Connect with us

SEKTOR RIIL

Darmin : Pemerintah Konsisten Terapkan Kebijakan Ekonomi dari Sisi Penawaran

Published

on

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta  – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla tetap konsisten menerapkan kebijakan ekonomi dari sisi penawaran (supply-side) hingga akhir masa pemerintahan.
   
Menurut Darmin, hasil dari kebijakan supply-side era Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla selama empat tahun belakangan terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang stabil di tengah gejolak ekonomi dunia.

Hal tersebut juga diikuti oleh indikator sosial yang juga membaik, seperti tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, rasio gini, hingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM). 
   
“Artinya, semua kebijakan sudah mengarah pada pembangunan yang berkualitas. Ini capaian yang baik, mengingat karena biasanya pertumbuhan ekonomi tidak selalu diikuti dengan perbaikan keadaan sosial. Hal ini adalah suatu prestasi yang baik,” ujar Darmin saat menjadi pembicara kunci dalam acara Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019 di Jakarta, Rabu (5/12/2018).
  
Keputusan untuk memprioritaskan kebijakan ekonomi supply-side sudah dilaksanakan sejak awal pemerintahan Presiden Jokowi-JK, melalui perbaikan infrastruktur, perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan kebijakan reforma agraria.

Kebijakan supply-side ini selain lebih mudah dikendalikan, juga mampu membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat secara merata di pedesaan dan perkotaan. 
   
“Pendekatan ini dapat diwujudkan tanpa adanya perpindahan barang dan jasa secara besar-besaran ke luar ataupun ke dalam negeri. Namun, kebijakan demand-side tidak boleh dilupakan dengan tetap mendorong investasi dan konsumsi masyarakat,” ujar Darmin. 
   
Darmin menegaskan, fokus kebijakan supply-side terus digalakkan untuk memberikan multiplier effect yang besar, yang terus diselaraskan dengan program pemerataan ekonomi. 
   
“Infrastrukur akan melahirkan kegiatan-kegiatan baru yang ditransformasikan dari kegiatan lama. Sistem logistik, lanjutnya, juga perlu dibangun juga setelah infrastruktur tersedia. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah supaya membuat pasar pengepul agar konektivitas terbentuk secara sempurna” kata Darmin. 
   
Menanggapi perang dagang Amerika Serikat dan China dan implikasinya ke perekonomian nasional, Darmin memprediksi proyeksi ekonomi Indonesia masih bergantung pada interaksi perang dagang itu sendiri.

Darmin menduga pada 2019 tidak ada lagi interaksi AS-Cina yang yang esktrim. Bahkan, kedua negara akan sadar bahwa perang dagang hanya akan berimplikasi negatif pada perekonomian masing-masing negara. 
   
“Dengan begitu, kami optimis kedepan tingkat inflasi masih berada di titik aman yakni berada level tiga persen. Kami juga melihat bukan sesuatu yang berat untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi di level 5,3 persen, sesuai dengan asumsi makroekonomi APBN 2019,” ujar Darmin. 
   
Ketua Asosiasi Pengusaha Kebijakan Indonesia (Apindo) Bidang Kebijakan Publik Danang Girindrawardana menambahkan, perekonomian Indonesia telah bergeser menjadi seperti negara Singapura, dimana nilai tambah sektor pertanian dan manufaktur menurun seiring dengan peningkatan sektor jasa. Namun, peningkatan sektor jasa ini belum mampu menyerap tenaga kerja yang melimpah di pasar tekanan kerja. 
   
“Penurunan nilai tambah sektor manufaktur ini mengindikasikan adanya deindustrialisasi secara prematur. Dengan begitu, transformasi ekonomi ini diperlukan untuk dapat terus digalakkan oleh pemerintah agar tetap menyerap tenaga kerja,” ujar Danang, seperti dikutip Antara. (cit)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

SEKTOR RIIL

Harga Bawang Putih Rp 100 Ribu, Telur Ayam Rp 30 Ribu

Published

on

Bawang putih di Pasar Parung, Depok, Jabar, melonjak. Jika sebelumnya hanya Rp 42 ribu per kilogram.

Indonesiaraya.co.id, Depok – Harga bawang putih di Pasar Parung, Depok, Jabar, melonjak. Jika sebelumnya hanya Rp 42 ribu per kilogram, dalam sepekan terakhir harganya naik terus. Bahkan kini harganya mencapai Rp 100 ribu per kilo.

Sedangkan harga bawang merah meski mengalami kenaikan tapi belum tembus Rp 100 ribu. Per kilogram untuk bawang merah super Rp 50 ribu dari sebelumnya Rp 35 ribu.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada telur ayam. Yang sebelumnya Rp 22 ribu per kilo naik menjadi Rp 30 ribu.

Sayuran-sayuran seperti wortel juga mengalami lonjakan dari Rp 9 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu. Demikian juga buncis yang harganya naik dari Rp 9 ribu menjadi Rp 18 ribu per kilogram.

Rini Suryadi, warga Parung kepada JPNN mengaku terkejut dengan lonjakan harga bawang putih. Sebelum Ramadan memang sudah mengalami kenaikan. Namun, tiap hari naik sehingga tembus Rp 100 ribu.

“Saya kaget belanja di pasar kok mahal banget. Sengaja cari di pasar biar lebih murah, eh malah mahal banget,” ujar Rini, Kamis (16/5).

Keluhan juga diungkapkan Nicha. Gara-gara bahan pangan naik, dia jadi kesulitan mencari keuntungan untuk dagangan kuenya.

Biasanya Nicha menjual risolesnya Rp 5 ribu per buah, kini tidak bisa lagi. Namun, untuk menaikkan harga dia takut pelanggannya lari.

“Serba salah nih. Mau naikin harga takutnya pada protes. Mau kurangj volume kuenya diprotes juga. Terpaksa bertahan dulu, tunggu sampai habis lebaran. Kalau harganya enggak turun terpaksa saya naikin biar enggak rugi,” tandasnya. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Menperin : SDM Jadi Basis Perekonomian dalam Industri 4.0

Published

on

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa sumber daya manusia (SDM) menjadi basis perekonomian dalam revolusi Industri 4.0 sehingga Kemenperin mendorong pembangunan “coworking space” untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak muda agar lebih kreatif dan inovatif.

Melalui keterangannya di Jakarta, Jumat (17/5/2019), Airlangga juga mengatakan bahwa pemerintah terus mengajak anak-anak muda di seluruh Indonesia bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan ikut berperan aktif dalam era industri digital.

“Industri 4.0 mendorong pemerintah melakukan empowering human talents. Jadi, terpacu untuk fokus memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi,” kata Airlangga.

Menperin meyakini, keberadaan coworking space dapat menciptakan talenta-talenta anak muda yang mampu bersaing di era industri digital.

Upaya ini telah dilakukan di beberapa daerah melalui kerja sama dengan universitas. Sejumlah daerah yang sudah memiliki coworking space tersebut, antara lain di Bandung, Batam, Bali, Makassar dan Palu.

“Coworking space ini akan didorong dengan palapa ring dan digitalisasi infrastruktur, yang ditargetkan bisa selesai sampai ke Papua. Kalau ini bisa berjalan, saya optimistis talenta-talenta di daerah bisa tumbuh, terutama yang dekat dengan universitas,” terangnya.

Di samping itu, untuk menciptakan anak-anak muda bertalenta di era ekonomi digital, pemerintah juga mendorong pendidikan-pendidikan yang sifatnya kelas dunia.

Salah satunya melalui Apple Academy yang bekerjasama dengan Binus University di BSD City, Serpong, Tangerang, Banten.

“Program di Apple Academy ini ditargetkan dapat menghasilkan 200 lulusan dalam satu tahun, di mana dalam satu tahun program pendidikan mereka bisa menjual produknya di App Store (toko aplikasi di perangkat Apple), sehingga masuk langsung ekspor dalam ke global market,” ungkapnya.

Selanjutnya, Apple Academy yang kedua akan dibangun di Surabaya bekerja sama dengan Ciputra University, dan yang ketiga di Nongsa, Batam. Demikian, seperti dikutip Antara . (spg)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Harga Daging Impor di Pasar Tradisional Bekasi Mulai Naik

Published

on

Kenaikan harga daging impor berkisar 13 persen itu terjadi karena peningkatan permintaan konsumen selama Ramadhan 1440 Hijriah/2019 Masehi.

Indonesiaraya.co.id, Bekasi – Sejumlah pedagang daging sapi impor di Pasar Baru Kota Bekasi, Jawa Barat, mulai menaikkan harga jual sekitar 13 persen sejak awal Ramadhan, Senin (6/5/2019).

“Harga mulai naik sejak Ramadhan sekarang adalah daging sapi impor dari semula Rp70.000 per kilogram menjadi Rp80.000 per kilogram,” kata pedagang daging sapi Wawan di Blok B Pasar Baru Kota Bekasi, Jumat (10/5/2019).

Menurut dia, kenaikan harga daging impor berkisar 13 persen itu terjadi karena peningkatan permintaan konsumen selama Ramadhan 1440 Hijriah/2019 Masehi.

Peningkatan harga itu terjadi pada varian daging yang diimpor asal India dan Australia melalui pihak distributor di Pulogadung, Jakarta.

“Daging impor ini didatangkan ke Pasar Baru Bekasi sejak April akhir 2019. Harganya memang sudah naik dari sananya,” katanya.

Hal serupa dikatakan Ajat pedagang daging sapi di Blok B1 Pasar Baru. Menurut dia, kenaikan harga daging impor merupakan situasi rutin yang biasa terjadi selama Ramadhan hingga menjelang Lebaran.

“Kenaikan sekitar Rp10.000 untuk daging impor ini kelihatannya wajar terjadi setiap bulan puasa. Pedagang hanya menyesuaikan saja kenaikan harga dari distributor supaya tidak rugi,” katanya.

Ajat menambahkan, untuk jenis daging sapi lokal hingga saat ini belum terpengaruh oleh kenaikan harga selama Ramadhan.

Daging sapi lokal yang didatangkan dari Nusa Tenggara Timur, Bali dan sebagian daerah di kepulauan Jawa dibanderol seharga Rp120.000 per kilogram.

“Harga daging sapi lokal masih relatif stabil karena pasokan masih aman,” katanya.

Sementara untuk daging ayam juga mengalami kenaikan harga di Pasar Baru Bekasi, dari semula Rp48.000 menjadi Rp52.000 per kilogram sejak awal Ramadhan.

Ayam fillet merupakan bagian dada dari tubuh ayam yang dipotong menjadi beberapa bagian oleh pedagang serta dibersihkan kulitnya.

Sementara untuk harga ayam hidup justru turun dari Rp32 ribu pada pertengahan April 2019 menjadi Rp30 ribu selama Ramadhan.

Pedagang di pasar tersebut menepis anggapan bahwa kenaikan harga daging ayam fillet merupakan siasat pedagang untuk menaikan harga jual kepada konsumen selama Ramadhan.

“Peternak ayam sudah dikasih harga sama agen distributor, sehingga harga yang sampai ke pedagang di pasar ini sesuai dengan harga agen,” kata pedagang ayam di Blok A Pasar Baru Kota Bekasi, Zein.

Ayam yang dia jual dipasok dari sejumlah peternak di Purwakarta dan Cirebon, Jawa Barat. Demikian, seperti dikutip Indonesiaraya.co.id. (ahm)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending