Connect with us

HIBURAN

Mengejar Cita-Cita Hingga “Terbang Menembus Langit”

Published

on

Film Terbang Menembus Langit.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – A Chun kecil ingin sekali bersekolah, ayah-ibunya mengabulkan permintaannya meski mereka hidup sangat sederhana dengan jumlah anak yang banyak.

Lulus SMA di Tarakan, Kalimantan Utara, tekad A Chun (Dion Wiyoko) untuk melanjutkan sekolah ke Surabaya semakin besar, namun, kakak-kakaknya tidak ada yang mengizinkan karena masalah biaya. Semangatnya kembali menyala setelah A Li (Baim Wong) memberi dukungan moral.

Berbekal semangat, A Chun memulai hidupnya di Surabaya.

Kisah nyata

Fajar Nugros, sang sutradara, menuangkan kisah hidup motivator Onggy Hianata dalam film “Terbang Menembus Langit”. Melihat judul dan adegan-adegan awal film, penonton pasti bisa membaca film ini berisi perjuangan meraih cita-cita.

Nugros memang ingin membuat film biopik, hampir seluruhnya peristiwa dalam film pernah dialami sendiri oleh Onggy.

“Semua kejadian di film betulan ada. Tapi, Nugros yang meramunya supaya bisa jadi film,” kata Onggy yang datang ke pemutaran film hari ini.

Jenis film biopik juga yang membuat Nugros memakai alur kronologis dalam bertutur cerita, kisah hidup A Chun, panggilan Onggy dalam film, dibuat runut mulai dari dia kecil hingga akhirnya hijrah ke kota besar.

Kegigihan A Chun tergambar jelas dalam film, bagaimana dia memulai bisnis demi bisnis meski pun hampir selalu gagal. Bagi yang tidak mengetahui sosok Onggy, penonton bisa saja mengira film ini menggambarkan jatuh-bangun calon pemilik perusahaan-perusahaan raksasa di Indonesia.

Layaknya kehidupan manusia, A Chun selalu menemukan tantangan yang menyulitkan hidupnya. Fajar kelihatannya ingin memotret bagaimana kesulitan-kesulitan A Chun dan bagaimana dia keluar dari situasi tersebut, namun, akibatnya penonton kesulitan menentukan mana konflik utama yang menjadi titik balik tokoh utama.

Penonton akhirnya menemukan pola bagaimana konflik dan resolusi di film ini sehingga beberapa adegan di tengah film terasa agak menjemukan.

Hal yang perlu diacungi jempol dalam film ini adalah bagaimana sang sutradara menampilkan kisah Onggy Hianata sedekat mungkin dengan kenyataan. Onggy terlahir dari keluarga etnis Tionghoa di Tarakan, orang tuanya tinggal di rumah panggung kayu bersama anak-anaknya.

Selain berhasil memoles para aktor dan aktris berpenampilan sesuai dengan kondisi ekonomi, Dion Wiyoko pun terlihat alami menjadi adik dari Delon Thamrin, Baim Wong dan Melissa Karim dalam film tersebut.

Sesekali keluarga itu menggunakan bahasa Mandarin, terutama ketika ayah A Chun memberinya petuah hidup. Onggy membenarkan orang-orang di daerahnya memang sering berkomunikasi dengan bahasa Mandarin, dia pun masih sempat mendapatkan pelajaran bahasa Mandarin di sekolah sebelum dilarang Orde Baru setelah 1965.

Nugros juga beberapa kali melawak ringan, yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti menyalakan pendingin udara tanpa memperhitungkan kapasitas listrik menjadi lelucon manis karena hampir setiap penonton mengalami masalah listrik yang mirip.

Baca juga: Perjuangan Dion Wiyoko dan Laura Basuki dalam “Terbang, Menembus Langit”

Satu hal yang menggelitik dalam film ini, anak-anak di Tarakan berpendapat bila ingin maju, harus pergi ke Pulau Jawa, kota Surabaya menjadi impian mereka untuk memperbaiki hidup.

Onggy membenarkan hal ini, pada zamannya, Surabaya menjadi tujuan para pemuda kampung halamannya mengadu nasib, bukan Jakarta.

“Dulu kami inginnya memang ke Surabaya, bukan Jakarta. Pertimbangannya karena lokasi lebih dekat. Teman-teman juga dulu banyak pergi ke sana, bukan Jakarta,” kata Onggy.

Agar tidak terjebak glorifikasi materi seperti dikutip Antara, Nugros memutuskan untuk tidak mengisahkan kehidupan A Chun begitu bisnisnya mulai menanjak. Film “Terbang Menembus Langit” akan tayang di bioskop mulai 19 April 201, seperti dikutip Antara. (nat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HIBURAN

Seniman Jateng Siap Meriahkan Batang Art Festival

Published

on

Teater Jateng.

Indonesiaraya.co.id, Batang – Ribuan seniman se-Jawa Tengah siap memeriahkan pergelaran Batang Art Festival (BAF) yang dilaksanakan di Kabupaten Batang, pada 21 hingga 25 April 2018.

Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Batang Tri Bakdho di Batang, Jumat (20/4/2018), mengatakan kegiatan Batang Art Festival tersebut digelar dalam rangkaian Hari Jadi Ke-52 Kabupaten Batang.

“Seribuan seniman dari berbagai daerah akan ikut tampil unjuk kebolehan kreatifitas seni dan budaya Indonesia. Yang akan kita tampilkan dari semua jenis kesenian mulai pameran lukisan, melukis bersama di Pantai Ujungnegoro, teater, baca puisi dari penyair se-Jawa Tengah,” katanya.

Pada kegiatan Batang Art Festival itu, kata dia, Bupati Batang Wihaji juga akan ikut tampil main seni drama khas Batang yaitu Babalu.

Ia mengatakan pada kegiatan itu, para seniman daerah juga akan melakukan diskusi untuk bersinergi membangun kesenian Jawa Tengah agar tidak kalah dengan provinsi lain.

“Kegiatan BAF 2018 ini kita mengambil tema `Metamorfosis` yang artinya melakukan sebuah perubahan yang pelan tetapi pasti dan mampu menggerakkan perekonomian atau memiliki sifat entrepreneur,” katanya.

Menurut dia, pada pembukaan BAF akan ditampilkan kesenian tari dari seniman Surakarta dengan tari “Tampak Kubah” kemudian dilanjutkan “Performance Art” berasal dari Subah Batang dan tari “Rojo Koyo” dari Sanggar Tari Budaya Kabupaten Batang.

“Karena Kabupaten Batang memiliki tiga kultur seni budaya yaitu pesisiran, urban tengah, dan seni pegunungan maka pada pergelaran BAF kita tampilkan dari tiga seni itu,” katanya, seperti dikutip Antara. (kut)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HIBURAN

LSF: Film Nasional Sudah Mulai Bervariasi

Published

on

Ketua LSF Ahmad Yani Basuki.

Indonesiaraya.co.id, Kediri – Lembaga Sensor Film Indonesia mengungkapkan film nasional saat ini sudah mulai bervariasi dengan munculnya beragam film yang mengangkat kearifan lokal di Indonesia.

“Yang membanggakan film Indonesia sudah mulai banyak dan pennton Indonesia mulai meningkat. Film Indonesia beberapa waktu lalu sampai 3 ribu saja susah, sekarang 4 ribu lebih, bahkan Dilan itu 5 juta sekian,” kata Ketua LSF Ahmad Yani Basuki saat di Blitar, Jawa Timur, Kamis (19/4/2018).

Ahmad yang ditemui dalam acara forum koordinasi di bidang penyensoran di sebuah hotel Kota Blitar mengatakan adanya sudah mulai bervariasinya film nasional atau film yang mengangkat budaya dan kearifan lokal ini terjadi selama dua tahun belakangan.

Ia mencontohkan, film nasional itu misalnya “Yo wis ben” yang digarap Bayu Skak dimana film ini menggunakan dialog bahasa Jawa, lalu film “Uang panai”, film Indonesia yang dibuat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang menceritakan tentang uang belanja untuk pengantin mempelai wanita dan ini tradisi adat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Film-film tersebut juga membawa kearifan lokal di masing-masing daerah, membawa marwah kebudayaan Indonesia banyak berkembang.

Kendati film itu dibuat dengan kearifan lokal di daerah, Ahmad menyebut masyarakat di daerah lain tentunya juga ingin menonton. Ia mencontohkan film “Yo wis ben” dengan logat kental bahasa Jatim, bukan hanya masyarakat Jatim yang menontonnya, tapi juga di daerah lain tertarik.

Ia juga mengingatkan, dalam melihat film harus dipahami secara utuh dan tidak bisa sepotong-potong. Hal itu untuk memastikan bahwa film itu layak untuk ditonton oleh masyarakat luas ataupun harus ada klasifikasi umur.

“Film itu harus dipahami sebagai karya seni budaya. Bangsa Indonesia punya kearifan lokal untuk melihat film itu. Lebih dari itu, kami putuskan ada klasifikasi, semua umur tidak mungkin. Jadi, di LSF selain sensor juga mengajari ke masyarakat bisa memahami film secara proporsional,” ujar dia.

Ia juga optimistis film Indonesia ke depan akan semakin beragam dan bagus. Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, sehingga ketika mengangakat film Indonesia juga serta merta mendorong lahirnya film yang bermuatan kearifan lokal budaya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat agar ikut berperan aktif untuk melakukan sensor, yaitu dengan sensor mandiri. Hal itu juga berdasarkan aturan bahwa setiap karya seni budaya punya kewajiban untuk sensor film. Setelah diputuskan tanda lulus, produk tersebut bisa disiarkan.

Ahmad menambahkan, film merupakan sebuah karya seni budaya yang berkaidah sinematografi, dipertunjukkan ke publik dan punya nilai strategis bagi kehidupan. Film juga sebagai media sosial yang berfungsi untuk membentuk karakter bangsa, pendidikan dan akhlak mulia.

Untuk itu, pihaknya hadir untuk menjaga serta membentengi dari negatif film dan memajukan film nasional. Sensor dilakukan dengan meneliti judul, tema judul, adegan, ucapan, gambar dan sebagainya termasuk klasifikasi umur.

“Klasifikasi umur yang dilakukan LSF untuk membantu masyarakat memilah, agar masyarakat pilih sesuai dengan klasifikasi usia. Jika untuk anak usia meniru dampaknya luar biasa, bisa berpengaruh pada perkembangannya,” kata dia.

Sementara itu, pada 2017 terdapat sekitar 46 ribu berkas yang masuk dengan bermacam-macam kontennya, misalnya film, sinetron, karya sinematografi dalam bentuk lain misalnya “Talk show”, hingga penyewaan dan penjualan “Compact disc”. Diharapkan, ke depan bisa lebih baik lagi.

Acara tersebut dihadiri berbagai pejabat dan tamu undangan lainnya dari berbagai instansi di Kota Blitar. Rencananya, setelah dari Blitar, kegiatan serupa akan diselenggarakan di beberapa daerah lainnya, seperti dikutip Antara. (dhs)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HIBURAN

Lomba Cipta Mars Sulsel Berhadiah Rp30 Juta

Published

on

Penanggung Jawab Lomba Cipta Lagu Mars Sulsel Irman Yasin Limpo

Indonesiaraya.co.id, Makassar – Lomba Cipta Lagu Mars Sulawesi Selatan (Sulsel) yang digelar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) menjanjikan hadiah total Rp30 juta.

“Kami memberikan apresiasi Rp30 juta bagi pemenang utama, dan masing-masing Rp3 juta bagi empat nominator, serta plakat dan piagam penghargaan bagi seluruh peserta,” kata Penanggung Jawab Lomba Cipta Lagu Mars Sulsel Irman Yasin Limpo di Makassar, Kamis (19/4/2018).

Selain itu, kata Irman yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sulsel ini, nama pemenang utama akan diabadikan dalam peraturan gubernur, dan memperoleh tempat dalam keprotokoleran pada peringatan Hari Jadi Sulsel.

“Pencipta lagu ini akan diundang setiap tahun pada peringatan Hari Jadi Sulsel sebagai tamu VVIP,” imbuhnya.

Sementara Kepala Bidang Seni dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sulsel Teken mengatakan perlombaan ini terbuka untuk umum atas nama perorangan, dan peserta adalah penduduk Sulawesi Selatan (KTP Sulsel).

Peserta sayembara, kata dia, nantinya harus menyerahkan satu karya Mars Sulsel dalam bentuk rekaman beserta salinan lirik dan lagunya baik melalui vcd/dvd atau dalam bentuk file elektronik lainnya,file scan KTP, riwayat hidup (format disediakan), dan pernyataan tentang keaslian karya bermaterai Rp6000 (format disediakan).

“Semuanya dikirimkan ke alamat Panitia Sayembara, di Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Sulsel,” imbuhnya.

Jangka waktu pengiriman karya, kata dia, tanggal 18 April sampai dengan 26 April 2018.

Adapun kriteria Mars Sulsel, jelasnya, diantaranya mencerminkan slogan dan visi Sulawesi Selatan, dengan mengedepankan kearifan lokal, mencerminkan budaya masyarakat Sulawesi Selatan, semangat kecintaan, semangat perjuangan, dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan.

“Mars tersebut mencerminkan aspek filosofis, historis, sosiologis, politis dan dinamika masyarakat Sulawesi Selatan, dan murni karya asli, bukan reproduksi, saduran, atau representasi dari karya cipta lagu lain yang pernah ada sebelumnya, baik secara syair maupun melodis,” tuturnya.

Lagu Mars Sulsel, lanjutnya, memuat 3 alinea, yang terdiri dari 2 alinea mars, dan 1 alinea cord dengan durasi lagu maksimal 3 menit, seperti dikutip Antara. (njp)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending