Connect with us

NUSA TENGGARA BARAT

Bantuan Dana Perbaikan Rumah Korban Gempa di Mataram Sudah Cair

Published

on

Wali Kota Mataram, Ahyar Abduh.

Indonesiaraya.co.id, Mataram – Bantuan dana total sekitar Rp75 miliar untuk pembangunan kembali atau perbaikan rumah korban gempa bumi di Mataram sudah cair menurut Wali Kota Mataram Ahyar Abduh.

“Bantuan tersebut sudah masuk ke rekening 1.077 kepala keluarga (KK) korban gempa, yang dengan kategori rumah rusak berat (mendapat bantuan) sebesar Rp50 juta per KK,” katanya kepada wartawan di Mataram, Selasa (16/10/2018).

Selanjutnya Wali Kota akan mengumpulkan organisasi perangkat daerah (OPD) serta kelompok masyarakat (pokmas) penerima bantuan untuk menyegerakan pelaksanaan pembangunan kembali rumah yang rusak akibat gempa.

“Proses pencairan saat ini sudah lebih disederhanakan hanya dengan satu lembar, sehingga pokmas bisa lebih mudah melakukan pencairan,” katanya.

Di Mataram, ia melanjutkan, warga bisa memilih dua model rumah tahan gempa yakni rumah instan sederhana sehat (Risha) dan rumah instan konvensional (Riko).

Pemerintah kota, menurut dia, akan memanggil pihak ketiga yang bertanggung jawab menyediakan material bangunan untuk menjamin pasokan bahan bangunan rumah warga terpenuhi.

“Jangan sampai masyarakat sudah semangat mempercepat proses pembangunan tapi material tidak tersedia,” katanya.

Mengenai 597 KK yang rumah rusak berat dan belum menerima bantuan dana, Ahyar mengatakan pencairan bantuan dana untuk mereka masih dalam proses.

“Begitu juga dengan rumah rusak sedang dan ringan menunggu proses pencairan berikutnya. Kita tunggu saja,” katanya.

Gempa bumi yang melanda Kota Mataram pada Agustus lalu menyebabkan 1.674 rumah rusak berat, 1.702 rumah rusak sedak dan 2.930 rumah rusak ringan. Demikian, seperti dikutip Antara. (nir)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

NUSA TENGGARA BARAT

Perekaman KTP-e Pemilih Pemula di NTB Capai 50 Persen Lebih

Published

on

Berdasarkan data yang ada jumlah pemilih pemula yang masuk usia 17 tahun tercatat sekitar 3.000 orang

Indonesiaraya.co.id, Mataram – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengatakan, proses perekaman kartu tanda penduduk elektronik (KTP-e) terhadap pemilih pemula di daerah itu sudah mencapai di atas 50 persen.

“Kami optimistis, sisa pemilih pemula yang masuk usia 17 tahun sampai tanggal 17 April 2019, bisa terakomodasi sebelum proses Pemilu 2019,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kota Mataram Chairul Anwar di Mataram, Jumat (22/3/2019).

Menurutnya, berdasarkan data yang ada jumlah pemilih pemula yang masuk usia 17 tahun tercatat sekitar 3.000 orang, namun dengan digencarkannya berbagai kegiatan perekaman KTP-e yang dilaksanakannya jumlah itu terus berkurang.

Realisasi perekaman di atas 50 persen itu, katanya, belum termasuk kegiatan-kegiatan perekaman yang dilakukan melalui pelayanan saat car free day, perekaman di lingkungan dan perekaman di sekolah-sekolah karena belum divalidasi lagi.

“Realisasi 50 persen tersebut, yang sudah masuk data base merekam langsung ke kantor kami,” katanya.

Ia mengatakan, untuk mencapai target 100 persen perekaman pemilih pemula itu pihaknya aktif melakukan pelayanan keliling dengan menggunakan mobil pelayanan yang dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.

Melalui mobil pelayanan itu, masyarakat yang sudah wajib KTP hanya membawa foto copy kartu keluarga dan proses penerbitan KTP- bisa langsung dilakukan dan dalam waktu beberapa menit pemohon bisa mendapatkan KTP tersebut.

“Mobil pelayanan kami dilengkapi dengan mesin cetak, sehingga masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan kartu identias diri,” katanya.

Lebih jauh, Chairul mengatakan, animo masyarakat membuat melakukan perekaman KTP elektronik saat ini cukup tinggi, dengan jumlah permohonan sehari mencapai lebih 50 orang.

“Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 20-25 orang pemohon setiap hari. “Alhamdulillah, amino masyarakat memiliki KTP sudah cukup bagus,” ujarnya.

Sementara terkait dengan stok blangko KTP elektronik, Chairul menyebutkan, hingga saat ini tidak ada masalah. Blangko masih tercukupi, bahkan hari ini masih tersisa sekitar 3.000 keping.

“Kalau blangko tersisa 600-500 keping, kami langsung mengusulkan permohonan ke pemerintah agar blangko tidak kosong,” katanya, seperti dikutip Antara. (nir)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

NUSA TENGGARA BARAT

Rumah Rusak Akibat Gempa NTB Capai 4.589 Unit

Published

on

Selain menghancurkan rumah warga, gempa juga merusak sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial, di antaranya tiga fasilitas rumah ibadah, dan tiga perkantoran.

Indonesiaraya.co.id, Mataram – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendata sebanyak 4.589 unit rumah rusak akibat gempa beruntun yang berpusat di Kabupaten Lombok Timur pada Minggu (17/3/2019).

“Dari data yang kita berhasil himpun sementara 876 unit rumah rusak berat, 1.617 rusak sedang, dan 2.096 rusak ringan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB H Muhammad Rum di Mataram, Selasa (19/3/2019).

Ia mengatakan, kebanyakan rumah yang mengalami kerusakan tersebut berada di Kabupaten Lombok Timur. Di mana menjadi pusat gempa beruntun berkekuatan 5,8 SR dan 5,2 SR yang terjadi pada Minggu siang (17/3/2019).

Rum menyebutkan, selain menghancurkan rumah warga, gempa juga merusak sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial, di antaranya tiga fasilitas rumah ibadah, dan tiga perkantoran.

“Lainnya masih dalam proses pendataan,” ujarnya.

Sementara itu, akibat gempa tersebut 156 orang mengalami luka-luka setelah tertimpa reruntuhan bangunan dan tiga orang dinyatakan meninggal dunia setelah tertimpa longsoran di kawasan wisata air terjun Tiu Kelep, Kabupaten Lombok Utara.

Korban meninggal dunia antara adalah Tomy umur 14 tahun warga Senaru, Tay Sieu Kim umur 56 tahun dan Tay Sieu Kim umur 56 tahun. Keduanya merupakan WNA Malaysia yang tengah berlibur di Lombok.

“Sekarang kedua WNA sudah dipulangkan ke negaranya,” katanya.

Menurut Rum, saat ini pihaknya masih terus melakukan pendataan terhadap kemungkinan rumah yang belum terdata.

Dia mengatakan pihaknya juga terus menyalurkan bantuan kepada warga yang terkena dampak berupa terpal, selimut, matras, mie instan, dan lauk pauk.

NTB diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR) dan 5,2 SR pada Minggu (17/3/2019) pukul 14.07 WIB atau 15.07 WITA, namun tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 8,30 lintang selatan dan 116,60 bujur timur dengan kedalaman 10 kilometer (km).

Pusat gempa berada di laut pada jarak 24 km timur laut Kabupaten Lombok Timur, 36 km timur laut Kabupaten Lombok Utara, 37 km barat laut Pulau Panjang, Kabupaten Sumbawa, dan 63 km timur laut Kota Mataram. Demikian, seperti dikutip Antara. (nur)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

NUSA TENGGARA BARAT

Gempa Lombok Dibangkitkan Sesar yang Belum Terpetakan

Published

on

Gempa Lombok, hingga saat ini para ahli kebumian baru sepakat sebatas penyebab gempa, yaitu bahwa gempa dipicu oleh sesar aktif dengan mekanime turun.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Gempa bumi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (17/3/2019), dibangkitkan oleh sesar yang belum terpetakan menurut pejabat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Gempa kemarin diduga kuat dipicu oleh aktivitas sesar lokal dengan mekanisme turun yang belum terpetakan,” kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Senin (18/3/2019).

Dia menjelaskan sesar pembangkit gempa dengan magnitudo 5,8 tersebut bukanlah sesar yang menjadi pembangkit gempa Lombok pada 2018. Sesar pembangkit gempa Lombok tahun lalu adalah Sesar Naik Flores dengan mekanisme naik.

Perbedaan mekanisme sumber gempa tersebut menjadi indikator penting bahwa kedua gempa dibangkitkan oleh sumber yang berbeda.

Analisis mekanisme sumber penting dilakukan sebelum menyimpulkan penyebab gempa yang terjadi.

Jika dibandingkan antara Sesar Naik Flores dan Sesar Lokal pembangkit gempa sehari lalu, maka potensi gempa akibat Sesar Naik Flores lebih besar.

“Flores Back Arc Thrust adalah sesar regional, jalur sesarnya sangat panjang dari utara Bali hingga utara Flores sehingga wajar jika mampu membangkitkan gempa besar,” katanya.

Kekuatan gempa sangat ditentukan oleh ukuran dan dimensi sesar. Sangat kecil potensi sesar lokal untuk membangkitkan gempa sebesar gempa yang dibangkitkan oleh sesar regional.

Terkait peristiwa gempa Lombok, hingga saat ini para ahli kebumian baru sepakat sebatas penyebab gempa, yaitu bahwa gempa dipicu oleh sesar aktif dengan mekanime turun.

Akan tetapi mengenai mengapa di daratan Pulau Lombok muncul gempa dangkal dengan mekanisme turun, para ahli belum sepakat soal gaya pembangkitnya. Gaya pembangkit gempa Lombok kali ini masih menjadi misteri.

Ada ahli yang menduga gempa dengan mekanisme turun yang terjadi berkaitan dengan dinamika magma yang memicu runtuhan kerak bumi di zona gunung api aktif. Ada pula ahli yang mengemukakan dugaan adanya aktivitas gempa yang memicu sesar turun di zona busur belakang yang menandai terjadinya perluasan di busur belakang.

Selain itu ada pendapat yang mengaitkannya fenomena gravity tectonic, yaitu pembebanan massa gunung yang memicu terjadinya pensesaran turun (normal fault) di kaki gunung.

Pulau Lombok kembali diguncang gempa dengan magnitudo magnitudo 5,4 dan 5,1 pada Minggu 17 Maret 2019 pukul 14.07.26 WIB dan 14.09.19 WIB.

Gempa tersebut selain menimbulkan kerusakan bangunan rumah juga memicu dampak ikutan bencana berupa longsoran lereng yang menelan korban jiwa.

Pemutakhiran peta tingkatan guncangan BMKG menunjukkan dampak gempa yang berpusat di Lombok Timur ini memang berpotensi merusak (destruktif).

Gempa telah menyebabkan 499 rumah rusak ringan dan 28 rumah rusak berat. Selain menimbulkan kerusakan rumah, gempa juga memicu lereng longsor di Kawasan Wisata Air Terjun Tiu Kelep di Kabupaten Lombok Utara, sekitar 24 km arah barat laut dari pusat gempa (episenter).

Hingga Senin (18/3/2019) pukul 11.00 WIB hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 45 kali aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,1 di wilayah Lombok Timur. Demikian, seperti dikutip Antara. (des)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending