Connect with us

SEKTOR RIIL

Indofood Sukses Makmur (INDF) akan Akuisisi Indofood Agri, Ini Rekomendasi Analis

Published

on

Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan membeli seluruh saham anak usahanya PT Indofood Agri Resources Ltd (IFAR).

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan membeli seluruh saham anak usahanya PT Indofood Agri Resources Ltd (IFAR). Sejumlah analis menilai akuisisi ini bisa meningkatkan daya tarik INDF.

Asal tahu saja, pada April 2019 lalu INDF melalui CIMB Bank Berhad cabang Singapura telah mengumumkan penawaran tunai bersyarat untuk membeli seluruh saham IFAR. Namun kabar terakhir melansir dari keterbukaan informasi, Jumat (24/5/2019) INDF memperpanjang tender offer dari semula 24 Mei 2019 pada pukul 17.00 waktu Singapura.sampai 25 Mei 2019 pada pukul 17.00 waktu Singapura.

Sekretaris Perusahaan INDF Victor Suhendra menyatakan dalam keterangan tertulis alasan perpanjangan ini hingga 23 Mei 2018 pukul 17.00 waktu Singapura jumlah penawaran masih belum memenuhi persyaratan. “Baru menerima penawaran sebanyak 102,82 juta saham yang mewakili 7,37% dari total saham IFAR,” jelasnya.

Aksi korporasi ini dilakukan INDF untuk delisting IFAR dari bursa Singapura. Tindakan ini membuat INDF menjadi lebih fleksibel menerapkan inisiatif strategis dan perubahan operasional di masa mendatang.

INDF menawarkan untuk mengakuisisi 25,6% saham – dimiliki oleh publik – dengan harga S$ 0,28 per saham. Penawaran ini 2% lebih tinggi dari harga penutupan Jum’at kemarin di S$ 0,27.

Melansir riset RHB Investment yang dirilis pada (29/4/2019) lalu menjelaskan penawaran tender IFAR bisa menciptakan sentimen negatif terhadap saham INDF.

Meskipun hasil kinerjanya di 2018 solid, investor khawatir terhadap kelebihan uang tunai yang digunakan untuk penawaran ini. “Namun ini juga menjadi katalis positif peningkatan belanja konsumen ke depannya,” ujar analis dalam riset RHB Investment.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan aksi korporasi ini tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja INDF sebagai emiten konsumer yang konglomerasinya dari hulu ke hilir.

“Konglomerasi INDF mulai dari agribisnis sawit meliputi minyak goreng, tepung, hingga produk siap makan. Ditambah INDF juga bisnis di semua tahap mulai dari produksi, konsumsi, dan distribusi sehingga penambahan di sektor agribisnis tidak serta merta berpengaruh pada profit,”ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (24/5/2019).

Menurut Wawan, saat ini INDF lebih tertekan dari sisi kurs karena banyak impor untuk bahan baku.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menjelaskan aksi korporasi yang dilakukan INDF terhadap IFAR tentunya untuk rencana jangka panjang. “Sedangkan pergerakan INDF saat ini masih sideways, sehingga masih harus dilihat dari hasil tender offer tersebut yang saat ini pun masih diperpanjang,” jelasnya.

Kendati demikian, William tetap rekomendasi beli dengan target jangka pendek di Rp 7.000 dan target jangka panjang di Rp 8.500. Begitu juga dengan RHB yang merekomendasikan beli di target harga Rp 8.500. Demikian, seperti dikutip Kontan.co.id. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SEKTOR RIIL

Menhub : Harga Tiket Pesawat Bukan Urusan Saya

Published

on

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Mahalnya harga tiket pesawat yang dikeluhkan oleh masyarakat dan pengusaha dinilai Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi bukan merupakan urusan pihaknya.

Kemenhub hanya mengatur harga batas atas dan bawah dalam moda transportasi udara itu. Selebihnya, lanjut dia, harga tiket pesawat merupakan kewenangan dari masing-masing maskapai penerbangan.

“Tiket itu bukan urusan saya. Jadi urusan dari airlane-nya. Saya urusannya atas dan bawah,” kata Budi Karya di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Ia menerangkan, saat ini telah ada tiga maskapai asing yang akan diberikan izin penerbangan di wilayah udara Indonesia.

Ia menekankan bahwa pemberian izin maskapai asing itu untuk meningkatkan kompetisi harga tiket pesawat dalam negeri.

“Jadi spirit-nya ginilah, jadi spiritnya bukan asing tapi kompetisi,” paparnya. Seperti dikutip Alimni212.id. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Pascalebaran, Harga Cabai di Solok Selatan Naik Tajam

Published

on

Harga cabai merah di pasar tradisional Sumatera Barat pascalebaran naik tajam dari Rp20 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.

Indonesiaraya.co.id, Padang Aro – Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat pascalebaran naik tajam dari Rp20 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.

“Kenaikan harga cabai ini karena kurangnya pasokan, dan masih bertahan sampai saat ini,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Solok Selatan Irwandi Osmaidi di Padang Aro, Selasa (11/6/2019).

Dia mengatakan untuk cabai kualitas paling bagus dijual pedagang seharga Rp60 ribu, sedangkan kualitas menengah Rp55 ribu, dan kualitas paling bawah Rp50 ribu per kilogram.

“Rata-rata pedagang menjual cabai Rp55 ribu per kilogram,” kata dia.

Pasokan cabai merah di Solok Selatan berasal dari petani setempat dan sebagian lainnya dari Kabupaten Solok dan Kerinci, Provinsi Jambi.

Kurangnya pasokan ke pasara, kata dia, kemungkinan karena masih suasana Lebaran dan para petani belum memanen cabainya.

“Kalau harga cabai terus naik kami akan berkoordinasi dengan provinsi untuk menstabilkan harga,” ujar dia.

Untuk harga berbagai kebutuhan pokok lainnya, kata dia, masih stabil, seperti bawang merah dijual seharga Rp30 ribu per kilogram, sedangkan beras Rp9 ribu.

Salah seorang warga Sungai Pagu, Fitria Yuningsih, mengatakan, Senin (10/6), di Pasar Muaralabuh, harga cabai merah memang cukup mahal, yaitu Rp55 ribu per kilogram.

“Saya terpaksa mengurangi beli cabai dari biasanya satu kilogram, sekarang cukup setengahnya,” kata dia.

Selain itu, katanya, harga jengkol juga mahal di mana biasanya satu cupak (isi 20 butir) hanya Rp15 ribu sekarang naik menjadi Rp30 ribu.

“Jengkol sekarang juga satu cupak Rp30 ribu dan cukup mahal,” ujar dia. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Di Negara Mana pun Tak Ada Maskapai Asing Layani Penerbangan Domestik

Published

on

Undang-undang melarang maskapai asing melayani rute penerbangan domestik. Di negara manapun tidak ada maskapai asing yang melayani penerbangan domestik.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Pengamat penerbangan Alvin Lie menyatakan, undang-undang melarang maskapai asing melayani rute penerbangan domestik. Di negara manapun tidak ada maskapai asing yang melayani penerbangan domestik.

Alvin menyampaikan hal itu menanggapi wacana memasukkan maskapai asing yang digulirkan oleh
Presiden Joko Widodo. Menurut dia , wacana ini bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan penerbangan domestik, terutama terkait mahalnya harga tiket pesawat enam bulan terakhir ini.

“Kalau pemerintah tidak puas atau kecewa terhadap kondisi transportasi udara saat ini, seharusnya langkah yang diambil adalah introspeksi dan berbenah, bukan mengundang pihak luar untuk masuk,” kata Alvin saat dihubungi, Senin (10/6/2019).

Kenaikan tiket pesawat tahun ini, kata dia, tak terlepas dari tingginya biaya operasional maskapai. Kondisi ini bahkan sudah terjadi sejak 2014 lalu. Selain itu, nilai tukar rupiah juga melorot terus terhadap dolar AS.

Selain itu, sambung dia, kebijakan transportasi udara selama ini tidak memperhatikan Tarif Batas Atas (TBA). Sebelum penyesuaian TBA baru-baru ini, tarif terakhir kali disesuaikan pada 2014 lalu. Sama halnya dengan Tarif Batas Bawah (TBB) yang ditinjau terakhir kali pada 2016 lalu.

Dirinya juga mengatakan, wacana mengundang pemain asing dalam industri penerbangan juga tak sesuai dengan undang-undang tentang penerbangan dan Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 soal bidang usaha yang tertutup dan terbuka di bidang penanaman modal.

Selanjutnya, sesuai azas cabotage dan UU Nomor 1 Tahun 2009, kepemilikan saham asing dalam perusahaan yang bergerak dalam bisnis angkutan udara, maksimum kepemilikan 49 persen.

“Jadi, tidak ada satu negara pun di dunia yang mengizinkan maskapai milik asing untuk melayani rute domestik negaranya,” kata dia. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending