Connect with us

DIGITAL

Aprindo Minta Pemerintah Segera Sahkan UU “e-commerce”

Published

on

Ketua Aprindo, Roy Mandey.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta pemerintah segera mengesahkan Undang-Undang “e-commerce” demi kesetaraan bisnis daring atau “online” dan “offline” di Tanah Air.

“Kami cuma minta segera dikeluarkan UU e-commerce di Indonesia. Sampai hari ini masih di Prolegnas (Program Legislasi Nasional), masih di DPR dan belum diketok,” kata Ketua Aprindo Roy Mandey dalam acara Konferensi Future Commerce Indonesia 2019 di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Roy menuturkan hingga saat ini aturan mengenai “e-commerce” masih mengacu pada UU ITE. Padahal, khusus usaha/bisnis “offline” diatur melalui UU Nomor 7 Tahun 2004 mengenai Perdagangan.

“Kenapa ini diperlukan? Karena diharapkan kesetaraan bisnis online dan offline layaknya di berbagai negara sehingga punya standar layanan yang sama bagi konsumen,” katanya.

Roy mengapreasiasi keputusan pemerintah yang akhirnya mengeluarkan aturan pajak bagi pengusaha e-commerce.

Menurut dia, aturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan No.210/PMK.010/2018 tentang perlakuan perpajakan atas transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce) itu merupakan wujud kesetaraan antara bisnis online dan offline.

“Tinggal satu yang masih menggantung dan belum terjawab, yaitu transaksi di media sosial. Ini harus cepat punya aturan,” katanya.

Selain kebanyakan tidak menggunakan alat pembayaran resmi karena bisa dibayar saat bertemu (cash on delivery/COD), banyak barang yang dijual bukan produk asli.

“Ini tidak ada aturannya dan tidak bisa ditolerir. Makanya online dan offline harus segera diatur sedemikian rupa. Kami usulkan karena kalau UU lama, mungkin bisa keluar Perpres atau Permen saja dulu,” pungkasnya. Seperti dikutip Antara . (aij)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DIGITAL

Huawei Berkomitmen untuk Investasi di Kanada, Meski Bosnya Ditahan

Published

on

Huawei akan meningkatkan investasi penelitian dan pengembangan di Kanada sebesar 15 persen tahun ini dan menambah 200 pekerjaan R&D.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Ketua Huawei Liang Hua mengatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan investasi di Kanada di tengah penangkapan kepala keuangan oleh polisi Kanada atas permintaan Amerika Serikat Desember lalu.

Liang berbicara kepada wartawan setelah perusahaan telekomunikasi China tersebut mengatakan akan meningkatkan investasi penelitian dan pengembangan di Kanada sebesar 15 persen tahun ini dan menambah 200 pekerjaan R&D, memperluas tenaga kerjanya sebesar 20 persen.

“Kami tidak akan mengubah pendekatan kami pada investasi litbang dan kami akan terus meningkatkan investasi kami pada litbang di Kanada,” kata Liang, seperti dilansir Reuters, Jumat (22/2/2019).

“Kami ingin bekerja lebih jauh dengan operator telekomunikasi,” tambahnya.

Meng Wanzhou, CFO perusahaan dan juga putri pendirinya, Ren Zhengfei, telah didakwa dengan penipuan bank dan yang terkait dengan pelanggaran sanksi Amerika terhadap Iran.

Liang mengatakan dia yakin penangkapan seorang eksekutif senior atas tuduhan seperti itu “tidak umum dan jarang,” menambahkan bahwa dia tidak bisa mengatakan tuduhan itu tidak didorong secara politis. Meng sedang melawan permintaan ekstradisi A.S.

“Saya berharap dia bisa dibebaskan dan dia bisa bersatu kembali dengan keluarganya, tapi saya bukan pengacara jadi saya tidak bisa mengomentari substansi kasus ini,” katanya.

Setelah Meng ditahan, China menangkap dua orang Kanada dengan alasan keamanan nasional, dan pengadilan China kemudian menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang lelaki Kanada yang sebelumnya hanya dipenjara karena penyelundupan narkoba.

Liang mengatakan bahwa hubungan China dan Kanada saat ini “tidak ideal.”

“Kami menyadari bahwa ada beberapa masalah yang harus diselesaikan antara kedua negara,” katanya.

Kanada sedang mempertimbangkan apakah akan mengizinkan Huawei memasok peralatan ke jaringan 5G, generasi terbaru dari komunikasi seluler. Beberapa sekutu Kanada telah memberlakukan pembatasan, dengan alasan risiko spionase.

Liang mengatakan bahwa ia berharap keputusan apa pun akan didasarkan pada manfaat teknologi perusahaan daripada faktor lainnya. Demikian, seperti dikutip Antara. (mon)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DIGITAL

Asal Mula Istilah “Unicorn” pada Startup

Published

on

Decacorn digunakan untuk menyebut perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi 10 miliar dolar, sementara hectocorn sebesar 100 miliar dolar.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Istilah unicorn seringkali didengar ketika membicarakan perusahaan rintisan (startup), apalagi pemerintah gencar mendorong agar Indonesia memiliki banyak startup bertitel unicorn.

Unicorn dalam dunia startup tidak ada hubungannya dengan kuda putih bertanduk, walaupun istilah tersebut memang diambil dari makhluk yang sering muncul di legenda barat tersebut.

Unicorn dipakai untuk menyebut perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi 1 miliar dolar ke atas. Indonesia saat ini memiliki empat unicorn, yaitu GOJEK, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka.

Laman International Business Times menuliskan istilah “unicorn” pertama kali mengemuka dari seorang investor asal Amerika Serikat yang mendirikan Cowboy Ventures, Aileen Lee, yang awalnya tertarik untuk berinvestasi di salah satu perusahaan yang masuk golongan tersebut.

Dia meriset pada 2013 dan menemukan 0,07 persen dari perusahaan yang mendapatkan dana dari ventura memiliki valuasi di atas 1 miliar dolar. Dia ingin membagikan temuannya ini, namun dia perlu menemukan istilah yang tepat untuk perusahaan yang memiliki nilai valuasi tersebut.

“Saya mencoba mencari kata yang mudah digunakan,” kata Lee.

Dia sempat mencoba kata-kata lain seperti “home run” dan “megahit” hingga akhirnya terpikat pada “unicorn”.

Dia berargumen jarang ada perusahaan rintisan yang mencapai nilai valuasi sebesar itu, meski pun setiap tahun selalu ada startup yang muncul.

Filosofi tersebut sesuai dengan kuda unicorn, yang dijadikan simbol untuk mengungkapkan sesuatu yang langka.

Unicorn kini bukan satu-satunya istilah untuk menunjukkan golongan sebuah perusahaan rintisan, kini juga dikenal “decacorn” dan “hectocorn”.

Decacorn digunakan untuk menyebut perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi 10 miliar dolar, sementara hectocorn sebesar 100 miliar dolar.

Startup Indonesia saat ini baru sampai pada tahap unicorn, namun Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada Desember lalu meyakini akan ada decacorn di Indonesia pada 2019 ini. Demikian, seperti dikutip Antara. (nat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DIGITAL

Fujifilm Luncurkan Mirrorless X-T30

Published

on

Fujifilm juga merancang monitor LCD di kamera ini lebih tipis, yaitu 1,3 milimeter dan menawarkan respons layar sentuh yang lebih baik.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Fujifilm resmi membawa kamera mirrorless baru seri X, yaitu X-T30, yang menjanjikan bodi lebih ringan dan lensa resolusi 26,1MP.

Dalam keterangan pers yang diterima, salah satu andalan dari X-T30 adalah bodi yang makin enteng dan ringkas dengan bobot 383 gram untuk meningkatkan stabilitas saat memegang kamera.

Fujifilm mengganti Selector Button dengan Focus Lever untuk menyediakan ruang pegangan tambahan di bodi belakang.

Fujifilm juga merancang monitor LCD di kamera ini lebih tipis, yaitu 1,3 milimeter dan menawarkan respons layar sentuh yang lebih baik.

X-T30 memiliki ISO terendah 160, yang sebelumnya hanya tersedia sebagai ISO tambahan, sekarang sudah ada saat memotret RAW. Kamera ini menggunakan mesin X-Processor 4 serta peningkatan algoritma AF untuk mempertinggi akurasi dalam deteksi wajah atau mata.

Fujifilm memperkenalkan fungsi face select untuk memberikan prioritas fokus otomatis pada wajah yang dipilih ketika beberapa wajah telah terdeteksi dalam bingkai.

Selain itu, mereka juga meningkatkan kinerja mode Advanced SR Auto dan Auto Focus sehingga kamera secara otomatis memilih pengaturan yang optimal dari 58 preset.

X-T30 dapat merekam video 4K (resolusi 3810 x 2160) dan 6K (6240 x 3510). Kamera ini juga mendukung format DCI (17:9) untuk memberi tampilan sinematis pada video.

Di Indonesia, Fujifilm X-T30 dijual di kisaran harga Rp13.000.000 dan tersedia mulai akhir Maret 2019. Demikian, seperti dikutip Antara. (nat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending