Indonesiaraya.co.id, Pekanbaru – PT Hutama Karya (Persero) selaku kontraktor utama jalan tol Pekanbaru-Dumai menyatakan progres pembangunan konstruksi enam terowongan atau “underpass” gajah di proyek di Provinsi Riau tersebut mencapai 50 persen hingga akhir 2019.

“Saat ini proses pembangunan ‘underpass’ gajah ini sudah memasuki tahap konstruksi dengan progres pembangunan yang sudah mencapai hampir 50 persen,” kata Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (HK), M. Fauzan dalam pernyataan pers di Pekanbaru, Rabu (18/12/2019).

Pembangunan terowongan khusus untuk gajah dilakukan HK agar mamalia yang terancam punah tersebut dapat tetap bebas berkeliaran dan melintas di habitatnya, dan tidak mengganggu pengguna jalan tol.



Fauzan mengatakan pembangunan terowongan itu disebabkan dalam berlangsungnya pembangunan proyek, pekerja HK di lapangan beberapa kali melihat gajah Sumatera liar secara langsung maupun jejak-jejaknya di lokasi pembangunan perlintasan gajah.

“Jalur itu kemudian ditandai dan akan didesain khusus sesuai dengan habitat alaminya, agar gajah tak asing dengan rumahnya,” kata Fauzan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, pada Selasa (17/12) mempertanyakan PT Hutama Karya perihal kelanjutan pembangunan terowongan gajah yang didesain khusus untuk konservasi gajah sumatera.

“Saya kepingin kepada Hutama Karya mengajak kita lakukan pengecekan karena sampai sekarang Hutama Karya belum melaporkan progres pembangunannya,” kata Suharyono kepada Antara.

Suharyono mengatakan mendapat informasi bahwa sebagian dari jalan tol sepanjang sekitar 131 kilometer tersebut akan diujicoba pada akhir tahun ini. Namun, ia mengaku pihaknya selaku yang berkepentingan untuk memastikan kelayakan terowongan gajah, sama sekali tidak dihubungi.

“Saya belum berani mengecek ke sana tanpa undangan Hutama Karya karena itu lokasi proyek,” ujarnya.

Ia berharap pada akhir tahun ini pihak kontraktor utama melakukan pengecekan enam pembangunan terowongan gajah. Sebabnya, sejak awal BBKSDA Riau meminta agar desain konstruksi terowongan ibarat “benteng alami” agar satwa yang melintas bisa merasa aman.

“Ya tentunya kita desain sealami mungkin termasak di bawah terowongan meski nanti ada pengerasan tetap nanti dibuat benteng alami. Beton-beton yang nampak di terowongan tadi ditutup semak bambu pakan kesukaan gajah itu,” katanya.

Tol Pekanbaru-Dumai sepanjang 131,48 kilometer merupakan bagian dari Tol Trans Sumatera yang merupakan program strategis nasional. Kementerian PUPR sebenarnya sudah mendesain agar jalan tol dibangun tidak melalui kawasan konservasi, namun ternyata jalan tol tetap melewati daerah jelajah (homerange) gajah sehingga perlu jalur perlintasan khusus.

Perlintasan pertama berupa terowongan gajah dibangun di Sungai Tekuana lokasinya di seksi 2 dan tidak jauh dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas di Kabupaten Siak.

Kemudian lima perlintasan lainnya berada di Seksi 4. Masing-masing berada di STA 61 atau 61 kilometer dari Pekanbaru, STA 69+154, STA 71+992, STA 73 dan STA 74+400.

Ukuran terowongan gajah bervariasi ada yang punya tinggi batas ruang (clearance) 4,5 meter hingga 11 meter dan lebar mulai dari 25 meter hingga 45 meter. Perlintasan gajah ini belum masuk proses konstruksi karena masih finalisasi desain yang melibatkan instansi terkait, seperti BBKSDA Riau.

Berdasarkan data BBKASA Riau, pada jalan tol yang akan dibangun, sebenarnya ada delapan titik potensi pertemuan dengan “homerange” gajah sumatera liar di sekitar kantong gajah Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja Kabupaten Bengkalis dan Giam Siak Kecil. Di Balai Raja ada enam gajah, sedangkan di Giam Siak Kecil ada 50 hingga 60 ekor gajah liar. Demikian, seperti dikutip Antara. (ang)