Connect with us

NUSA TENGGARA BARAT

Dishub Mataram akan Kaji Kenaikan Tarif Parkir

Published

on

Dinas Perhubungan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan mengkaji kenaikan retribusi tarif parkir untuk sepeda motor menjadi Rp2.000 dari tarif semula Rp1.000.

Indonesiaraya.co.id, Mataram – Dinas Perhubungan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan mengkaji kenaikan retribusi tarif parkir untuk sepeda motor menjadi Rp2.000 dari tarif semula Rp1.000.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram M Saleh di Mataram, Kamis (7/3/2019), mengatakan, kenaikan tarif tersebut dilatarbelakangi banyak warga yang membayar retribusi tarif parkir motor Rp2.000.

“Artinya, ketika masyarakat membayar parkir dengan uang Rp2.000, mereka tidak mengambil kembaliannya dan tidak keberatan. Jadi tidak ada masalah jika tarif dinaikkan,” katanya.

Dikatakannya, daripada pungutan tersebut ilegal, lebih baik Dishub mengkaji potensi tersebut untuk dilegalkan, tentunya hal ini juga bisa berdampak pada pendapatan daerah.

“Untuk melegalkan kenaikan tarif retribusi parkir tersebut, kita perlu melakukan perubahan peraturan daerah (Perda) yang ada agar penarikan retribusi parkir memiliki payung hukum yang sah,” katanya.

Kajian kenaikan retribusi parkir sepeda motor tersebut juga tentunya akan melibatkan pihak-pihak terkait agar kebijakan kenaikan tarif tidak dianggap memberatkan masyarakat.

Di sisi lain, Saleh mengatakan, dengan kenaikan retribusi tarif parkir harus diimbangi dengan pelayanan dari para juru parkir yang harus menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang ada.

Juru parkir tidak hanya bertugas menjaga kendaraan masyarakat yang parkir, melainkan juga merapikan dan membantu pemilik kendaraan memutar kendaraanya hingga siap pakai serta memberikan pelayanan kemudahan untuk akses jalan.

“Tujuan utama kantong parkir adalah membantu kelancaran lalu lintas serta tidak menghambat manajemen lalu lintas yang ada,” katanya.

Artinya, juru parkir juga perlu memperhatikan kapasitas kantong parkir yang dimiliki. Jika kantong parkir sudah penuh jangan dipaksakan hingga ke badan jalan yang akhirnya mengganggu arus lalulintas.

“Kalau kantong parkir yang menjadi lahannya sudah penuh, juru parkir hendaknya mengarahkan pemilik kendaraan yang baru datang pada areal yang kosong dan tidak mengganggu,” katanya lagi. Seperti dikutip Antara . (nir)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

NUSA TENGGARA BARAT

Rumah Rusak Akibat Gempa NTB Capai 4.589 Unit

Published

on

Selain menghancurkan rumah warga, gempa juga merusak sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial, di antaranya tiga fasilitas rumah ibadah, dan tiga perkantoran.

Indonesiaraya.co.id, Mataram – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendata sebanyak 4.589 unit rumah rusak akibat gempa beruntun yang berpusat di Kabupaten Lombok Timur pada Minggu (17/3/2019).

“Dari data yang kita berhasil himpun sementara 876 unit rumah rusak berat, 1.617 rusak sedang, dan 2.096 rusak ringan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB H Muhammad Rum di Mataram, Selasa (19/3/2019).

Ia mengatakan, kebanyakan rumah yang mengalami kerusakan tersebut berada di Kabupaten Lombok Timur. Di mana menjadi pusat gempa beruntun berkekuatan 5,8 SR dan 5,2 SR yang terjadi pada Minggu siang (17/3/2019).

Rum menyebutkan, selain menghancurkan rumah warga, gempa juga merusak sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial, di antaranya tiga fasilitas rumah ibadah, dan tiga perkantoran.

“Lainnya masih dalam proses pendataan,” ujarnya.

Sementara itu, akibat gempa tersebut 156 orang mengalami luka-luka setelah tertimpa reruntuhan bangunan dan tiga orang dinyatakan meninggal dunia setelah tertimpa longsoran di kawasan wisata air terjun Tiu Kelep, Kabupaten Lombok Utara.

Korban meninggal dunia antara adalah Tomy umur 14 tahun warga Senaru, Tay Sieu Kim umur 56 tahun dan Tay Sieu Kim umur 56 tahun. Keduanya merupakan WNA Malaysia yang tengah berlibur di Lombok.

“Sekarang kedua WNA sudah dipulangkan ke negaranya,” katanya.

Menurut Rum, saat ini pihaknya masih terus melakukan pendataan terhadap kemungkinan rumah yang belum terdata.

Dia mengatakan pihaknya juga terus menyalurkan bantuan kepada warga yang terkena dampak berupa terpal, selimut, matras, mie instan, dan lauk pauk.

NTB diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR) dan 5,2 SR pada Minggu (17/3/2019) pukul 14.07 WIB atau 15.07 WITA, namun tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 8,30 lintang selatan dan 116,60 bujur timur dengan kedalaman 10 kilometer (km).

Pusat gempa berada di laut pada jarak 24 km timur laut Kabupaten Lombok Timur, 36 km timur laut Kabupaten Lombok Utara, 37 km barat laut Pulau Panjang, Kabupaten Sumbawa, dan 63 km timur laut Kota Mataram. Demikian, seperti dikutip Antara. (nur)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

NUSA TENGGARA BARAT

Gempa Lombok Dibangkitkan Sesar yang Belum Terpetakan

Published

on

Gempa Lombok, hingga saat ini para ahli kebumian baru sepakat sebatas penyebab gempa, yaitu bahwa gempa dipicu oleh sesar aktif dengan mekanime turun.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Gempa bumi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (17/3/2019), dibangkitkan oleh sesar yang belum terpetakan menurut pejabat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Gempa kemarin diduga kuat dipicu oleh aktivitas sesar lokal dengan mekanisme turun yang belum terpetakan,” kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Senin (18/3/2019).

Dia menjelaskan sesar pembangkit gempa dengan magnitudo 5,8 tersebut bukanlah sesar yang menjadi pembangkit gempa Lombok pada 2018. Sesar pembangkit gempa Lombok tahun lalu adalah Sesar Naik Flores dengan mekanisme naik.

Perbedaan mekanisme sumber gempa tersebut menjadi indikator penting bahwa kedua gempa dibangkitkan oleh sumber yang berbeda.

Analisis mekanisme sumber penting dilakukan sebelum menyimpulkan penyebab gempa yang terjadi.

Jika dibandingkan antara Sesar Naik Flores dan Sesar Lokal pembangkit gempa sehari lalu, maka potensi gempa akibat Sesar Naik Flores lebih besar.

“Flores Back Arc Thrust adalah sesar regional, jalur sesarnya sangat panjang dari utara Bali hingga utara Flores sehingga wajar jika mampu membangkitkan gempa besar,” katanya.

Kekuatan gempa sangat ditentukan oleh ukuran dan dimensi sesar. Sangat kecil potensi sesar lokal untuk membangkitkan gempa sebesar gempa yang dibangkitkan oleh sesar regional.

Terkait peristiwa gempa Lombok, hingga saat ini para ahli kebumian baru sepakat sebatas penyebab gempa, yaitu bahwa gempa dipicu oleh sesar aktif dengan mekanime turun.

Akan tetapi mengenai mengapa di daratan Pulau Lombok muncul gempa dangkal dengan mekanisme turun, para ahli belum sepakat soal gaya pembangkitnya. Gaya pembangkit gempa Lombok kali ini masih menjadi misteri.

Ada ahli yang menduga gempa dengan mekanisme turun yang terjadi berkaitan dengan dinamika magma yang memicu runtuhan kerak bumi di zona gunung api aktif. Ada pula ahli yang mengemukakan dugaan adanya aktivitas gempa yang memicu sesar turun di zona busur belakang yang menandai terjadinya perluasan di busur belakang.

Selain itu ada pendapat yang mengaitkannya fenomena gravity tectonic, yaitu pembebanan massa gunung yang memicu terjadinya pensesaran turun (normal fault) di kaki gunung.

Pulau Lombok kembali diguncang gempa dengan magnitudo magnitudo 5,4 dan 5,1 pada Minggu 17 Maret 2019 pukul 14.07.26 WIB dan 14.09.19 WIB.

Gempa tersebut selain menimbulkan kerusakan bangunan rumah juga memicu dampak ikutan bencana berupa longsoran lereng yang menelan korban jiwa.

Pemutakhiran peta tingkatan guncangan BMKG menunjukkan dampak gempa yang berpusat di Lombok Timur ini memang berpotensi merusak (destruktif).

Gempa telah menyebabkan 499 rumah rusak ringan dan 28 rumah rusak berat. Selain menimbulkan kerusakan rumah, gempa juga memicu lereng longsor di Kawasan Wisata Air Terjun Tiu Kelep di Kabupaten Lombok Utara, sekitar 24 km arah barat laut dari pusat gempa (episenter).

Hingga Senin (18/3/2019) pukul 11.00 WIB hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 45 kali aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,1 di wilayah Lombok Timur. Demikian, seperti dikutip Antara. (des)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

NUSA TENGGARA BARAT

Dua Meninggal Dunia Akibat Longsoran Air Terjun Tiu Kelep

Published

on

Air Terjun Tiu Kelep terletak di Desa Senaru, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Indonesiaraya.co.id, Mataram – Sebanyak dua orang meninggal dunia yang terkena longsoran gempa air terjun Tiu Kelep di Desa Senaru, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pascagempa tektonik 5,8 Skala Richter (SR) pada Minggu sore (17/3/2019).

Pihak BPBD dan Dikes Pemda KLU telah menerjunkan empat ambulans ke lokasi kejadian bersama personil dan paramedis. Baru bisa dievakuasi lima orang, dua orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya luka-luka, seorang dirawat di Puskesmas Bayan, kata Mujaddid Muhas, Kepala Bagian Humas Pemkab Lombok Utara, Minggu (17/3/2019).

Untuk mencapai air terjun Tiu Kelep dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dari jalan raya Senaru, wisatawan harus melintasi jalan setapak yang di kiri kanannya terlihat bekas longsoran gempa pada Juli dan Agustus 2018.

Sebelumnya Nusa Tenggara Barat (NTB) diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR), Minggu (17/3) pukul 14.07 WIB atau 15.07 Wita, namun tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menunjukkan pusat gempa bumi terletak pada koordinat 8,30 lintang selatan dan 116,60 bujur timur dengan kedalaman 10 kilo meter (Km).

Pusat gempa berada di laut pada jarak 24 Km timur laut Kabupaten Lombok Timur, 36 Km timur laut Kabupaten Lombok Utara, 37 Km barat laut Pulau Panjang, Kabupaten Sumbawa, dan 63 Km timur laut Kota Mataram. Demikian, seperti dikutip Antara . (riz)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending