Connect with us

DESTINASI

Festival Pesta Ulat Sagu Upaya Jaga Hutan

Published

on

Festival Pesta Ulat Sagu yang digelar Masyarakat Adat Kombay bersama Perkumpulan Silva Papua Lestari menjadi festival ulat sagu pertama di Papua.

Indonesiaraya.co.id, Merauke – Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kombay menggelar ritual besar Festival Pesta Ulat Sagu atau Yame yang melibatkan ratusan orang dari komunitas di dalam dan luar masyarakat adat sebagai rasa syukur, sekaligus melindungi hutan.

Tuan pesta Festival Pesta Ulat Sagu, Yambumo Kwanimba di Kampung Uni, Distrik Bomakia, Merauke, Papua, Kamis (27/9/2018), mengatakan tujuan festival ini untuk melindungi hutan mereka dari masuknya perusahaan ke wilayah masyarakat adat Kombay.

“Supaya hutan kami tidak hancur, karena hutan kami termasuk kecil. Harapannya festival ini berlanjut tahun berikutnya, karenanya hutannya tetap harus ada, supaya tanaman sagu tetap ada,” kata Yambumo.

Pesta Ulat Sagu, menurut dia, pada awalnya sebenarnya sebuah ritual tidak hanya untuk rasa syukur kepada Tuhan, leluhur, alam semesta, sesama, dan melindungi hutan, tetapi juga menjaga perdamaian.

Direktur Perkumpulan Silva Papua Lestari (PSPL), Kristian Ari di Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Papua, mengatakan Yame memiliki pesan moral kerja sama dan solidaritas persaudaraan yang tinggi.

Pesta ulat sagu, menurut dia, sesungguhnya merupakan ritual adat rutin yang dilakukan MHA Kombay. Namun kali ini mereka menggelar ini dalam skala festival yang melibatkan banyak masyarakat adat dari berbagai kampung atau marga.

Dengan festival ini, lanjutnya, sekaligus ingin mengajak semua, baik legislatif, yudikatif, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan media membantu mereka untuk mendapatkan hak pengelolaan Hutan Adat.

Hal yang masih menjadi kendala berat dalam upaya pengajuan Perhutanan Sosial untuk Hutan Adat bagi MHA Kombay maupun MHA lainnya di Papua adalah belum adanya Perda-Perda Pengakuan Masyarakat Hukum Adat, ujar Kristian.

Sebelumnya Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Papua, John Way mengatakan Festival Pesta Ulat Sagu ini termasuk sebagai ajang wisata. Jika dikembangkan lebih lanjut lagi ini bisa menjadi ekowisata di Papua. Demikian, seperti dikutip Antara. (vrn)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DESTINASI

Waktu Terbaik Berkunjung ke Selandia Baru

Published

on

The Hobbiton Movie Set adalah lokasi penting yang digunakan untuk trilogi film The Lord of the Rings Selandia Baru.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Selandia Baru adalah salah satu destinasi liburan yang menarik untuk dikunjungi para pencinta alam. Tertarik berkunjung ke sana?

Tourism New Zealand Regional Manager South and South East Asia Steven Dixon mengungkapkan waktu terbaik untuk menyambangi Negeri Kiwi.

“Setiap saat sebenarnya oke, tapi Maret sampai Oktober bagus. Anda bisa melihat daun berubah warna pada musim gugur, musim dingin pada Juli – Agustus, musim semi pada Agustus – Oktober,” tutur Tourism New Zealand Regional Manager South and South East Asia Steven Dixon di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Soal dana, dia mengatakan semua tergantung dari si pelancong. Ada banyak pilihan untuk mereka yang hemat atau bebas menggelontorkan uang.

Salah satu daya tarik Selandia Baru, kata Steven, adalah variasi keindahan alam yang letaknya tak berjauhan. Dari hutan hingga pantai bisa ditempuh dalam waktu singkat.

“Kalau bisa saya sarankan, kunjungi kedua pulau besar saat ke Selandia Baru karena punya lanskap yang berbeda,” ujar dia mengenai rekomendasi tempat untuk turis yang pertama kali menjejakkan kaki ke Negeri Kiwi.

Jumlah turis Indonesia terus bertumbuh dari tahun ke tahun meski belum sebanyak turis dari Australia, China dan Amerika Serikat yang menempati posisi tiga teratas.

“(Urutan Indonesia) Ada di Top 15, tapi pertumbuhannya cepat,” kata Steven.

Jumlah pengunjung Indonesia di telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Pada akhir September 2018, terdapat total 26.416 kedatangan dari Indonesia.

“Sekitar 18.000 datang untuk berlibur,” kata dia

Ia pun meyakinkan para wisatawan muslim bahwa semakin banyak fasilitas ramah muslim di Selandia Baru, seperti tempat ibadah dan restoran bersertifikasi halal.

Riset Tourism New Zealand menunjukkan bahwa sebagian besar orang Indonesia yang mempertimbangkan liburan ke Selandia Baru berusia antara 25 hingga 54 tahun. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 10 hari untuk berlibur di sana. Demikian, seperti dikutip Antara. (nan)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DESTINASI

Menpar Dorong Tabuik Masuk Kalender Wisata Nasional

Published

on

Tabuik, adalah perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Muhammad.

Indonesiaraya.co.id, Pariaman – Menteri Pariwisata Arief Yahya mendorong pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat segera mengupayakan pesta Budaya Tabuik masuk dalam kalender wisata nasional.

“Saat ini pesta Budaya Tabuik belum masuk ke dalam kalender kegiatan nasional, oleh karena itu perlu upaya lebih keras dari pemerintah daerah untuk mewujudkannya,” kata dia di Pariaman, Minggu (11/11/2018) usai menutup kegiatan Tour de Singkarak 2018.

Tidak tercatatnya Tabuik ke dalam kalender wisata nasional ujar dia, disebabkan belum terpenuhinya kriteria berdasarkan penilaian dari tim khusus yang telah dibentuk.

Ia mengakui tidak mudah masuk ke dalam kalender wisata nasional, karena dibutuhkan persyaratan tertentu. Apalagi yang menilai tim khusus dan memang ahli di bidangnya.

Ia menyebutkan tim penilai tersebut terdiri dari Denny Malik, Eko Supriyanto dan Dynand Fariz serta sejumlah orang yang turut serta dalam seremoni Asian Games 2018.?

Namun ujarnya, festival Budaya Tabuik yang diselenggarakan setiap tanggal 1-10 Muharam di Kota Pariaman, tetap memiliki peluang untuk masuk ke dalam kalender nasional.

“Jadi kalau mau masuk kalender kegiatan nasional harus memiliki persiapan yang lebih bagus, setidaknya setara dengan pelaksanaan Tour de Singkarak (TdS),” ujar dia.

Namun, ia mengungkapkan pihaknya terus mendukung Kota Pariaman untuk dapat menjadikan tabuik sebagai salah satu program dalam kalender nasional.

Wali Kota Pariaman Genius Umar, mengatakan pesta budaya Tabuik merupakan salah satu upaya dalam memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Setiap penyelenggaraan pesta budaya tabuik ujarnya, Kota Pariaman dikunjungi hingga ratusan ribu wisatawan dari berbagai daerah bahkan luar negeri.

Untuk mencapai dan masuk ke dalam kalender nasional, pemerintah daerah akan berupaya semaksimal mungkin memenuhi persyaratan yang diminta.

“Pesta budaya tabuik sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, oleh karena itu perlu diperjuangkan agar masuk ke dalam kalender event nasional,” kata dia, seperti dikutip Antara. (alt)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DESTINASI

NTB Jadi Destinasi Wisata Halal Terfavorit ASR 2018

Published

on

Kite Surfing di Kuta Beach Park the Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terpilih sebagai tujuan wisata halal terfavorit dalam Anugerah Syariah Republika (ASR) 2018, menyisihkan 13 provinsi lainnya. 

Dari total suara masuk selama sepekan (30 Oktober-5 November 2018), voting untuk NTB mencapai 38 persen, diikuti Aceh (27 persen), dan Sumatera Barat (23 persen). 

Selain itu, provinsi lain yang juga tercatat dalam “Voting Destinasi Halal Terfavorit” adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Sumatra Utara, Riau-Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Banten, dan Sumatera Selatan.

“Kategori tujuan destinasi halal terfavorit baru pertama kali diadakan pada ASR tahun ini,” kata Ketua ASR 2018 Elba Damhuri.

Tahun lalu, ASR hanya berfokus pada penghargaan untuk pelaku industri keuangan syariah.

Penghargaan itu meliputi perbankan, keuangan nonperbankan, industri asuransi, industri mikro-makro, financial technology (fintech), multifinance, dan tokoh syariah.

Untuk kategori penghargaan industri keuangan terbagi ke dalam beberapa tingkat. Kategori Perbankan dibagi berdasarkan jumlah aset (BUKU–bank umum kelompok usaha) sehingga terpecah menjadi beberapa penghargaan. Untuk Kategori Asuransi juga terbagi berdasarkan kelas bisnisnya.

Kriteria penilaian berbasiskan data kuantitatif berupa catatan kinerja industri selama 2017 dan kinerja triwulan satu 2018. Selain kuantitatif, juga berdasarkan indikator kualitatif seperti pelayanan dan pandangan publik/konsumen.

Penilaian ketiga didasarkan inovasi yang telah dilakukan. Apa saja terobosan yang sudah dilakukan yang bisa dilihat dari produk-produk yang dimiliki dan kegiatan-kegiatan yang digelar. 

Penilaian keempat, memasukkan unsur edukasi dan sosialisasi, apakah industri keuangan syariah di Tanah Air gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, mengajak masyarakat tahu, paham, dan akhirnya menjadi nasabah mereka. 

Dewan Juri terdiri dari ahli ekonomi syariah, ahli fiqih syariah, dan juri internal Republika. Untuk ekonom, Dewan Jurinya Sunarsip dan ahli muamalah, Dr Oni Sahroni, yang juga aktif di Dewan Syariah Nasional (DSN).

Dalam kesempatan itu, Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaedi mengatakan Republika berencana menggelar Anugerah Syariah setiap tahunnya. 

Dia berharap ajang ini bisa berkontribusi positif bagi kemajuan ekonomi syariah di Tanah Air, salah satunya industri halal. Menurut Irfan, Indonesia memiliki semua potensi untuk memajukan industri halal baik dari sektor pariwisata, makanan, fashion, kosmetik, hingga ekonomi kreatif. Demikian, seperti dikutip Antara. (lws)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending