ketika teman-teman mereka sedang online.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta  РInstagram mengumumkan pembaruan, melalui blog mereka, bahwa pengguna kini dapat melihat ketika teman-teman mereka sedang online.

Cara kerjanya sangat mirip dengan yang dilakukan Facebook Messenger. Anda akan dapat melihat titik hijau di tepi kanan bawah foto profil teman-teman yang mengikuti Anda atau yang sebelumnya mengobrol dengan Anda di Direct.

BACA JUGA : Instagram Siapkan Fitur Hapus Pengikut

Jika Anda tidak ingin menggunakan fitur ini, Anda dapat menonaktifkan Status Aktivitas dalam pengaturan.

Dari pantauan Antaranews, Jumat pagi, fitur tersebut nampaknya belum tersedia di Indonesia, baik untuk aplikasi di perangkat Android maupun iOS.

Dengan fitur ini, Instagram berharap bahwa tingkat interaksi pengguna dengan orang lain ketika berbagi konten yang mereka nikmati akan meningkat.

Instagram juga bermaksud untuk meningkatkan jumlah obrolan real-time yang terjadi melalui Direct. Status Aktivitas akan memungkinkan pengguna untuk melihat ketika mereka memiliki kesempatan untuk mengobrol dengan orang lain, demikian Phone Arena, seperti dikutip Antara. (ari)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DIGITAL

Hindari Asal Klik Agar Terhindar dari Malware

Published

on

Hindari Asal Klik ikon "play" Agar Terhindar dari Malware.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Baru-baru ini di media sosial muncul artikel hoaks yang mencatut nama Fox untuk menyebarkan kabar bohong bahwa aktor pemeran Mr.Bean, Rowan Atkinson, meninggal karena kecelakaan.

Pemberitaan ini menyamar seolah menjadi video, dengan ikon “play” berada di tengah. Jika diklik, pembaca akan diarahkan ke laman lain yang berujung pada phishing atau pencurian data pribadi.

Beberapa bulan sebelumnya, modus serupa terjadi lewat pesan berantai lewat WhatsApp mengumumkan kupon gratis dari McDonald’s Indonesia dengan mengklik tautan tertentu.

Pengguna internet perlu berhati-hati apabila menemui hal serupa. Saat beraktivitas di dunia maya, sembarangan mengklik artikel dapat menyebabkan perangkat terinfeksi malware jahat atau phishing.

Ketika mengklik tautan yang diberikan, calon korban akan diarahkan ke situs lain, ada kalanya diminta untuk mengisi survei dengan memasukkan data pribadi, atau diminta untuk mengunduh aplikasi tertentu untuk menonton video atau membaca artikel yang dimaksud.

Jika permintaan itu dipenuhi, data kroban akan dicuri atau perangkat terpasang malware karena memasang aplikasi tersebut.

Simak beberapa tips berikut ini agar Anda tidak terjebak artikel palsu yang bisa mencuri atau menginfeksi perangkat, seperti dilansir dari berbagai sumber.

1. Judul bombastis
Artikel yang patut dicurigai biasanya menggunakan judul yang berlebihan, sering kali ditulis dengan huruf kapital semua.

2. Typo
Pembaca perlu curiga jika artikel tersebut terdapat salah ketik atau typo, terutama di judul atau saat menulis merk tertentu.

3. Bukan situs resmi
Umumnya pembaca akan diminta mengklik tautan tertentu dengan alamat yang dibuat semirip mungkin dengan situs resmi, misalnya dengan menambahkan tanda “-“.

4. Meminta informasi pribadi
Beberapa situs meminta calon korban untuk memasukkan informasi pribadi, misalnya nama lengkap dan alamat.

5. Waspada unduhan
Pengguna internet juga kerap diminta untuk mengunduh dokumen atau aplikasi tertentu, jangan klik tautan tersebut, berlaku juga jika Anda mendapat tautan tersebut dari email yang mencurigakan. Tautan tersebut bisa jadi berisi malware yang akan menginfeksi perangkat.

Jika tidak yakin, arahkan kursor ke hyperlink yang dimaksud, tidak perlu diklik, untuk melihat URL penuh.

Cara lainnya, buka browser dan ketik manual laman yang dimaksud agar tidak otomatis diarahkan untuk mengunduh, seperti dikutip Antara. (nat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending