Connect with us

DIGITAL

Facebook Ungkap Muatan dengan Gambar Kekerasan Meningkat Awal 2018

Published

on

Jumlah kiriman di Facebook menunjukkan gambar kekerasan meningkat dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Indonesiaraya.co.id, Menlo Park, Kalifornia – Jumlah kiriman di Facebook menunjukkan gambar kekerasan meningkat dalam tiga bulan pertama tahun ini dari seperempat sebelumnya, kemungkinan didorong perang Suriah, kata jaringan pergaulan maya itu, Selasa (15/5/2018) dalam siaran umum pertama dari data itu.

Facebook mengatakan dalam laporan tertulis, dari setiap 10.000 muatan, yang dilihat pada catur wulan pertama, sekitar 22 hingga 27 berisi gambar kekerasan, naik dari perkiraan 16 hingga 19 pada akhir tahun lalu.

Perusahaan itu menghapus atau memasang layar peringatan untuk gambar kekerasan di depan 3,4 juta muatan pada catur wulan pertama, hampir tiga kali lipat dari 1,2 juta pada catur wulan sebelumnya, kata laporan tersebut.

Facebook tidak sepenuhnya mengetahui mengapa orang mengirimkan banyak gambar kekerasan, tetapi percaya bahwa pertempuran di Suriah kemungkinan menjadi salah satu alasan, kata Alex Schultz, wakil ketua pengulasan data Facebook.

“Setiap kali perang dimulai, ada lonjakan besar dalam kekerasan grafis,” kata Schultz kepada wartawan di markas besar Facebook.

Perang sipil Suriah meletus pada 2011. Hal itu berlanjut tahun ini dengan pertempuran antara pemberontak dan tentara Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Bulan ini, Israel menyerang infrastruktur militer Iran di Suriah.

Facebook, perusahaan media sosial terbesar di dunia, belum pernah merilis data rinci tentang jenis kiriman yang diambil alih karena melanggar aturannya.

Facebook baru-baru ini mengembangkan metrik sebagai cara untuk mengukur kemajuannya, dan mungkin akan mengubahnya seiring waktu, kata Guy Rosen, wakil presiden manajemen produk.

“Jenis metrik ini dapat membantu tim kami memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dua miliar orang lebih,” katanya.

Perusahaan memiliki kebijakan untuk menghapus konten yang mengglorifikasi penderitaan orang lain. Secara umum, pihaknya akan meninggalkan layar peringatan pada kekerasan grafik jika dikirimkan untuk tujuan lain.

Facebook juga melarang ujaran kebencian dan mengatakan pihaknya mengambil tindakan terhadap 2,5 juta buah konten pada kuartal pertama, naik 56 persen seperempat sebelumnya. Pihaknya mengatakan kenaikan itu disebabkan perbaikan dalam pendeteksian.

Perusahaan itu mengatakan, pada catur wulan pertama, mereka menindak 837 juta muatan spam, 21 juta ketelanjangan dewasa atau kegiatan seksual serta 1,9 juta untuk mempromosikan terorisme. Facebook mengatakan menghapus 583 juta akun palsu, seperti dikutip Antara. (ant)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DIGITAL

Alasan Tidak Boleh Sembarangan Screencapture Percakapan

Published

on

tangkapan layar cuitan Kanye West di media sosial.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Perlindungan informasi pribadi sudah diatur dalam Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, atau UU ITE, antara lain termuat dalam pasal 26.

Pasal tersebut mengatur “penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan.”

Baru-baru ini beredar informasi yang mengingatkan masyarakat bahwa mengambil tangkapan layar, screencapture, percakapan di grup WhatsApp tidak boleh dilakukan kecuali seizin orang yang namanya berada di tangkapan layar tersebut.

Salah seorang pegiat media sosial, Enda Nasution, berpendapat etika tersebut berlaku dalam percakapan bersifat pribadi, yang terjadi diantara dua orang. Percakapan tersebut biasanya memuat nama atau nomor telepon lawan bicara.

“Itu merupakan ruang pribadi, tanpa izin dari salah satunya, pihak yang lain tidak punya hak untuk screencapture lalu menyebarkan,” kata Enda saat dihubungi ANTARA, Jumat (13/7/2018).

Tapi, ketika masuk ke grup percakapan, batasan antara ruang pribadi dengan ruang publik belum jelas, dikatakan Enda, belum ada kesepakatan untuk menyatakan berapa banyak orang dalam sebuah grup untuk menyebut percakapan tersebut masuk ke ruang pribadi atau ruang publik.

“Kalau grup berisi lebih dari 100 orang, misalnya, tidak bisa dibilang pribadi,” kata dia.

Hal demikian juga berlaku untuk akun media sosial yang dikunci, sebaiknya tidak mengambil tangkapan layar terhadap konten dari akun tersebut kemudian menyebarkannya tanpa izin.

Namun, Enda mengingatkan wilayah media sosial ini juga tergolong abu-abu untuk batasan pribadi dengan publik, misalnya jika seseorang memiliki akun media sosial dengan pengikut 100 orang, dia memiliki konsekuensi apa yang dibagikannya akan dilihat oleh orang-orang tersebut.

“Dia punya potensi untuk dilihat oleh pengikut-nya,” kata Enda.

Enda memberikan saran agar pengguna media sosial bijak menentukan mana hal yang bisa diketahui umum, mana yang tidak.

“Kalau memang informasi itu tidak ingin diketahui (orang lain), sebaiknya jangan diunggah,” kata dia, seperti dikutip Antara. (nat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DIGITAL

ZTE dan AS Capai Kesepakatan untuk Cabut Larangan

Published

on

ZTE dilarang untuk berdagang dengan produsen komponen AS karena melanggar embargo perdagangan antara AS dan Iran.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta  – Pertempuran antara produsen peralatan telekomunikasi dan pembuat smartphone asal China ZTE dan Departemen Perdagangan Amerika Serikat hampir berakhir.

Setelah melewati banyak penangguhan, denda dan larangan perdagangan, Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa kesepakatan segera diselesaikan.

Kesepakatan itu akan membuat ZTE membayar 400 juta dolar AS, dan sebagai gantinya ZTE akan menerima pemberitahuan pencabutan larangan.

ZTE dilarang untuk berdagang dengan produsen komponen AS karena melanggar embargo perdagangan antara AS dan Iran. ZTE mengimpor antena frekuensi tinggi dengan chip AS di dalamnya. AS menemukan bahwa ZTE dengan sengaja mengabaikan embargo dan melanjutkan kesepakatan dengan Iran.

Awalnya, ZTE didenda 800 juta dolar AS dengan denda penangguhan 300 juta dolar AS, namun kemudian AS mengharuskan ZTE untuk merombah dewan redaksi. ZTE tidak menindaklanjuti permintaan tersebut, dan kasus ini menemui jalan buntu. ZTE akhirnya menyerah pekan lalu, dengan memenuhi permintaan tersebut.

Ketika ZTE kembali berdagang dengan pabrikan AS, diharapkan smartphone Z18 atau Axon 9 dan Axon 9 Pro yang telah mengantongi merek dagang awal tahun ini dapat segera dirilis, demikian dilansir dari GSM Arena, seperti dikutip Antara. (ari)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DIGITAL

Facebook Messenger akan Bisa Mengenali Akun Mencurigakan

Published

on

Facebook Messenger ini juga mampu melihat apakah peretas menggunakan nomor berbeda dengan asal negara dan menggunakan akun lama untuk menutupi jejak.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Facebook sedang menguji coba fitur di Messenger yang akan memberikan informasi mengenai pesan langsung, direct messanges, dari akun yang tidak ada di daftar kontak atau pertemanan.

“Kami mengetes cara untuk memberikan pengguna agar tahu orang-orang yang tidak pernah terhubung dengan mereka sebelumnya,” kata salah seorang tim Facebook Messenger, Dalya Browne, dikutip dari laman Motherboard.

BACA JUGA : Facebook Tes Iklan AR di Amerika

Seorang ahli multimedia bernama Erin Gallagher, memberikan gambar pada laman tersebut berupa peringatan dari Messenger, berupa informasi bahwa orang yang mengirim pesan menggunakan nomor dari Rusia, akun baru dibuat dan bahwa pengguna berbeda dengan nama teman Facebook yang memiliki nama serupa.

Fitur baru ini akan membantu pengguna Facebook untuk mengenali akun yang berinteraksi dengan mereka asli atau palsu karena mampu mendeteksi nomor yang digunakan.

Kemampuan baru Facebook Messenger ini juga mampu melihat apakah peretas menggunakan nomor berbeda dengan asal negara dan menggunakan akun lama untuk menutupi jejak mereka, seperti dikutip Antara.(nat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending