Connect with us

INTERNASIONAL

Presiden Erdogan Kritik Keras “Perang Ekonomi” AS

Published

on

Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Presiden Recep Tayyip Erdogan mengeritik Pemerintah Amerika Serikat yang secara sepihak mengobarkan “perang ekonomi” terhadap Ankara ditandai dengan keputusan Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor produk aluminium dan baja Turki.

“Kami sampaikan `selamat tinggal` kepada mereka yang mengorbankan kemitraan strategis dan sekutunya dengan sebuah negara berpenduduk 81 juta jiwa dengan mengganti hubungannya dengan organisasi-organisasi teroris,” kata Presiden Erdogan di depan pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Provinsi Trabzon, Turki, Minggu (12/8/2018).

Hubungan Turki dan AS kini tengah mengalami pasang surut menyusul sanksi Gedung Putih terhadap Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu dan Menteri Hukum Abdulhamit Gul karena keduanya menolak membebaskan Pastor AS Andrew Brunson yang tersangkut kasus terorisme di Turki.

“Kami akan bertindak sesuai dengan hukum internasional. Tak seorang pun, tak satu negara pun, dan tak satu lembaga pemeringkat mana pun dapat mengancam Turki dan rakyat Turki,” kata Erdogan seperti dikutip Kantor Berita Anadolu yang dipantau Antara dari Jakarta, Senin.

Presiden Trump, Jumat, meningkatkan serangannya terhadap Ankara dengan menaikkan tarif impor AS terhadap produk aluminium dan baja Turki masing-masing menjadi 20 dan 50 persen.

Menanggapi keputusan Trump yang ditudingnya sebagai “perang ekonomi” ini, Presiden Erdogan menegaskan pihaknya tidak akan menyerah pada tekanan AS. Sebaliknya, Turki akan berpaling ke pasar-pasar, mitra-mitra, dan sekutu-sekutu baru.

“Kami akan terus berproduksi dan meningkatkan ekspor kami. Turki akan meladeni keputusan AS ini,” katanya, seperti dikutip Antara. (ant)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

INTERNASIONAL

Sidang kasus Kim Jong Nam Berlanjut

Published

on

Tersangka pelaku pembunuhan kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Nam, Siti Aisyah (26), berjalan menunduk dengan dikawal Pasukan Khusus Malaysia usai mengikuti sidang pertama .

Indonesiaraya.co.id, Kuala Lumpur – Sidang kasus pembunuhan Kim Jong Nam berlanjut setelah hakim tidak membebaskan kedua terdakwa Siti Aisyah (26) dan Doan Thi Huong (29) dalam putusan sela.

Saya telah mengambil langkah mundur dan mengingat kembali bukti secara objektif dan melihat kasus penuntutan dari semua sudut terutama sikap para saksi penuntut di persidangan,? ujar Hakim Mahkamah Tinggi Shah Alam, Azmi Bin Ariffin saat membacakan kesimpulan sidang, Kamis (16/8/2018).

Azmi menegaskan dirinya telah dengan hati-hati mempertimbangkan argumen yang sangat kuat yang diajukan oleh penasihat hukum dan wakil jaksa penuntut umum.

Cukuplah untuk mengatakan pada penutupan kasus penuntutan. Saya telah melakukan evaluasi maksimum terhadap bukti-bukti yang diajukan dan saya menemukan bahwa seluruh bukti yang diajukan oleh jaksa penuntut pada saat itu adalah kredibel bagi pengadilan untuk menerima dengan aman, memberi bobot dan bertindak berdasarkan itu,? katanya.

Azmi mengatakan dirinya puas bahwa semua bahan tuduhan terhadap terdakwa yang perlu dibuktikan telah ditetapkan oleh jaksa penuntut.

Karena itu, saya harus menemukan bahwa jaksa penuntut telah membuat kasus `prima facie? terhadap orang yang dituduh dan saya karenanya harus meminta mereka untuk memasuki pembelaan mereka atas tuduhan mereka masing-masing,? katanya.

Sidang putusan sela kasus Kim Jong Nam tersebut mulai pukul 10.00 dan berakhir pukul 13.30.

Hadir dalam putusan sela tersebut Dubes RI di Kuala Lumpur, Rusdi Kirana, Dirjen Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu, Lalu Muhammad Iqbal dan Kepala Konsuler KBRI Kuala Lumpur, Yusron B Ambary.

Siti Aisyah (26) dan wanita Vietnam, Doan Thi Huong (29), didakwa membunuh Kim Jong-nam bersama empat orang lagi yang masih bebas di Balai Keberangkatan KLIA2 di Sepang pada 13 Februari 2017 lalu, seperti dikutip Antara. (gus)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

INTERNASIONAL

Gedung Putih : AS Takkan Cabut Sanksi Atas Turki

Published

on

Gedung Putih, Amerika Serikat.

Indonesiaraya.co.id, Washington – Gedung Putih pada Rabu (15/8/2018) mengatakan Amerika Serikat takkan mencabut sanksi atas produksi alumunium dan baja Turki sekalipun pastur Amerika yang ditahan, Andrew Brunson, dibebaskan.

Dalam satu taklimat, Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan, “Tarif yang diberlakukan atas produksi baja takkan dicabut dengan dibebaskannya Pastur Brunson. Tarif adalah masalah khusus bagi keamanan nasional.”

“Presiden telah jelas mengenai industri alumunium dan baja, terutama baja, dalam kasus ini; bahwa itu adalah industri yang harus dilindungi. Kita harus memiliki kemampuan untuk mencapai tingkat tertentu dalam menghasilkan produk itu di sini di Amerika Serikat untuk tujuan keamanan nasional,” kata wanita juru bicara tersebut.

Turki mengumumkan akan memberlakukan tarif atas barang-barang Amerika.

Sanders, sebagaimana dilaporkan Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi, menanggapi bahwa “tarif dari Turki tentu saja disesalkan dan merupakan langkah di arah yang salah.” Ia menambahkan, “Tentu saja, kami tidak mendukung keputusan Turki untuk membalas tindakan kami melindungi kepentingan keamanan nasional kami.”

“Tarif yang diberlakukan Amerika Serikat atas Turki adalah demi kepentingan nasional kami,” katanya. Ia menolak untuk mengungkapkan tindakan selanjutnya AS untuk menanggapi pernyataan Ankara.

Ketika berbicara mengenai kasus Brunson, Sanders mengatakan, “Kami merasa bahwa Turki dan terutama Presiden Erdogan telah memperlakukan Pastur Brunson … dengan sangat tidak adil, dengan cara sangat buruk.”

“Itu adalah sesuatu yang takkan kami lupakan dalam pemerintahan,” wanita juru bicara tersebut menambahkan.

Mengenai ekonomi Turki dan mata uangnya, Sanders berkata, “Kami memantau situasi yang berkaitan dengan ekonomi Turki dan kemorosotan nilai tukar lira, tapi masalah ekonomi Turki, itu adalah bagian dari kecenderungan jangka panjang, sesuatu akibat perbuatannya sendiri dan bukan akibat dari sanksi apapun yang telah dijatuhkan oleh Amerika Serikat.”

Setelah seruan pada Selasa untuk memboikot produk elektronik AS, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani dekrit untuk menaikkan tarif atas sebagian import AS termasuk mobil, alkohol dan tembakau, demikian laporan kantor berita resmi Turki, Anadolu, yang mengutip Menteri Perdagangan Turki Ruhsar Pekcan pada Rabu (15/8/2018).

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mentweet bahwa ia telah mensahkan untuk melipat-gandakan tarif atas produksi baja dan alumunium dari Turki, masing-masing, sebesar 50 persen dan 20. (cha)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

INTERNASIONAL

Turki Siap Bicarakan Masalah dengan AS Tanpa Ancaman

Published

on

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.

Indonesiaraya.co.id, Ankara – Turki siap membicarakan berbagai masalah, yang sedang dihadapi, dengan Amerika Serikat sejauh tidak ada ancaman, kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, Rabu (15/8/2018).

Pernyataan tersebut dikeluarkan Turki di tengah perselisihan melebar antara kedua negara sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) itu, yang membuat mata uang Turki terperosok.

Sementara itu, ketika berbicara di depan para duta besar di Ankara, Cavusoglu juga mengatakan hubungan Turki dengan Uni Eropa memiliki landasan teguh dan akan kembali normal.

Ia mengatakan akan melakukan pertemuan dengan wakil kepala Komisi Eropa, Frans Timmermans, untuk mempercepat pembicaraan soal pembebasan visa bagi warga negara Turki.

Sementara itu, kelompok kerja Turki dan Rusia akan mengadakan pembicaraan soal perjalanan bebas visa bagi warga negara Turki ke Rusia setelah Idul Adha pekan depan.

Sebelumnya pada Rabu, Gedung Putih, mengecam langkah Turki yang menggandakan tarif terhadap impor mobil, alkohol dan tembakau dari Amerika Serikat.

AS menyebut keputusan Turki itu sebagai “langkah ke arah yang salah.”

Tindakan diambil Turki sebagai balasan atas langkah AS, yang disebutnya sebagai serangan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap perekonomian negara itu.

Amerika Serikat pekan lalu menggandakan tarif atas produk baja dan aluminium Turki. Langkah itu ikut membuat nilai tukar mata uang Turki, lira, terpuruk.

“Tarif dari Turki tentunya disayangkan dan adalah langkah ke arah yang salah. Tarif yang dikenakan Amerika Serikat terhadap Turki didasarkan pada kepentingan keamanan nasional sementara tarif mereka didasarkan pada pembalasan,” kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders kepada para wartawan sebagaimana dikutip Reuters.

Ketegangan antara kedua negara sesama sekutu di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) itu memburuk pada saat Turki bersikeras untuk tetap menahan pendeta Amerika, Andrew Brunson. Turki menuduh Brunson mendukung percobaan kudeta terhadap Erdogan dua tahun lalu.

Selain memutuskan untuk meningkatkan tarif impor baja dan aluminium Turki, pemerintahan Trump sebelumnya juga menjatuhkan sanksi terhadap dua pejabat tinggi pada kabinet Presiden Turki Tayyip Erdogan.

AS mengeluarkan sanksi tersebut untuk menekan Turki agar membebaskan Brunson, seperti dikutip Antara. (ant)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending