Connect with us

FINANSIAL

Menkeu : Nilai Tukar akan Pengaruhi Subsidi

Published

on

Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pelemaham nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berpengaruh pada anggaran subsidi, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik.

Ditemui di Jakarta, Selasa (8/5/2018) malam, Sri Mulyani akan berkomunikasi dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk membahas hal tersebut sekaligus memantau kondisi neraca PLN dan Pertamina.

Perhatian terutama diberikan kepada kinerja Pertamina, lanjut Menkeu, sehingga pemerintah akan membuat kebijakan yang menjaga kondisi keuangan BUMN tersebut sekaligus mempertahankan APBN tetap sehat.

“Sehingga BUMN itu (Pertamina) bisa bekerja menjalankan tugas negara menyediakan BBM di seluruh Indonesia dengan harga yang terjangkau masyarakat, tetapi di sisi lain APBN tetap sehat dan ‘shock’ yang berasal dari luar itu kemudian bisa diminimalkan pengaruhnya kepada masyarakat,” kata dia.

Sri Mulyani juga mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan kalkulasi ulang perihal subsidi bersama dengan kementerian, instansi, dan BUMN terkait.

“Kami dalam tahap membuat laporan semester pertama APBN, itu yang sedang kami fokuskan, dan itu yang akan kami laporkan baik kepada Presiden, kabinet, dan kita bahas dengan dewan. Dari situ kita akan lihat pelaksanaan APBN 2018 dengan adanya perubahan-perubahan itu,” ucap dia.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (8/5/2018) sore, bergerak melemah sebesar 50 poin menjadi Rp14.043 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.993 per dolar AS, seperti dikutip Antara. (cal)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

FINANSIAL

BI Prediksi September 2018 Kembali Deflasi

Published

on

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memprediksi pada September 2018 akan terjadi deflasi setelah pada Agustus 2018 juga mengalami deflasi.

“Mengenai inflasi, kalau kita lihat dari survei pemantauan harga minggu kedua diperkirakan September ini masih deflasi 0,04 month to month, year on year- nya 3,03 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (21/9/2018).

BACA JUGA : Gubernur BI Ungkap Strategi Pariwisata, Hasilkan Devisa 28 Miliar Dolar

Perry menuturkan, pada September kecenderungan harga bahan-bahan makanan masih turun. Bahan makanan seperti daging sapi, daging ayam, dan telor masih turun, sedangkan beras relatif stabil.

“Ini membuktikan bahwa memang kebijakan yang ditempuh khususnya dari penyediaan pasokan dan distribusi dari pemerintah itu berjalan baik sehinga inflasi di Indonesia tetap rendah dan terkendali stabil,” kata Perry.

Oleh karena itu, ia meyakini target inflasi tahun ini 2,5-4,5 persen akan tercapai, bahkan cenderung akan lebih rendah dari titik tengahnya atau lebih rendah dari 3,5 persen.

Perry juga berterimakasih kepada pemerintah yang terus memasikan pasokan dan distribusi terutama bahan makanan tetap terjaga.

Sedangkan faktor kedua yang mendorong terjadinya deflasi yaitu ekspektasi inflasi yang tetap terjaga baik di tingkat konsumsn, produsen, maupun di pasar keuangan.

“Jadi ekspektasi inflasi itu terjaga,” ujar Perry.

Sementara itu, lanjut Perry, faktor terakhir yaitu kebijakan-kebijakan baik moneter, fiskal, maupun kebijakan lainnya untuk mengendalikan permintaan, tetap berjalan secara baik.

“Dalam konteks seperti ini kita tidak lihat dampak dari pelemahan nilai tukar Rupiah berdampak kepada harga. Terbukti perkembangan harga-harga tetap terkendali dan bahkan rendah,” kata Perry.

Pada awal bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2018 terjadi deflasi 0,05 persen yang dipengaruhi oleh penurunan harga telur ayam, bawang merah, dan tarif angkutan udara. Demikian, seperti dikutip Antara. (ctr)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

FINANSIAL

Pefindo Perkirakan Penerbitan Obligasi Capai Rp140 Triliun

Published

on

Presiden Direktur Pefindo, Salyadi Syahputra.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi pada 2018 mencapai Rp140 triliun atau turun 13,04 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp161,36 triliun.

“Potensi kenaikan suku bunga menjadi salah satu faktor beberapa emiten menunda penebitan oblligasi,” ujar Presiden Direktur Pefindo, Salyadi Syahputra di Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Ia mengatakan naiknya suku bunga akan membuat kupon obligasi yang ditawarkan kepada investor menjadi meningkat sehingga menambah beban biaya penerbit.

“Dari awal tahun saja, rata-rata kenaikan bunga obligasi mencapai 1,5 persen hingga 2 persen,” paparnya.

Sepanjang tahun ini, lanjut dia, total nilai emisi obligasi yang telah diterbitkan mencapai Rp100 triliun. Saat ini, Pefindo memegang mandat pemeringkatan efek bersifat utang yang akan terbit sekitar Rp30 triliun hingga Rp40 triliun.

“Jadi sampai akhir tahun diperkirakan mencapai Rp140 triliun. Kita perkirakan tahun ini tidak bisa lebih tinggi dari tahun lalu,” katanya.

Menurut Salyadi Syahputra, penerbitan obligasi di sisa tahun ini akan didominasi oleh perusahaan dengan peringkat di atas level idA (single A). Demikian, seperti dikutip Antara. (zub)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

FINANSIAL

Banggar DPR Setujui Asumsi Kurs Rp14.500

Published

on

Ketua Panja, Said Abdullah.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR RI menyetujui asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2019 sebesar Rp14.500 per dolar AS, atau lebih tinggi dari asumsi awal yang disepakati dalam Komisi XI sebesar Rp14.400 per dolar AS.

“Kami bisa menyetujui kurs Rp14.500 per dolar AS,” ujar Ketua Panja Said Abdullah saat memimpin Rapat Panja Badan Anggaran antara DPR dengan pemerintah di Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Rapat tersebut juga menyepakati asumsi ekonomi lainnya dalam RAPBN 2019 seperti pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, laju inflasi 3,5 persen, suku bunga SPN 3 bulan 5,3 persen, harga ICP minyak 70 dolar AS per barel dan lifting gas 1.250 ribu barel per hari setara minyak.

Namun, untuk lifting minyak, Rapat Panja memutuskan untuk menaikkan asumsi, dari sebelumnya 750 ribu barel menjadi 775 ribu barel per hari, sesuai keputusan di Komisi VII.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan angka kesepakatan baru untuk asumsi kurs ini bisa diterima oleh pemerintah karena masih dalam kisaran Rp14.300-Rp14.700 per dolar AS sesuai proyeksi Bank Indonesia.

“Kami cukup `comfortable` pada level Rp14.500-Rp14.600, kalau tadi ditawarkan Rp14.500, kami bisa menerima,” katanya.

Dengan kenaikan asumsi nilai tukar ini, Suahasil menambahkan, maka juga terdapat penyesuaian target dan pagu dalam postur penerimaan maupun belanja negara yang sebelumnya disusun dalam draf awal RAPBN 2019.

“Kalau terdapat kenaikan Rp100, `nett effect`nya itu surplus Rp1,1 triliun-Rp1,2 triliun,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah anggota Badan Anggaran meminta adanya kenaikan kurs dari asumsi awal Rp14.400 per dolar AS untuk RAPBN 2019, mengingat tekanan global yang masih terjadi dapat mempengaruhi pergerakan rupiah hingga tahun depan.

Suahasil mengakui pergerakan rupiah saat ini yang berada pada kisaran Rp14.800-Rp14.900 per dolar AS merupakan angka yang “undervalued” karena tingginya tekanan eksternal, meski untuk rata-rata tahunan hingga pertengahan September 2018 mencapai Rp13.998 per dolar AS.

“Pemahaman kami, angka rupiah yang sebenarnya `undervalued`, karena itu terbuka ruang untuk penguatan,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Rapat Panja juga menyepakati target pembangunan 2019 yaitu angka pengangguran 4,8 persen-5,2 persen, angka kemiskinan 8,5 persen-9,5 persen, rasio gini 0.38-0.385 dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 71,98. Demikian, seperti dikutip Antara. (sty)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending