Connect with us

HIBURAN

Film “Lolai, Cinta di Atas Awan” Angkat Budaya Toraja

Published

on

Poster Film Lolai, Cinta di Atas Awan.

Indonesiaraya.co.id, Makassar – Film Lolai, Cinta Di Atas Awan yang diproduksi di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, karya Andi Burhamzah, mendapat dukungan berbagai pihak, bukan hanya pencinta film, kalangan remaja, hingga Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, karena dianggap mengangkat budaya setempat.

“Kami berharap film ini mendapat hati dari penonton karena di dalamnya terdapat perpaduan nilai kekeluargaan, edukasi, kebudayaan yang disajikan secara apik dan menjadi hiburan yang menyenangkan bagi keluarga Indonesia, ” kata Burhamzah, saat peluncuran film itu, di Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara sutradara film ini, Andrew Parinusa, kepada wartawan mengatakan produksi film Lolai, Cinta Di Atas Awan juga memberikan edukasi budaya kepada masyarakat, apalagi pengambilan gambar film di Tana Toraja yang mempunyai sejarah budaya diakui dunia.

Dia katakan, peluncuran ke muka publik film ini segera dilaksanakan setelah sosialisasi ke sejumlah sekolah terjadi. Pembuatan film ini atas kerja sama dengan perusahaan farmasi, PT Kalbe Farma (Persero).

Sedangkan pemeran utama dalam film itu, Maizura Rezky, berperan sebagai Tara. Dia mengajak siswa sekolah untuk semangat berkarya dan cinta budaya, karena menurut dia, budaya merupakan identitas bangsa yang wajib dijaga.

“Sudah menjadi tugas kita sebagai generasi muda untuk mempertahankan serta melestarikan budaya di tengah era moderen saat ini. sudah saatnya remaja Makassar menunjukkan eksistensi dirinya dengan menghadirkan karya yang bermanfaat,” ujar penyanyi remaja bertalenta itu.

Dia juga menuturkan, pembuatan film yang mengambil tempat di Lolai, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, itu cukup menguras energi. Bahkan ia sempat mengambil izin di sekolahnya khusus untuk suting film karya anak bangsa itu, seperti dikutip Antara. (dar)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HIBURAN

Seniman Jateng Siap Meriahkan Batang Art Festival

Published

on

Teater Jateng.

Indonesiaraya.co.id, Batang – Ribuan seniman se-Jawa Tengah siap memeriahkan pergelaran Batang Art Festival (BAF) yang dilaksanakan di Kabupaten Batang, pada 21 hingga 25 April 2018.

Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Batang Tri Bakdho di Batang, Jumat (20/4/2018), mengatakan kegiatan Batang Art Festival tersebut digelar dalam rangkaian Hari Jadi Ke-52 Kabupaten Batang.

“Seribuan seniman dari berbagai daerah akan ikut tampil unjuk kebolehan kreatifitas seni dan budaya Indonesia. Yang akan kita tampilkan dari semua jenis kesenian mulai pameran lukisan, melukis bersama di Pantai Ujungnegoro, teater, baca puisi dari penyair se-Jawa Tengah,” katanya.

Pada kegiatan Batang Art Festival itu, kata dia, Bupati Batang Wihaji juga akan ikut tampil main seni drama khas Batang yaitu Babalu.

Ia mengatakan pada kegiatan itu, para seniman daerah juga akan melakukan diskusi untuk bersinergi membangun kesenian Jawa Tengah agar tidak kalah dengan provinsi lain.

“Kegiatan BAF 2018 ini kita mengambil tema `Metamorfosis` yang artinya melakukan sebuah perubahan yang pelan tetapi pasti dan mampu menggerakkan perekonomian atau memiliki sifat entrepreneur,” katanya.

Menurut dia, pada pembukaan BAF akan ditampilkan kesenian tari dari seniman Surakarta dengan tari “Tampak Kubah” kemudian dilanjutkan “Performance Art” berasal dari Subah Batang dan tari “Rojo Koyo” dari Sanggar Tari Budaya Kabupaten Batang.

“Karena Kabupaten Batang memiliki tiga kultur seni budaya yaitu pesisiran, urban tengah, dan seni pegunungan maka pada pergelaran BAF kita tampilkan dari tiga seni itu,” katanya, seperti dikutip Antara. (kut)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HIBURAN

LSF: Film Nasional Sudah Mulai Bervariasi

Published

on

Ketua LSF Ahmad Yani Basuki.

Indonesiaraya.co.id, Kediri – Lembaga Sensor Film Indonesia mengungkapkan film nasional saat ini sudah mulai bervariasi dengan munculnya beragam film yang mengangkat kearifan lokal di Indonesia.

“Yang membanggakan film Indonesia sudah mulai banyak dan pennton Indonesia mulai meningkat. Film Indonesia beberapa waktu lalu sampai 3 ribu saja susah, sekarang 4 ribu lebih, bahkan Dilan itu 5 juta sekian,” kata Ketua LSF Ahmad Yani Basuki saat di Blitar, Jawa Timur, Kamis (19/4/2018).

Ahmad yang ditemui dalam acara forum koordinasi di bidang penyensoran di sebuah hotel Kota Blitar mengatakan adanya sudah mulai bervariasinya film nasional atau film yang mengangkat budaya dan kearifan lokal ini terjadi selama dua tahun belakangan.

Ia mencontohkan, film nasional itu misalnya “Yo wis ben” yang digarap Bayu Skak dimana film ini menggunakan dialog bahasa Jawa, lalu film “Uang panai”, film Indonesia yang dibuat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang menceritakan tentang uang belanja untuk pengantin mempelai wanita dan ini tradisi adat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Film-film tersebut juga membawa kearifan lokal di masing-masing daerah, membawa marwah kebudayaan Indonesia banyak berkembang.

Kendati film itu dibuat dengan kearifan lokal di daerah, Ahmad menyebut masyarakat di daerah lain tentunya juga ingin menonton. Ia mencontohkan film “Yo wis ben” dengan logat kental bahasa Jatim, bukan hanya masyarakat Jatim yang menontonnya, tapi juga di daerah lain tertarik.

Ia juga mengingatkan, dalam melihat film harus dipahami secara utuh dan tidak bisa sepotong-potong. Hal itu untuk memastikan bahwa film itu layak untuk ditonton oleh masyarakat luas ataupun harus ada klasifikasi umur.

“Film itu harus dipahami sebagai karya seni budaya. Bangsa Indonesia punya kearifan lokal untuk melihat film itu. Lebih dari itu, kami putuskan ada klasifikasi, semua umur tidak mungkin. Jadi, di LSF selain sensor juga mengajari ke masyarakat bisa memahami film secara proporsional,” ujar dia.

Ia juga optimistis film Indonesia ke depan akan semakin beragam dan bagus. Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, sehingga ketika mengangakat film Indonesia juga serta merta mendorong lahirnya film yang bermuatan kearifan lokal budaya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat agar ikut berperan aktif untuk melakukan sensor, yaitu dengan sensor mandiri. Hal itu juga berdasarkan aturan bahwa setiap karya seni budaya punya kewajiban untuk sensor film. Setelah diputuskan tanda lulus, produk tersebut bisa disiarkan.

Ahmad menambahkan, film merupakan sebuah karya seni budaya yang berkaidah sinematografi, dipertunjukkan ke publik dan punya nilai strategis bagi kehidupan. Film juga sebagai media sosial yang berfungsi untuk membentuk karakter bangsa, pendidikan dan akhlak mulia.

Untuk itu, pihaknya hadir untuk menjaga serta membentengi dari negatif film dan memajukan film nasional. Sensor dilakukan dengan meneliti judul, tema judul, adegan, ucapan, gambar dan sebagainya termasuk klasifikasi umur.

“Klasifikasi umur yang dilakukan LSF untuk membantu masyarakat memilah, agar masyarakat pilih sesuai dengan klasifikasi usia. Jika untuk anak usia meniru dampaknya luar biasa, bisa berpengaruh pada perkembangannya,” kata dia.

Sementara itu, pada 2017 terdapat sekitar 46 ribu berkas yang masuk dengan bermacam-macam kontennya, misalnya film, sinetron, karya sinematografi dalam bentuk lain misalnya “Talk show”, hingga penyewaan dan penjualan “Compact disc”. Diharapkan, ke depan bisa lebih baik lagi.

Acara tersebut dihadiri berbagai pejabat dan tamu undangan lainnya dari berbagai instansi di Kota Blitar. Rencananya, setelah dari Blitar, kegiatan serupa akan diselenggarakan di beberapa daerah lainnya, seperti dikutip Antara. (dhs)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HIBURAN

Lomba Cipta Mars Sulsel Berhadiah Rp30 Juta

Published

on

Penanggung Jawab Lomba Cipta Lagu Mars Sulsel Irman Yasin Limpo

Indonesiaraya.co.id, Makassar – Lomba Cipta Lagu Mars Sulawesi Selatan (Sulsel) yang digelar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) menjanjikan hadiah total Rp30 juta.

“Kami memberikan apresiasi Rp30 juta bagi pemenang utama, dan masing-masing Rp3 juta bagi empat nominator, serta plakat dan piagam penghargaan bagi seluruh peserta,” kata Penanggung Jawab Lomba Cipta Lagu Mars Sulsel Irman Yasin Limpo di Makassar, Kamis (19/4/2018).

Selain itu, kata Irman yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sulsel ini, nama pemenang utama akan diabadikan dalam peraturan gubernur, dan memperoleh tempat dalam keprotokoleran pada peringatan Hari Jadi Sulsel.

“Pencipta lagu ini akan diundang setiap tahun pada peringatan Hari Jadi Sulsel sebagai tamu VVIP,” imbuhnya.

Sementara Kepala Bidang Seni dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sulsel Teken mengatakan perlombaan ini terbuka untuk umum atas nama perorangan, dan peserta adalah penduduk Sulawesi Selatan (KTP Sulsel).

Peserta sayembara, kata dia, nantinya harus menyerahkan satu karya Mars Sulsel dalam bentuk rekaman beserta salinan lirik dan lagunya baik melalui vcd/dvd atau dalam bentuk file elektronik lainnya,file scan KTP, riwayat hidup (format disediakan), dan pernyataan tentang keaslian karya bermaterai Rp6000 (format disediakan).

“Semuanya dikirimkan ke alamat Panitia Sayembara, di Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Sulsel,” imbuhnya.

Jangka waktu pengiriman karya, kata dia, tanggal 18 April sampai dengan 26 April 2018.

Adapun kriteria Mars Sulsel, jelasnya, diantaranya mencerminkan slogan dan visi Sulawesi Selatan, dengan mengedepankan kearifan lokal, mencerminkan budaya masyarakat Sulawesi Selatan, semangat kecintaan, semangat perjuangan, dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan.

“Mars tersebut mencerminkan aspek filosofis, historis, sosiologis, politis dan dinamika masyarakat Sulawesi Selatan, dan murni karya asli, bukan reproduksi, saduran, atau representasi dari karya cipta lagu lain yang pernah ada sebelumnya, baik secara syair maupun melodis,” tuturnya.

Lagu Mars Sulsel, lanjutnya, memuat 3 alinea, yang terdiri dari 2 alinea mars, dan 1 alinea cord dengan durasi lagu maksimal 3 menit, seperti dikutip Antara. (njp)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending