Connect with us

FINANSIAL

Dolar AS Melemah di Tengah Ketegangan Geopolitik

Published

on

Kurs dolar AS melemah pada akhir perdagangan Senin (16/4/2018) (Selasa pagi WIB).

Indonesiaraya.co.id, New York – Kurs dolar AS melemah pada akhir perdagangan Senin (16/4/2018) (Selasa pagi WIB), karena para investor terus memantau ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan udara pimpinan AS terhadap Suriah akhir pekan lalu.

Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,40 persen menjadi 89,439 pada akhir perdagangan.

Amerika Serikat, bersama dengan sekutunya Inggris dan Prancis, meluncurkan serangan rudal terhadap posisi militer Suriah pada Sabtu pagi (14/4/2018), menyebabkan kebingungan reaksi beragam di Timur Tengah.

Para analis mengatakan kekhawatiran meningkatnya konflik di Suriah berkurang setidaknya untuk saat ini, yang merupakan alasan mengapa para investor mengurangi kepemilikan “safe haven” dari greenback dan membeli aset-aset berisiko seperti saham.

Di bidang ekonomi, perkiraan awal penjualan ritel dan jasa makanan AS untuk Maret mencapai 494,6 miliar dolar AS, naik 0,6 persen dari bulan sebelumnya dan mengalahkan konsensus pasar, Departemen Perdagangan mengumumkan pada Senin (16/4/2018).

Sementara itu, aktivitas bisnis tumbuh pada kecepatan kuat di negara bagian New York, menurut perusahaan-perusahaan yang menanggapi Survei Manufaktur Empire State pada April 2018.

Indeks kondisi bisnis umum utama, di 15,8, tetap kuat di wilayah positif, meskipun mencatat penurunan tujuh poin dari level Maret, menunjukkan laju pertumbuhan yang agak lebih lambat.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,2377 dolar AS dari 1,2334 dolar AS di sesi sebelumnya, dan pound Inggris meningkat menjadi 1,4328 dolar AS dari 1,4243 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi 0,7778 dolar AS dari 0,7761 dolar AS.

Dolar AS dibeli 107,09 yen Jepang, lebih rendah dari 107,46 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9599 franc Swiss dari 0,9622 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2571 dolar Kanada dari 1,2614 dolar Kanada, demikian Xinhua, seperti dikutip Antara. (ape)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

FINANSIAL

Korporasi Diminta Perbanyak “Hedging” Cegah Kerugian Kurs

Published

on

Bank Indonesia meminta korporasi untuk meningkatkan rasio lindung nilai (hedging) terhadap transaksi dan kewajiban valasnya agar mencegah kerugian selisih kurs yang dapat menghambat ekspansi bisnis dunia usaha.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Bank Indonesia meminta korporasi untuk meningkatkan rasio lindung nilai (hedging) terhadap transaksi dan kewajiban valasnya agar mencegah kerugian selisih kurs yang dapat menghambat ekspansi bisnis dunia usaha.

Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah di Jakarta, Rabu (25/3/2018), mengatakan seharusnya korporasi, termasuk BUMN dapat memanfaatkan produk hedging yang sudah beragam dan lebih murah saat ini seperti call spread.

“Saat ini baru 13 korporasi yang memanfaatkan transaksi call-spread,” kata Nanang kepada Antara, tanpa menyebutkan entitas 13 korporasi tersebut.

Call spread merupakan jasa lindung nilai dari perbankan kepada korporasi yang memiliki liabilitas atau kewajiban valas agar terhindari dari kerugian yang disebabkan volatilitas kurs.

Biaya lindung nilai call spread diklaim lebih murah saat ini di kisaran 2,5 persen. Biaya tersebut lebih murah karena saat ini perbankan domestik sudah menyediakan fasilitas call spread.

Bank domestik yang sudah menyediakan call spread adalah Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, HSBC, Maybank Indonesia, Bank Standard Charterd, CIMB Niaga, Bank of Tokyo Mitsubishi, ANZ, dan UOB, ujar dia.

Dengan aktifnya korporasi melakukan lindung nilai juga, maka permintaan valas korporasi tidak akan membebani pasokan dan suplai valas di pasar, yang selama ini menjadi penyebab pelemahan nilai tukar rupiah.

BI meminta korporasi menjadikan risiko pasar atau risiko kurs menjadi bagian pengelolaan risiko korporasi yang berkelanjutan sehingga dapat lebih siap ketika tekanan ekonomi eksternal semakin kencang.

Apalagi saat ini, pasar keuangan global sedang menghadapi ketidakpastian tentang kenaikan suku bunga Bank Sentral Federal Reserve AS.

Ketidakpastian tersebut yang ditambah proyeksi perbaikan ekonomi AS, termasuk inflasi, telah mengerek naik imbal hasil obligasi pemerintah AS, US Treasury bertenor 10 tahun hingga mendekati tiga persen.

Dengan adanya dinamika perekonomian itu, tekanan terhadap kurs negara-negara di dunia, termasuk rupiah semakin kencang.

“Risiko fluktuasi harus dijaga korporasi tidak akan menggerus arus pendapatan karena fluktuasi harga pasar (market risk), sehingga bisa fokus ke pengembangan usaha,” ujar Nanang. (iap)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

FINANSIAL

Dolar AS Sedikit Melemah di tengah Meningkatnya Imbal Hasil Obligasi

Published

on

Kurs dolar AS sedikit melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB).

Terkininews.co.id, New York – Kurs dolar AS sedikit melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), ketika imbal hasil atau “yield” obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun mencapai tingkat psikologis penting 3,00 persen untuk pertama kalinya sejak 2014.

Indeks dolar AS mencapai tertinggi tiga bulan di 90,985 terhadap sekeranjang enam mata uang dalam perdagangan pagi, sementara kenaikan besar pada imbal hasil obligasi pemerintah AS sebagian besar terjadi pada Senin (23/4/2018).

Para analis mengatakan setelah naik selama lima hari berturut-turut, beberapa pedagang tidak diragukan lagi membukukan laba menjelang peristiwa fundamental penting minggu ini.

Di sisi ekonomi, penjualan rumah keluarga tunggal baru di AS pada Maret 2018 berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 694.000 unit, menurut perkiraan yang dirilis Selasa (24/4) oleh Departemen Perdagangan AS.

Angka tersebut 4,0 persen di atas tingkat Februari yang direvisi 667.000 unit dan 8,8 persen di atas perkiraan Maret 2017 sebesar 638.000 unit.

Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen dari Conference Board AS meningkat menjadi 128,7 pada April dari 127,0 pada Maret, lebih baik dari yang diperkirakan, menurut hasil survei oleh Nielsen, penyedia informasi dan analitik global terkemuka.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,20 persen menjadi 90,762 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,2237 dolar AS dari 1,2206 dolar AS di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,3972 dolar AS dari 1,3936 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia jatuh ke 0,7598 dolar AS dari 0,7603 dolar AS.

Dolar AS dibeli 108,69 yen Jepang, lebih tinggi dari 108,64 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9787 franc Swiss dari 0,9785 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2832 dolar Kanada dari 1,2848 dolar Kanada, seperti dikutip Antara. (ape)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

FINANSIAL

Bank Mandiri Proyeksi Dolar di Rp13.700-Rp13.900 Pada Kuartal II

Published

on

Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Bank dengan aset terbesar, PT Bank Mandiri Persero Tbk, memperkirakan Bank Indonesia akan melakukan intervensi di pasar keuangan hingga rupiah menguat di kisaran Rp13.700-Rp13.900 per dolar AS sepanjang kuartal II 2018.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo di Jakarta, Selasa (24/3/2018), menyarankan BI dalam jangka waktu menengah untuk menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate, guna mencegah banyak modal asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi.

“Jadi rasanya suku bunga The Fed naik akan terakselerasi. Indonesia jika tidak merespon, nanti ada selisih, nanti ada sell-off dan penjualan di ekuitas,” kata Tiko, sapaan akrab Kartika.

Setelah modal asing keluar dari pasar saham, kata Tiko, bukan tidak mungkin investor juga akan mengalihkan dananya dari pasar obligasi, karena selisih antara imbal hasil obligasi di negara-negara maju dan Indonesia menyempit.

Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi di AS juga meningkat yang akan memicu kenaikan inflasi sehingga imbal hasil yield obligasi pemerintah AS, Treasury Bill, juga terangkat. Per Selasa ini, yield Treasury Bill bertenor 10 tahun mencapai tiga persen.

Tiko memperkirakan BI akan melakukan intervensi besar-besaran pada akhir kuartal II 2018, ketika momentum kenaikan suku bunga Federal Reserve yang kedua kali semakin dekat.

Tekanan terhadap rupiah itu juga akan semakin berat saat itu, karena korporasi banyak yang membayar dividennya ke luar negeri sehingga permintaan valas melonjak.

“Maka itu, BI masih bisa memperkuat rupiah di Rp13.700-Rp13.900 per dolar AS,” ujarnya.

Rupiah pada Selasa ini menunjukkan penguatan di pasar spot, setelah sepanjang Jumat (21/4) dan Senin (24/4) terdepresiasi hingga menyentuh level paling parah sepanjang tahun di kisaran Rp13.900.

Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Selasa sore menguat sebesar 84 poin menjadi Rp13.878 dibandingkan posisi Selasa pagi.

Mengutip Kurs Jakarta Interbank Spot Dolar AS Refrence (Jisdor) yang diumumkan BI, pada Selasa ini, rupiah diperdagangkan di Rp13.900 dolar AS, melemah dibanding Senin (23/4) yang sebesar Rp13.894 dolar AS. (iap)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending