Connect with us

PAPUA

Ada dua Cendrawasih Endemik Raja Ampat

Published

on

Cenderawasih merah dengan nama latinnya Paradisaea Rubra.

Indonesiaraya.co.id, Waisai – Koordinator Keanegaragaman Hayati dan Pengembangan Masyarakat Fauna dan Flora International-Indonesia Programme (FFI-IP) Raja Ampat Maurits Kafiar mengatakan bahwa di Kepulauan Raja Ampat terdapat dua jenis burung cenderawasih yang tidak ada di daerah lain di Indonesia.

“Dua jenis cenderawasih endemik Raja Ampat tersebut, yakni cenderawasih merah dengan nama latinnya Paradisaea rubra dan cenderawasih botak (Respublica diphyllodes),” katanya, di Waisai, Minggu (15/4/2018).

Menurut dia, kedua burung cenderawasih endemik tersebut hanya dapat dijumpai di daratan besar Pulau Waigeo dan Pulau Batanta, Kabupaten Raja Ampat.

Kedua jenis cenderawasih tersebut, kata dia, hanya ada di Raja Ampat dan tidak ditemukan di daerah lain dan sangat digemari wisatawan asing pencinta burung.

Ia menyampaikan, cenderawasih di Raja Ampat ada delapan jenis yakni cenderawasih merah atau dengan nama latin paradisaea rubra, cenderawasih botak (respublica diphyllodes), dan cenderawasih kecil (paradisaea minor).

Kemudian, cenderawasih bela rotan (Diphyllodes magnificus), cenderawasih raja (Cicinnurus regius), cenderawasi mati kawat (Seleucidis melanoleuca), manokodia leher keriting, dan manokodia kilap.

Enam jenis cenderawasih Raja Ampat terdapat di daerah Papua lainnya hanya cenderawasih merah dan cenderawasih botak yang tidak ditemukan di daerah lain di Papua.

Dikatakannya, daerah Raja Ampat yang selama ini ramai dikunjungi wisatawan pencinta burung adalah daratan besar Pulau Waigeo sebab burung cenderawasih terlebih khusus cenderawasih merah di daerah tersebut mudah dijumpai.

Populasi burung cenderawasih di daratan besar Pulau Waigeo setiap tahun bertambah, terlihat di daerah Sapokren tempat wisatawan melihat burung cenderawasih pada tahun 2015 terdapat 24 titik tempat bermain cenderawasih meningkat menjadi 45 titik tahun 2017.

Peningkatan populasi tersebut, katanya, berkat kesadaran dan komitmen masyarakat setempat menjaga kelestarian hutan dan tidak melakukan perburuan liar terhadap cenderawasih.

“Saya berharap kesadaran masyarakat Raja Ampat untuk menjaga dan melindungi burung cenderawasih terus dipertahankan, agar cenderawasih tidak punah dan tetap menjadi potensi pariwisata berkelanjutan bagi generasi di masa yang akan datang,” ujar Maurits yang juga pemandu wisata burung Himpunan Pramuwisata Indonesia Kabupaten Raja Ampat itu, seperti dikutip. (ebr)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PAPUA

DVI Identifikasi Empat Jenazah Korban Pesawat Jatuh

Published

on

TIm DVI telah merampungkan identifikasi empat dari delapan jenazah yang menjadi korban jatuhnya pesawat Pilatus PC-6 Porter milik Dimonim Air dengan kode penerbangan PK HVQ, pada Sabtu (11/8/2018).

Apakabarnews.com, Jayapura – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidokkes Polda Papua telah merampungkan identifikasi empat dari delapan jenazah yang menjadi korban jatuhnya pesawat Pilatus PC-6 Porter milik Dimonim Air dengan kode penerbangan PK HVQ, pada Sabtu (11/8/2018).

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Papua Kombes Pol dr Ramon, di Jayapura, Selasa (14/8/2018) mengatakan empat jenazah sudah diidentifikasi dan siap diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan.

BACA JUGA : DVI Telah Identifikasi Empat Jenazah Korban Pesawat Jatuh

Penyerahan empat jenazah tersebut dijadwalkan Selasa (14/8/2018) siang di halaman Bidang Dokkes Polda Papua di Kotaraja, Kota Jayapura.

Sementara ini, pihaknya masih menunggu sanak keluarga dari keempat jenazah itu yang hingga kini belum tiba di RS Bhayangkara Bidang Dokkes Polda Papua.

“Kami masih menunggu keluarga inti untuk menyocokkan data terakhir sebelum diserahkan ke keluarga,” kata Kombes Ramon.

Empat jenazah yang sudah diidentifikasi itu yakni Martina Uropmabin, I Wayan Sugiarta (kopilot), Jamaludin dan Sefuve Leslie William (pilot berkebangsaan Papua Nugini) .

Sedangkan empat jenazah lainnya yakni yang belum diserahkan karena masih menunggu pencocokan data dari keluarga yaitu Sudir Zakana, Hendrikus Kamiw, Lidia Kamiw,dan Naimus,s eperti dikutip Antara. (eva)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

PAPUA

DVI Telah Identifikasi Empat Jenazah Korban Pesawat Jatuh

Published

on

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidokkes Polda Papua telah merampungkan identifikasi empat dari delapan jenazah yang menjadi korban jatuhnya pesawat Pilatus PC-6 Porter.

Indonesiaraya.co.id, Jayapura – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidokkes Polda Papua telah merampungkan identifikasi empat dari delapan jenazah yang menjadi korban jatuhnya pesawat Pilatus PC-6 Porter milik Dimonim Air dengan kode penerbangan PK HVQ, pada Sabtu (11/8/2018).

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Papua Kombes Pol dr Ramon kepada Antara, di Jayapura, Selasa (14/8/2018), mengatakan empat jenazah sudah diidentifikasi dan siap diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan.

Penyerahan empat jenazah tersebut dijadwalkan Selasa (14/8/2018) siang di halaman Bidang Dokkes Polda Papua di Kotaraja, Kota Jayapura.

Sementara ini, pihaknya masih menunggu sanak keluarga dari keempat jenazah itu yang hingga kini belum tiba di RS Bhayangkara Bidang Dokkes Polda Papua.

“Kami masih menunggu keluarga inti untuk menyocokkan data terakhir sebelum diserahkan ke keluarga,” kata Kombes Ramon.

Empat jenazah yang sudah diidentifikasi itu yakni Martina Uropmabin, I Wayan Sugiarta (kopilot), Jamaludin dan Sefuve Leslie William (pilot berkebangsaan Papua Nugini) .

Sedangkan empat jenazah lainnya yakni yang belum diserahkan karena masih menunggu pencocokan data dari keluarga yaitu Sudir Zakana, Hendrikus Kamiw, Lidia Kamiw, dan Naimus, seperti dikutip Antara. (var)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

PAPUA

Penjelasan Pilot Soal Cuaca Pegunungan Papua

Published

on

Menurut Stanislaos Kasta Gunawan Yustantino, Kondisi cuaca umumnya di wilayah pegunungan Papua tidak bisa ditebak.

Indonesiaraya.co.id, Jayapura – Stanislaos Kasta Gunawan Yustantino, salah satu pilot pesawat Twinoter milik Dimonim mengaku cuaca di wilayah pegunungan Papua secara umum susah ditebak.

Stanislaos mengemukakan hal itu kepada Antara di Jayapura, Senin (13/8/2018), ketika ditanya terkait Pesawat pilatus dengan nomor penerbangan PK-HVQ milik Dimonim Air diketahui jatuh di Gunung Manuk pada Sabtu (11/8).

Menurut dia, kondisi cuaca saat pesawat itu terbang dari Tanah Merah ke Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang kala itu agak buruk namun sulit ditebak.

Kondisi cuaca umumnya di wilayah pegunungan Papua tidak bisa ditebak, ada bulan-bulan tertentu kondisinya bisa tebak yakni kadang baik kondisinya baik, siangnya jelek.

Selanjutnya, kata dia, ada bulan-bulan tertentu yang kondisinya siangnya jelek paginya baik. Keadaan cuaca di Papua terutama di wilayah pegunungan berubahnya sepersekian detik, lima menit bisa berubah, dua menit juga bisa berubah.

Menurut dia, cuaca di Kabupaten Pegunungan termasuk ektrim, ada beberapa bulan-bulan tertentu yang tidak bisa diprediksi karena sepersekian detik sudah berubah.

“Karena jarak dari tanah merah ke Oksibil cuman 30 menit, sedangkan perubahan waktu dalam perjalanan bisa berubah,” ujarnya.

Informasi yang diperoleh kala itu, kata dia, pesawatnya sudah sampai di Oksibil baru hilang kontak dan kemudian jatuh.

“Tidak ada firasat buruk ketika dua rekan saya hendak terbang dari Tanah Merah ke Oksibil,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Kapilot Kapten Wesly maupun kapilot Kapten I Wayan Sugiartha PK-HVQ milik Dimonim Air diketahui jatuh di Gunung Manuk pada Sabtu (11/8) sangat baik. Dirinya baru bertemu karena ia membawa pesawat jenis twin otter dan mereka berdua di Yajazi milik Dimonim.

“Intinya kedua rekan saya dalam kesehariannya sangat baik dengan pilot yang lain,” ujarnya.

Dari kejadian kecelakaan pesawatnya nanti kita tunggu informasi saja dari KNKT. Kemungkinan hasil dari KNKT terkait kejadian jatuhnya pesawat itu sudah ada.?

Ia menambahkan, kedepan pihaknya akan memperbaiki prosedur penerbangan. Kemudian terkait korban, manajemen maskapai penerbangan Dimonim akan membicarakan hal tersebut, seperti dikutip Antara. (mus)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending