Connect with us

HEALTH

Imunisasi Campak-Rubella Dilanjutkan Hingga Mencapai Target 95 Persen

Published

on

Imunisasi campak dan rubella (MR) akan dilanjutkan oleh pemerintah hingga mencapai target cakupan 95 persen.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Pelaksanaan imunisasi campak dan rubella (MR) akan dilanjutkan oleh pemerintah hingga mencapai target cakupan 95 persen guna menciptakan kekebalan kelompok dan memutus mata rantai penyebaran penyakit tersebut.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang mengatakan di Kemenkes Jakarta, Kamis (1/11/2018), dilanjutkannya imunisasi campak dan rubella dikarenakan cakupan yang belum mencapai target selama tiga bulan pelaksanaan kampanye imunisasi.

“Cakupan sampai 31 Oktober belum mencapai hasil yang baik. Harusnya sasaran 32 juta anak, tapi belum sampai di situ, baru 66,9 persen dari 32 juta,” kata Vensya.

Pemerintah menargetkan cakupan imunisasi MR mencapai 95 persen dengan sasaran anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi luar Pulau Jawa.

Namun pelaksanaan imunisasi yang dilakukan dalam masa dua bulan kemudian diperpanjang satu bulan hingga 31 Oktober 2018 lalu baru mencapai target 95 persen di 4 provinsi dan 102 kabupaten-kota.

Provinsi dengan cakupan imunisasi MR terendah yaitu Aceh 7,98 persen, Sumatera Barat 38,08 persen, Riau 39,62 persen, Sumatera Utara 52,06 persen, dan Kepulauan Riau 55,58 persen.

Vensya menyebutkan kelanjutan imunisasi MR untuk mencapai target 95 persen dalam jangka waktu hingga 31 Desember 2018.

Kementerian Kesehatan akan melakukan evaluasi dan mempersiapkan langkah selanjutnya apabila pada masa tersebut capaian imunisasi MR belum mencapai target 95 persen.

Setelahnya pada 2019, imunisasi MR akan masuk dalam jadwal imunisasi dasar rutin yang akan diberikan pada bayi usia sembilan bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD.

Imunisasi MR yang termasuk dalam imunisasi dasar rutin sudah dilakukan di Pulau Jawa sejak Januari 2018.

Capaian cakupan imunisasi MR dalam masa kampanye tahun 2017 di Pulau Jawa yang dilakukan pada periode yang sama mencapai 100,98 persen. Demikian, seperti dikutip Antara. (dit)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HEALTH

Apakah Meja Berdiri Bisa Bantu Turunkan Berat Badan?

Published

on

Efek meja kerja berdiri melalui enam parameter yakni perilaku misalnya waktu duduk dan berdiri, fisiologis, psikologis, performa kerja, postur dan rasa tak nyaman.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Sebagian orang berpendapat meja yang dirancang untuk bekerja sambil berdiri bisa membantu menurunkan berat badan, namun sebuah studi dalam jurnal Applied Ergonomics membantah pendapat itu.

Seperti dilansir Medical News Today, yang dikutip Jumat (22/3/2019), peneliti mengamati 53 studi yang berfokus pada manfaat meja kerja yang dirancang untuk digunakan sambil berdiri.

“Dengan latar belakang saya di bidang pencegahan cedera dalam bidang kerja, saya ingin mengumpulkan apa yang selama orang tahu mengenai manfaat meja berdiri di tempat kerja,” kata April Chambers, asisten profesor bioengineering di University of Pittsburgh, Pennsylvania.

Dari 53 studi yang didalami, ada 47 studi berbasis eksperimen dan rata-rata melibatkan 6-231 orang partisipan yang diamati selama setahun.

Chambers memeriksa efek meja kerja berdiri melalui enam parameter yakni perilaku –misalnya waktu duduk dan berdiri–, fisiologis, psikologis, performa kerja, postur dan rasa tak nyaman.

Asisten profesor terapi okupasi di Tufts University, Medford, MA, Nancy A. Baker yang juga terlibat dalam penelitian, mengatakan dampak terkuat dari penggunaan meja berdiri ada pada perubahan perilaku dan rasa tak nyaman.

Dengan kata lain, orang yang menggunakan meja kerja khusus ini berkurang waktunya untuk duduk dan lebih banyak berdiri dibandingkan mereka yang menggunakan meja biasa.

Dari sisi efek fisiologis, peneliti melaporkan bahwa meja kerja berdiri tidak berdampak signifikan untuk penderita obesitas.

“Ada berbagai manfaat kesehatan menggunakan meja kerja berdiri, misalnya berkurangnya tekanan darah, nyeri tulang belakang bagian bawah, tetapi tidak ada pembakaran kalori yang cukup untuk menurunkan berat badan,” kata Chambers.

Secara spesifik, penelitian lanjutan di tempat kerja diperlukan untuk mengetahui hal lainnya termasuk soal variasi penggunaan barang secara tepat di tempat kerja. Demikian, seperti dikutip Antara. (lws)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HEALTH

Gigi Sehat Bisa Jadi Kunci Percaya Diri

Published

on

29 persen anak yang mengalami masalah gigi juga juga sulit tidur, dan 37 persen anak absen setidaknya dua hari per tahun karena sakit gigi.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Gigi yang sehat bisa membuat seseorang merasa nyaman pada dirinya sehingga kepercayaan diri pun muncul.

Menurut survei global yang dilakukan Pepsodent pada 2018 dan melibatkan 4.094 anak berusia 6-17 tahun, sebanyak 48 persen anak yang sakit gigi mengalami kehilangan kepercayaan diri.

Survei yang dilakukan di delapan negara, Indonesia, Ghana, Chile, Vietnam, Prancis, Italia, Amerika Serikat dan Mesir itu menyebut, anak-anak itu enggan berbicara di depan kelas karena memiliki masalah pada gigi dan mulut.

“Anak-anak yang bermasalah dengan gigi dan mulut cenderung dua kali lebih rentan mengalami krisis kepercayaan diri, kesulitan bersosialisasi bahkan menolak untuk memperlihatkan senyum mereka,” kata Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc. selaku Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Selain itu, 29 persen anak yang mengalami masalah gigi juga juga sulit tidur, dan 37 persen anak absen setidaknya dua hari per tahun karena sakit gigi.

“Secara global dibandingkan anak yang tidak punya masalah gigi dan mulut, anak yang sakit merasa tidak perform baik di sekolah,” tutur Mirah.

Sementara itu, psikolog keluarga Ayoe Sutomo menambahkan, rasa percaya diri bisa timbul dari rasa nyaman terhadap kondisi fisik.

“Individu yang merasa nyaman secara fisik cenderung memiliki self esteem yang baik, lebih mampu menghadapi segala tantangan, jadi lebih percaya diri,” katanya.

Dengan begitu, mereka yang memiliki masalah pada gigi cenderung mengalami krisis kepercayaan diri? Jawabannya iya dan ini berlaku juga pada anak-anak. Demikian, seperti dikutip Antara. (lws)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

DIGITAL

Smartwatch Bantu Kenali Penyakit Jantung

Published

on

2.000 orang, atau 0,5 persen, mendapat notifikasi dari jam tangan mereka bahwa detak jantung mereka tidak teratur.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Studi yang didanai oleh Apple Inc menunjukkan bahwa jam tangan pintar Apple Watch dapat mendeteksi detak jantung yang tidak teratur sehingga penggunanya bisa mendapatkan tindakan lebih dini.

Para peneliti di studi tersebut mengharapkan teknologi dapat membantu mendeteksi dini fibrilasi atrium, salah satu jenis detak jantung tidak teratur yang paling sering ditemui. Pasien penyakit tersebut berisiko lima kali untuk terkena stroke.

Studi tersebut melibatkan 400.000 pengguna Apple Watch, hasilnya dipresentasikan pada acara American College of Cardiology di New Orleans, Amerika Serikat, dikutip dari Reuters.

2.000 orang, atau 0,5 persen, mendapat notifikasi dari jam tangan mereka bahwa detak jantung mereka tidak teratur.

Mereka kemudian diminta untuk memakai ECG untuk mendeteksi fibrilasi atrium.

Sepertiga pengguna yang menggunakan ECG terkonfirmasi mengalami gangguan fibrilasi atrium.

“Dokter bisa menggunakan informasi tersebut lalu menggabungkannya dengan pemeriksaan, lalu, mereka bisa membantu mengambil keputusan harus melakukan apa,” kata Dr. Marco Perez dari Stanford School of Medicine, salah saeorang peneliti kepala di studi tersebut.

57 persen peserta yang mendapat notifikasi dari jam tangan juga memeriksakan diri mereka. Demikian, seperti dikutip Antara. (nat)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending