Connect with us

HIBURAN

Guns N’ Roses Siapkan Pertunjukan Selama Tiga Jam

Published

on

Guns N' Roses, adalah kelompok musik hard rock dari Amerika Serikat.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Band Guns N’ Roses menjanjikan pertunjukan spesial dalam konser “Not In This Lifetime Tour” yang akan diselenggarakan pada tanggal 8 November 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Rencananya band asal Amerika Serikat itu akan menghibur penggemarnya selama tiga jam.

Tak hanya itu, grup yang beranggotakan Axl Rose (vokal, piano), Duff McKagan (bass), Slash (lead guitar), Dizzy Reed (keyboard), Richard Fortus (rhythm guitar), Frank Ferrer (drums), dan Melissa Reese (keyboard) ini juga akan membawakan lagu-lagu hits dari semua albumnya.

BACA JUGA : Jelang Konser Guns N’ Roses, Rumput Stadion GBK Ditutup

“Semua album akan dibawakan. Ini pertunjukan tiga jam, mereka telah menyeleksi lagu yang akan dimainkan dan ini akan menjadi pertunjukan yang panjang,” ucap Ron Chamberlain, Tour Representative/GNR Production Manager dalam jumpa pers di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Pihak manajemen Guns N’ Roses juga telah meninjau persiapan promotor dalam konser nanti. Ron mengaku puas dengan proses persiapan konser yang telah berjalan 70 persen.

“Venuenya fantastik, bersih, cantik, dan band sangat antusias. Kita sudah lihat venuenya dan sangat menyenangkan. Mereka nggak sabar untuk konser,” lanjutnya.

Ron mengatakan konser Guns N’ Roses akan memberikan kepuasan bagi para penggemar yang telah lama ingin menyaksikan pelantun lagu “Paradise City” ini dengan formasi klasik.

“Kalian tidak akan dikecewakan untuk dimuat dalam berita atau sebagai fans pada pertunjukan nanti,” tutupnya, seperti dikutip Antara. (yog)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

HIBURAN

“Keluarga Cemara” Tayang Perdana di Jogja-Netpac Asian Film Festival

Published

on

Jumpa Pers film "Keluarga Cemara" yang akan tayang di bioskop umum mulai tanggal 3 Januari 2019.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta  – Film “Keluarga Cemara” akan ditayangkan perdana pada perhelatan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang diadakan 27 November – 4 Desember 2018.

“Kita diberikan kesempatan sangat berharga untuk film ini bisa dinikmati lebih dulu di Jogja-Netpac. Ini pertama teman-teman bisa menikmatinya dan kami sangat bangga bisa membagikan,” ucap Anggia Kharisma, Produser film “Keluarga Cemara” dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

BACA JUGA : Jogja-Netpac Asian Film Festival Angkat Tema “Disruption”

Film “Keluarga Cemara” disutradarai oleh Yandy Laurens yang diadaptasi dari cerita sinetron populer di Indonesia yang pernah tayang tahun 1996 lalu.

Film ini menceritakan mengenai kehidupan keluarga Abah (Ringgo Agus Rahman) dan Emak (Nirina Zubir) yang semula baik-baik saja, namun terpaksa berubah karena tertimpa masalah.

Hal itu membuat anak-anak mereka Euis (Zara JKT48) dan Ara (Widuri Puteri), harus pindah sekolah menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Film “Keluarga Cemara” mengangkat nilai-nilai yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Semoga film ini bisa mengisi kekosongan akan film keluarga dan bisa menjadi alternatif menyenangkan bagi kita bersama keluarga kembali ke bioskop mulai awal tahun 2019,” kata Anggia Kharisma.

Film produksi Visinema Pictures ini akan tayang di bioskop umum mulai tanggal 3 Januari 2019. Demikian, seperti dikutip Antara. (yog)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HIBURAN

Konser Guns N’ Roses, Pertunjukan Tiga Jam yang Membangkitkan Nostalgia

Published

on

Konser Guns N' Roses di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Awal bulan November ini penikmat musik Indonesia mendapat kesempatan istimewa menyaksikan konser grup musik legendaris Guns N’ Roses dengan formasi klasik dalam pertunjukan yang diadakan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (8/11/2018) malam.

Formasi klasik yang diboyong dan sukses mengguncang panggung Jakarta itu adalah, Axl Rose (vokal), Duff McKagan (bass), Slash (gitar), Dizzy Reed (keyboard), empat personel lama Guns N’ Roses serta Richard Fortus (gitar), Frank Ferrer (drum), dan Melissa Reese (keyboard), ketiga nama yang belum lama bergabung.

BACA JUGA : Hujan Rintik-Rintik Akhiri Konser Guns N’ Roses

Kehadiran Axl Rose dan Slash dalam satu panggung setelah sekian lama berpisah tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian besar penonton yang hadir untuk menyaksikan konser ini.

Maka tidak berlebihan rasanya jika konser bertajuk “Not In This Lifetime Tour” ini menjadi ajang nostalgia, bukan hanya untuk penikmat musik Guns N’ Roses saja tapi juga bagi mereka yang besar di era 90-an awal saat grup ini menikmati puncak popularitasnya.

Setidaknya hal itulah yang dirasakan oleh Fadila yang datang menonton konser Guns N’ Roses bersama teman-temannya. Ia mengaku senang sekaligus terharu dapat kesempatan langka menyaksikan grup musik idolanya beraksi dengan formasi klasik.

“Terharu, mungkin kita akan nangis. Karena belum tentu kan mereka gabung lagi. Jadi pasti excited. Kapan lagi kan. Apalagi sekarang mereka sudah tua, itu yang bikin Guns N’ Roses penting untuk ditonton,” ujar Fadila saat berbincang sebelum konser dimulai.

Penonton yang hadir di konser Guns N’ Roses ini juga berasal dari kalangan publik figur, mulai dari musisi dan juga selebritas terkenal Indonesia, salah satunya aktor Tora Sudiro yang juga datang menonton bersama teman-temannya. Suami Mieke Amalia ini senang bisa melihat grup musik idola sejak masih duduk di bangku SMA beraksi.

“Gue nonton karena ini mereka (Axl Rose dan Slash) baru manggung lagi setelah lama pisah,” ucap Tora Sudiro.

Lagu-lagu lawas populer

Suasana nostalgia semakin terasa ketika konser berlangsung. Penyebabnya apalagi kalau bukan deretan lagu-lagu lama populer Guns N’ Roses yang dimainkan dalam konsernya kali ini.

Lagu-lagu seperti “It’s So Easy”, “Welcome To The Jungle”, “Rocket Queen”, “November Rain”, “Sweet Child O’mine”, hingga “Paradise City” sukses mengajak penonton bernyanyi hingga bergoyang mengikuti alunan musik rock menghentak.

Dalam pertunjukan berdurasi tiga jam itu, Guns N’ Roses juga membawakan beberapa lagu cover dari grup musik lain. Sebut saja “Black Hole Sun” (Soundgarden), “Attitude” (Misfits), “Live And Let Die” (Wings), hingga “Wish You Were Here” (Pink Floyd), dan “Slither” (Velvet Revolver).

Tentu saja repertoar yang dibawakan Guns N’ Roses ini sangat menarik karena jarang sebuah grup musik membawakan banyak cover lagu grup lain dalam jumlah yang banyak di pertunjukan konser tunggal.

Sisa kejayaan

Tak dipungkiri aksi panggung dari para personel lama Guns N’ Roses pada konsernya di GBK tidak semaksimal dahulu. Usia menjadi faktor pembedanya.

Axl Rose yang telah menginjak usia 56 tahun memang masih lincah bergerak kesana-kemari di atas panggung saat bernyanyi. Namun kekuatan vokalnya mulai menurun. Meski hal tersebut tidak mengurangi keseruan menyaksikan penampilan Guns N’ Roses.

Slash yang memasuki usia 53 tahun juga masih menunjukkan kelincahan jari-jemarinya ketika memainkan gitar yang menjadi instrumen musik andalannya. Dalam konser ini, ada satu sesi di mana Slash menampilkan aksi solo gitar yang menuai decak kagum.

Sayangnya tidak banyak kata-kata yang diucapkan oleh Axl Rose dalam penampilannya bersama Guns N’ Roses di Jakarta. Seolah hanya mengejar durasi. Sesekali dia hanya menyapa penonton yang terlihat begitu antusias terlebih ketika lagu favorit mereka dibawakan.

“Rasanya senang sekali bisa kembali ke sini, senang bisa bertemu kalian lagi,” teriak Axl Rose.

Satu-satunya gimik yang sukses mencuri perhatian adalah ketika Axl Rose melempar mikropon yang digunakannya untuk bernyanyi kepada penonton seusai menyelesaikan konser.

Sebelum benar-benar mengakhiri penampilannya, para personel Guns N’ Roses berkumpul ke depan panggung memberikan penghormatan kepada ribuan penonton yang memadati Stadion GBK.

Tiga jam penampilan Guns N’ Roses sukses mengobati penantian panjang para penggemar yang telah lama ingin menyaksikan grup ini dalam formasi klasik.

Terlepas dari usia yang menua, Guns N’ Roses tetaplah menjadi legenda. Demikian, seperti dikutip Antara. (yog)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HIBURAN

“Thugs of Hindostan”, Pengkhianatan Aamir Khan dalam Pemberontakan Amitabh Bachchan

Published

on

Thugs of Hindostan, adalah sebuah film petualangan aksi periode berbahasa Hindi India.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Firangi Mallah (Aamir Khan) menjadi pengkhianat dan “mengacaukan” pemberontakan yang dilakukan oleh Khudabaksh (Amitabh Bachchan) terhadap pasukan Inggris pimpinan John Clive (Lloyd Owen) yang menguasai sejumlah wilayah di India.

Di awal film, diceritakan bahwa pada tahun 1790an, terdapat seorang raja India bernama Mirza (Ronit Roy) yang memiliki beberapa orang anak, termasuk seorang putri yang masih kecil bernama Safira (Fatima Sana Shaikh). 

Sebagai seorang pemimpin kerajaan, Mirza merasa sangat terganggu dengan keberadaan British East India Company, sebuah perusahaan yang dikelola pasukan Inggris, yang dalam menjalankan bisnis melakukan perbudakan dan tindakan sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Mirza pun berencana untuk menyerang markas British East India Company pimpinan John Clive. Namun, sebelum penyerangan itu terjadi, John Clive terlebih dahulu mendatangi istana Mirza dan membawa sandera yang ternyata adalah anak laki-laki Mirza yang telah beberapa hari tidak pulang ke istana.

Untuk menyelamatkan nyawa anaknya, Mirza terpaksa mengibarkan bendera putih dan menyerahkan kekuasaannya kepada John Clive. Alih-alih membebaskan sandera, John Clive justru membunuh Mirza, anak laki-lakinya dan juga istrinya, yang tersisa hanya tinggal Safira.

Saat John Clive akan membunuh Safira, datanglah Khudabaksh yang merupakan  pengawal keluarga istana kepercayaan raja Mirza. Dia pun berhasil menyelamatkan Safira dan membawanya kabur menjauhi istana.

Sebelas tahun kemudian, Safira tumbuh menjadi perempuan cantik yang pandai bertarung. Dia sangat piawai dalam hal memanah. Bersama Khudabaksh dan sejumlah orang pengikut, mereka menjelma menjadi kelompok pemberontak yang disegani bernama Azaad. Kelompok ini memiliki misi untuk menghancurkan John Clive dan kroninya serta merebut kembali istana raja Mirza.

Di lingkungan istana yang telah dikuasai John Clive, terdapat seorang preman tengik lokal bernama Firangi Mallah. Demi mendapatkan pundi-pundi uang, dia rela bekerja untuk British East India Company. Firangi dikenal sebagai sosok yang lucu, pandai bertarung, cerdik, tetapi culas dan ulung dalam berbohong. Kemampuannya itu dimanfaatkan oleh pihak Inggris untuk membantu menjebak dan menangkap musuh-musuh mereka.

Firangi menyukai seorang penari istana bernama Suraiyya (Katrina Kaif) dan kerap menggodanya. Namun Suraiyya tidak menanggapi rasa suka Firangi secara serius.

Singkat cerita, pemberontakan yang dilakukan kelompok Azaad kian meresahkan John Clive. Dia pun akhirnya mengutus Firangi untuk menjadi penyusup dan memata-matai segala pergerakan Khudabaksh dan pasukannya.

Misi itu pun dia terima, dengan syarat John Clive harus memberikan imbalan yang besar bila dirinya berhasil memberi informasi tentang kelompok Azaad.

Firangi lalu mengajak kawan lamanya, seorang ahli nujum bernama Sanichaar (Mohammed Zeeshan Ayyub) untuk menjalani misi tersebut. Dalam sebuah pertempuran, Firangi dan Sanichaar berhasil bertemu dengan Khudabaksh. Mereka kemudian turut berperang bersama kelompok Azaad melawan pasukan Inggris.

Kemahiran Firangi dalam bertarung mencuri perhatian Khudabaksh. Bahkan Firangi rela menjadi tameng saat Safira menjadi sasaran tembak pasukan Inggris. Keberanian Firangi itu membuat Khudabaksh kagum, dan akhirnya dia mengangkat Firangi sebagai prajurit kepercayaannya.

Selama bergabung dalam kelompok Azaad, Firangi justru tertarik dengan Safira. Namun, Safira yang sejak awal curiga dengan keberadaannya, memilih untuk menjaga jarak.

Firangi kemudian membocorkan keberadaan kelompok Azaad kepada John Clive. Khudabaksh dan pasukannya akhirnya terkepung. Dalam pertarungan itu, Khudabaksh harus kalah. Di penghujung kekalahannya itu, dia berpesan kepada Firangi agar menjaga dan melindungi Safira.

Apakah Firangi menerima amanat tersebut? Atau justru dirinya tetap berkhianat dan menyerahkan Safira kepada John Clive? Plot twist yang muncul di akhir film ini menarik untuk disimak.

Film Thugs of Hindostan merupakan adaptasi dari novel karya Philip Meadows Taylor yang berjudul Confessions of Thug. Film ini disutradarai oleh Vijay Krisna Acharya dan diproduseri oleh Aditya Chopra di bawah naungan Yash Raj Film.

Bagi Anda yang menyukai film bergenre aksi petualangan dengan balutan komedi, maka film Thugs of Hindostan layak untuk menjadi pilihan menemani akhir pekan Anda. Film ini telah ditayangkan serentak pada 8 November 2018, bertepatan dengan perayaan Diwali di India. Demikian, seperti dikutip Antara. (fat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending