Connect with us

KULINER

Enam Tempat Wisata Kuliner Andalan Jogja

Published

on

Sambal gobal-gabul.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Jika Anda doyan makan, Jogja merupakan tujuan yang tepat untuk berburu beragam makanan khas nusantara. Ya, sebab Kota Pelajar ini tak melulu identik dengan masakan Jawa yang manis dan legit. Karena banyaknya pendatang yang merantau di Jogja dari seluruh Indonesia, makanan yang tersaji di sini pun beragam. Inilah yang membuat kota ini kaya cita rasa. 

Siapkan perut Anda untuk menjajal 6 tempat wisata kuliner andalan Jogja berikut ini!

Siapa bilang orang Jogja tidak doyan pedas? Waroeng Spesial Sambal (SS) ini membuktikannya. Berawal dari warung kaki lima di sisi barat Grha Sabha Pramana UGM, kini Waroeng SS punya lebih dari 55 cabang di seluruh Indonesia.

Boleh dibilang, siapa pun yang pernah di Jogja pasti pernah mencicipi sambal gobal-gabul nan dahsyat itu. Aneka pilihan lauk ditemani bermacam-macam sambal adalah perpaduan rasa yang sulit untuk dilupakan. 

1. Sego Pecel (SGPC) Bu Wiryo

Jangan kaget jika Anda ingin menyantap nasi pecel yang berlokasi di sekitar Kampus UGM ini. Porsinya cukup besar dan mengenyangkan bagi Anda yang biasa makan irit. Sayuran rebus yang dikucuri bumbu pecel memenuhi piring. Tambahkan dengan lauk favorit, mulai dari telur ceplok hingga aneka gorengan. Tidak akrab dengan nasi pecel? Ada sup daging yang bisa menjadi alternatif.

2. Gudeg Wijilan Bu Lies

Jalan Wijilan di kawasan Kraton adalah sentra kuliner gudeg. Salah satu yang sering diincar para wisatawan adalah Gudeg Bu Lies. Bagi Anda yang tidak terlalu suka rasa manis, gudeg ini pas di lidah.  Rasa manis yang samar tertutupi gurihnya kuah dan pedasnya sambal krecek. Ingin menjadikannya sebagai oleh-oleh? Penjual akan membungkus gudeg sedemikian rupa, sehingga aman selama perjalanan dan dapat dinikmati tanpa ada perubahan rasa. 

3. Bungong Jeumpa

Restoran ini menyediakan beragam kuliner Aceh yang dominan rasa rempahnya. Anda bisa menemukan mi goreng, nasi goreng, roti cane, hingga ayam goreng khas Aceh dengan rasa cukup autentik. Tak perlu jauh-jauh ke Aceh jika ingin mencoba makanan khas provinsi paling ujung Indonesia ini. Di Jogja sendiri, restoran ini punya beberapa cabang yang bisa Anda kunjungi, salah satunya di Jl. R.W. Monginsidi. 

4. Ayam Geprek Bu Rum

Para mahasiswa yang indekos di sekitar Demangan Baru pasti familier dengan menu ini. Terletak di daerah Papringan, Ayam Geprek Bu Rum sudah memadukan ayam goreng tepung dengan sambal super pedas sejak lama, jauh sebelum ayam geprek kekinian populer. Pilihan sayur pendamping pun beragam, salah satu yang paling pas adalah oseng labu siam. Rasanya pedas mantap, cocok dimakan dengan nasi hangat.

5. KindaiSate (Garnesia.com)

Ingin menikmati nasi kuning asli Banjar? Kindai adalah pilihan yang tepat. Di sini Anda dapat melahap nasi kuning dengan ayam, telur, atau sambal goreng hati, serta soto banjar. Harga bersahabat sudah pasti, karena Kindai juga merupakan tempat sarapan favorit mahasiswa. Rasa gurih dan sedikit pedas bisa mengobati rindu Anda pada masakan Tanah Borneo ini. 

Untuk menikmati tempat wisata kuliner di atas, Anda perlu mencari hotel di Jogja dengan mengakses Airy Rooms dari gadget Anda. Tersedia beragam kamar yang tergabung dalam jaringan hotel terbesar di Indonesia, dengan fasilitas lengkap terstandar di setiap kamar. Tujuh fasilitas andalannya adalah perlengkapan mandi, tempat tidur bersih, AC, shower air hangat, air minum gratis, WiFi gratis, dan TV layar datar.

Ketujuh fasilitas tersebut bisa Anda peroleh dengan harga bersahabat. Dengan beberapa langkah saja, Anda dapat melakukan pembayaran via kartu kredit atau transfer bank. Kemudahan yang ditawarkan oleh Airy Rooms ini pastinya memudahkan Anda mengatur pengeluaran antara berwisata kuliner dan akomodasi. Yuk menginap di Jogja sekarang untuk berburu kuliner nikmat! (nan)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KULINER

Lanzhou, Surga Kuliner Halal di China

Published

on

Kota Lanzhou, Identitasnya sebagai kota kuliner halal di China.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Lapak-lapak pedagang di Pasar Malam Zhengning menunjukkan karakter Kota Lanzhou. Identitasnya sebagai kota kuliner halal terlihat dari makanan tradisional hingga masakan berbahan dasar daging sapi dan kambing sajian para pedagang yang memenuhi separuh badan Jalan Zhengning di Ibu Kota Provinsi Gansu itu.

Berbeda dengan restoran atau rumah makan halal lainnya di daratan Tiongkok, para pedagang di Kota Lanzhou tidak perlu mengumumkan label Qing Zhen atau halal di sana.

“Dari pakaian penjualnya saya sudah tahu kalau makanan mereka qing zhen,” kata Liu Chun dari Kantor Berita Xinhua Biro Lanzhou yang pada Jumat (6/7/2018) menemani Antara menyusuri Pasar Malam Zhengning, yang kebanyakan pedagangnya mengenakan pakaian putih dan kopiah haji dan sebagian pramusajinya perempuan-perempuan berkerudung.

Meski bukan seorang muslim, Liu sangat menyukai makanan yang dijual di pasar malam salah satu kota tertua di daratan Tiongkok itu.

“Sate, kebab, mi, bubur, dan hampir semua yang dijual di sini saya suka,” tutur pria itu sambil menyeruput sup ayam dari mangkuk kecil.

Selain murah dan banyak pilihan, makanan halal dimasak dan diproses lebih higienis, membuat orang-orang rela berjubel menyusuri Jalan Zhengning yang sempit itu hingga larut malam.

Pasar Malam Zhengning juga menjadi tujuan wajib kunjung wisatawan atau siapa pun yang sempat menyinggahi Kota Lanzhou.

Di sana, para pembeli biasanya memesan dulu jenis makanan yang diinginkannya di lapak-lapak yang ditunggui para pedagang pria berkopiah putih.

Setelah dibayar, tunai atau dengan memindai barkode Alipay atau WeChat di etalase pedagang, pembeli bisa memilih tempat duduk yang berderet di belakang lapak, tapi harus bersabar sampai kursi benar-benar kosong ditinggalkan oleh pembeli lainnya.

Pengunjung juga bisa langsung menuju restoran, kemudian memesan makanan kepada penjual di lapak melalui pelayan. Itu pun harus mengantre sampai ada kursi kosong di restoran tersebut.

“Pasar ini tidak pernah sepi. Hampir setiap malam situasinya ya begini,” kata Liu, yang lega mendapatkan kursi di salah satu restoran setelah mengantre setengah jam lebih.

Sampai malam larut pun, aroma daging kambing bakar masih tercium, dan suara alat-alat masak yang beradu masih terdengar.

Sejuta Mangkuk Mi

Kota Lanzhou, yang berjarak sekitar 1.490 kilometer di sebelah barat Beijing, memiliki karakter berbeda dengan kota-kota besar lainnya di China.

Selain punya Sungai Kuning (Huang He), sungai terpanjang kedua di Asia dan keenam di dunia dan pegunungan pelangi yang gambarnya sempat viral di media sosial Indonesia, serta berstatus sebagai salah satu pusat industri nuklir China, kota berpenduduk sekitar enam juta jiwa itu memiliki suguhan istimewa lain: makanan Qing Zhen.

Di daratan Tiongkok, Lanzhou diidentikkan dengan nama restoran atau rumah makan halal. Makanan halal juga tersedia dalam pesawat yang menuju Lanzhou.

Di bandingkan dengan kota-kota lain di China, peradaban di Lanzhou jauh lebih tua.

“Lanzhou mungkin sudah ada sejak 6.000 atau 8.000 tahun yang lalu, sedangkan Xi`an (Ibu Kota Provinsi Shaanxi) baru 3.000 tahun. Apalagi Beijing baru 500 tahun, demikian halnya dengan Shanghai yang masih 100 tahun,” kata Direktur Informasi Publik Pemerintah Kota Lanzhou Su Yong.

Namun Su, yang juga Direktur Komunikasi Internasional Partai Komunis China cabang setempat, tidak bisa menjelaskan korelasi antara Lanzhou sebagai kota tertua dengan kuliner halal yang melekat sebagai identitas kota itu.

Diorama di Museum Peninggalan Tak Benda Kota Lanzhou, yang menyingkap asal muasal kuliner halal di kota itu, juga tidak banyak menyuguhkan informasi mengenai Ma Bao Zi sang pembuat mi. Dari tangan terampil Ma lah mi daging sapi (niurou mian) yang kini terkenal hingga mancanegara itu berawal.

Mi kuah bening dengan irisan daging sapi dan lobak itu disuguhkan dalam mangkuk besar atau dua kali porsi mi ayam yang dijual di Indonesia.

Niorou mian, yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang muslim asal Kota Lanzhou pada 1902, menandai kebangkitan ekonomi kaum beretnis Hui, terutama melalui usaha kuliner halal.

“Dalam sehari terjual lebih dari sejuta mangkuk niurou mian, baik untuk makan pagi, siang, atau pun malam,” kata Su, lalu menyebutkan bahwa ada 3.000 unit warung, restoran, atau rumah makan yang menjual mi tradisional di kota itu.

Tidak terhitung jumlah tenaga terampil di Lanzhou yang pandai membuat mi yang ditarik-ulur menggunakan tangan saja. Niurou mian, yang proses pembuatannya dapat dilihat langsung oleh pembeli, sekarang juga sudah merambah 40 negara.

“Seharusnya di Indonesia sudah ada niurou mian. Kalau ada yang mau buka (restoran) di sana, kami siap membantu,” kata Wali Kota Lanzhou Zhang Wei Wen saat menyantap niurou mian bersama Antara di salah satu restoran yang asri di tepi Sungai Kuning, seperti dikutip Antara. (mil)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

KULINER

Pria Amerika Lahap 74 Hotdog dalam 10 Menit

Published

on

Hot dog, adalah salah satu jajanan khas Amerika.

Indonesiaraya.co.id, New York – Seorang pria Amerika yang berusia 34 tahun mencetak rekor baru dunia pada Rabu (4/7/2018) dengan melahap habis 74 hotdog dalam 10 menit dalam kontes tahunan makan hotdog di New York.

Joey Chestnut, pemenang 10-kali dari San Jose, Negara Bagian California, AS, memecah rekor tahun lalu atas namanya sendiri sebanyak 72 hotdog dan kue kismis di acara Nathan`s Famous Hot Dog Eating Contest di Coney Island.

Namun kemenangan Chestnut dari Mustard Belt dalam kompetisi untuk kelompok pria ditandai dengan kontroversi ketika para juri mengira ia makan 64 hotdog, demikian laporan Xinhua. Tapi kajian memperlihatkan penghitung luput satu piring dan penghitungan terakhir diubah jadi 74.

Posisi kedua dengan selisih cukup banyak ditempati oleh Carmen Cincotti, yang menghabiskan 45 hotdog dan kue kismis.

Dalam kompesisi kategori perempuan, Miki Sudo (32) mempertahankan gelarnya, tahun kelima berturut-turut, dengan menghabiskan 37 hotdog dan kue kismis. Namun, ia memakan 41 hotdog pada 2017.

Chestnut dan Sudo akan membawa pulang hadiah juara pertama sebesar 10.000 dolar AS, seperti dikutip Antara. (cha)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

JAWA BARAT

Bubur Ayam Lapangan “Bu Nani” Masuk Istana

Published

on

Bubur Ayam Lapangan, di Jalan Raya Hanjawar, Cipanas, Jawa Barat.

Indonesiaraya.co.id, Bogor  – Nani Sri Mulyani penjual Bubur Ayam Lapangan yang biasa mangkal di Jalan Raya Hanjawar, Cipanas, Jawa Barat, memang sudah langganan “masuk” Istana tapi tetap saja ia kaget saat dihubungi Staf Istana untuk datang dan menyajikan bubur istimewa untuk para tamu istana.

“Saya ditelepon Pak Wawan (Staf Istana) tadi malam jam 22.00 WIB. Saya kaget dan langsung siapkan 100 mangkok untuk pagi ini di Istana Bogor,” kata Nani Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (5/7/2018).

Ia bersama adik iparnya Cucu berangkat dari Cipanas pagi-pagi buta membawa serta gerobak buburnya untuk melayani para tamu Istana.

Kamis pagi (5/7/2018) Presiden dijadwalkan untuk melakukan audiensi dengan para bupati.

“Ini sebenarnya kesiangan, kalau biasanya saya jam setengah enam sudah siap di sini,” katanya.

Kehadiran gerobaknya tampak kontras di teras Istana Bogor, namun aroma bubur ayam dan makanan pendampingnya sangat menggoda selera.

Nani yang sudah berjualan bubur ayam sejak 24 tahun silam itu memang menjadi langganan Istana sejak Presiden Megawati Soekarnoputri.

“Kalau Bu Mega dulu sukanya bubur komplit, semua ayamnya pakai, sama juga dengan almarhum Pak Taufik Kiemas, dan juga Mba Puan,” katanya.

Nani yang biasa mangkal di dekat Istana Cipanas kemudian berlanjut menjadi langganan Presiden SBY dan keluarga hingga kemudian jualannya dikenal sebagai Bubur Ayam SBY.

Ia sendiri sampai hapal favorit masing-masing keluarga SBY.

“Kalau Pak SBY tidak suka pakai seledri, Mas Ibas sama seperti bapaknya tidak suka seledri. Kalau Mas Agus tidak suka pakai kacang,” katanya.

Sedangkan, Anni Yudhoyono kata Nani, lebih suka jika bubur disajikan langsung oleh penjualnya dengan porsi bubur yang sedikit dan sayur yang banyak.

Saat masa Presiden SBY, Nani bahkan hampir pasti diundang ke Istana setiap ada acara hingga hampir pasti dalam sebulan ada undangan untuk melayani tamu istana.

“Kalau Pak Jokowi belum pernah, ini baru, saya bawa juga ada pepes usus, sate ampela, sate ati, dan risoles labu siam wortel,” katanya.

Sehari-hari, Nani biasa membuka warung buburnya di Jalan Raya Hanjawar Cipanas di seberang Brasco atau berdekatan dengan Istana Cipanas. 

Bubur ayamnya seharga Rp15.000 permangkok dan dalam sehari ia bisa menjual lebih dari 100 mangkok.

Selain bubur ayam, ia juga menyediakan soto ayam, soto daging, soto kikil, soto babat, lontong sayur, dan nasi uduk dengan dibantu kerabatnya, seperti dikutip Antara.(han)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending