Connect with us

SEKTOR RIIL

Jelang Idul Adha, IPC Serahkan Ratusan Hewan Qurban

Published

on

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC melalui IPC Group menyalurkan ratusan hewan qurban untuk tenaga kerja bongkar muat di pelabuhan serta masyarakat yang tinggal di sekitar area pelabuhan.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah, yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC melalui IPC Group menyalurkan ratusan hewan qurban untuk tenaga kerja bongkar muat di pelabuhan serta masyarakat yang tinggal di sekitar area pelabuhan. Hewan-hewan qurban itu diserahkan kepada perwakilan pengurus masjid yang nantinya akan menyelenggarakan pemotongan hewan qurban, untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat yang paling berhak.

“Bagi umat muslim, Qurban merupakan ibadah yang diajarkan Nabi Ibrahim sebagai wujud kepatuhan atas perintah Tuhan. Selain itu, dengan ber-qurban, kita juga membangun solidaritas terhadap sesama manusia,” kata Direktur SDM IPC, Rizal Ariansyah, di sela-sela penyerahan hewan qurban, yang dilakukan secara simbolik di halaman Masjid Khodamuttaqwa, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (10/8/2019).

Khusus di Pelabuhan Tanjung Priok dan Sunda Kelapa, IPC menyerahkan 83 (delapan puluh tiga) sapi kepada beberapa pengurus masjid yang berada di sekitar area pelabuhan. Penyerahan hewan qurban juga dilakukan di seluruh pelabuhan Kantor Cabang IPC dan Kantor Anak Perusahaan IPC. Total hewan qurban yang diserahkan terdiri dari 245 (dua ratus empat puluh lima) sapi dan 21 (dua puluh satu) kambing.

Rizal menjelaskan, penyaluran hewan qurban untuk masyarakat yang tinggal di sekitar area pelabuhan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun. Kegiatan ini juga merupakan wujud program ‘BUMN Hadir untuk Negeri’, yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

“Tentu masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat yang lebih membutuhkan dan lebih berhak. Pendistribusiannya dilakukan oleh para pengurus mesjid, yang bekerja sama warga setempat,” jelasnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagian pengadaan hewan-hewan qurban di lingkungan IPC dilakukan atas kerja sama dengan PT Berdikari (Persero), perusahaan BUMN yang fokus bergerak di bidang peternakan. PT Berdikari menjamin hewan qurban untuk warga tersebut berkualitas tinggi dan dilengkapi sertifikat keterangan sehat dan halal.

“Kerja sama ini juga bentuk dari Sinergi BUMN,” tambah Rizal. (bvi)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

SEKTOR RIIL

Indonesia Harus Nomor 1 dalam Industri Kelapa

Published

on

Acara FGD Diseminasi Pengembangan Industri Kelapa Menuju Nomor Satu Dunia, yang diselenggarakan oleh BPIK bersama dengan KADIN Indonesia, di Jakarta kemarin (21/8/2019).

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Indonesia sebagai Negara agraris memiliki potensi kelapa terbesar dunia. Luas lahan kelapa yang dimiliki 3,81 juta hektar, dengan hasil panen sebesar 15,4 milliar pertahun. Dari sisi sektor ketenagakerjaan, jumlah petani kelapa mencapai 7 juta dengan tenaga kerja sebanyak 37 juta jiwa tersebar mulai dari tukang panjat, tukang kupas, bagian transportasi, pengepul, industri besar dan kecil serta penjual (retail).

Meski demikian, sektor industri kelapa masih belum digarap maksimal, sehingga kurang bisa maksimal memberikan kontribusinya dalam perekonomian nasional. Produktifitas kelapa Indonesia masih kalah dengan India dan Filipina.

Menurut Edy Ganefo, ketua umum KADIN Indonesia, kelapa itu adalah warisan nenek moyang yang harus kita jaga, lestarikan dan kembangkan. “Indonesia ini memiliki lahan kebun kelapa terluas dunia, tapi kita kalah menjadi negara penghasil terbesar kelapa. Padahal ada Negara lain yang 40% devisanya bersumber dari kelapa” kata Edy Ganefo dalam acara FGD Diseminasi Pengembangan Industri Kelapa Menuju Nomor Satu Dunia, yang diselenggarakan oleh BPIK (Badan Pengembangan Industri Kelapa) bersama dengan KADIN Indonesia, di Jakarta kemarin (21/8/2019). FGD berlangsung selama dua hari dari Rabu-Kamis, 21-22 November 2019.

Sementara itu Mufti Mubarok selaku ketua umum HIMKOTI (Himpunan Masyarakat Kelapa Online Terpadu Indonesia) menyatakan bahwa kegiatan FGD ini untuk menyatukan kepentingan stakeholder kelapa mulai dari petani, pemerintah, industri, eksportir dan masyarakat perkelapaan nasional. HIMKOTI ingin agar industri kelapa Indonesia bisa menjadi nomor satu di dunia. Untuk itu HIMKOTI akan mendorong standarisasi harga hasil kelapa dan olahannya, memberikan bantuan permodalan bagi industri UMKM kelapa, mengembangan sentra sentra industri kelapa nasional, pembukaan lahan baru kelapa serta pengembangan peluang ekspor kelapa berbasis teknologi digital.

Ke depannya, HIMKOTI ingin agar harga kelapa dari petani kelapa tidak lagi rendah harganya, tapi harus bernilai tinggi. Dengan beberapa strategi dan program HIMKOTI tersebut, diharapkan kesejahteraan para petani kelapa semakin meningkat. Dengan demikian, pengembangan industri kelapa bisa menjadi penopang salah satu pilar ekonomi nasional, selain pertambangan dan sawit. (toh)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Tips Tepat Memilih Investasi Properti

Published

on

Alasan berinvestasi di sektor properti adalah potensi untuk melakukan leverage. Artinya investor dapat melipatgandakan keuntungannya dengan menggunakan modal yang jauh dibawah nilai propertinya.

Indonesiaraya.co.id,, Jakarta – Bukan hanya sebagai kebutuhan primer, tapi keberadaan properti kini sudah mulai menjadi alternatif investasi yang menjanjikan. Contoh yang paling sering ditemui berupa investasi sewa apartemen, rumah, ruko, kios hingga sewa lahan. Pakar Investasi Properti, Margiman pun menilai bahwa sebelum menanamkan modal untuk berinvestasi terutama properti, Investor harus mengetahui beberapa alasan utama orang berinvestasi di sektor ini.

“Yang pertama adalah permintaan properti di lokasi yang strategis umumnya lebih besar dari persediaan. Luas tanah di muka bumi ini akan selalu tetap dan untuk menjadikan suatu lokasi menjadi strategis dibutuhkan waktu yang panjang and biaya yang sangat besar (misalkan untuk membuat akses tol, jalur MRT/LRT). Sementara disisi lain jumlah penduduk dan kebutuhannya tentu akan mengalami penambahan. Maka dari itu, ketersediaan properti di lokasi strategis yang terbatas ini memiliki nilai yang yang terus meningkat,” jelas Margiman.

Alasan yang kedua adalah investor bisa mendapat dua jenis potensi keuntungan. “Satu, keuntungan modal atau capital gain dari kenaikan nilai propertinya. Keuntungan ini baru akan diperoleh saat investor tersebut menjual propertinya di waktu yang tepat. Keuntungan kedua didapat dari pemasukan tahunan sewa propertinya atau pendapatan lainnya yang berasal dari properti tersebut. Atau yang biasa disebut keuntungan arus kas atau cash flow,” tambah pria asal Bandung ini.

Selain itu, alasan berinvestasi di sektor properti adalah potensi untuk melakukan leverage. Artinya investor dapat melipatgandakan keuntungannya dengan menggunakan modal yang jauh dibawah nilai propertinya. Misalkan, saat ada peluncuran produk baru, seringkali developer memberikan cara bayar yang ringan, seperti cicilan uang muka kemudian pelunasan. Jadi investor bisa saja hanya mengeluarkan modal 20% untuk kemudian mendapatkan keuntungan dari kenaikan nilai propertinya saat dialihkan ke pembeli lain.

“Contoh lain, karena luas lahan di lokasi yang strategis terbatas maka investor yang sudah memiliki properti di lokasi tersebut bisa meningkatkan nilai aset yang dimiliki dengan hanya menambah luas bangunannya. Misalkan rumah satu lantai menjadi dua lantai. Maka otomatis keuntungan dari menyewakan properti tersebut pun akan bertambah,” kata pria yang sudah 30 tahun menggeluti bidang properti ini.

Di luar tiga alasan tersebut, yang perlu dipahami juga adalah model bisnis properti merupakan investasi jangka panjang. Artinya, sang investor perlu beberapa waktu untuk dapat menikmati keuntungan dari investasinya ini.

Tak hanya memerlukan waktu yang cukup panjang, bisnis properti juga butuh modal yang tidak sedikit. Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk menggeluti bisnis atau berinvestasi di bidang properti, sebaiknya investor memerhatikan beberapa tips yang penting ini.

Tips pertama, carilah potensi lokasi yang strategis. “Faktor utama yang mendorong peningkatan nilai properti dimulai dari letak lokasi yang dipilih. Salah satu indikator lokasi yang strategis, adalah pertumbuhan permintaan di lokasi tersebut. Perlu diperhatikan hal-hal unik di lokasi tersebut yang menyebabkan pertumbuhan permintaan tersebut, misakan akses tol, keberadaan fasilitas Pendidikan yang favorit, ketersediaan transportasi umum yang nyaman dan sebagainya

Tips kedua, perhatikan kontinuitas pengembangannya dimasa depan. “Selain lokasi, faktor selanjutnya yang menentukan bertahan lama tidaknya bisnis properti adalah rencana pengembangan suatu wilayah di masa depan. Bisnis dikatakan bisa bertahan dalam jangka panjang jika dianggap bernilai dan memertimbangkan rencana pengembangan di masa depan. Misalnya, wacana akan diadakannya pelebaran infrastuktur jalan atau pembangunan fasilitas umum atau bahkan perencanaan untuk pengembangan menjadi kota baru mandiri,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, bahwa investor harus peka mengetahui selera pasar. Investor harus pintar-pintar mengetahui selera pasar. Contohnya, mengetahui tren apa yang sedang berkembang dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Sehingga, produk properti yang ditawarkan sesuai dengan trend tersebut dan diminati oleh banyak orang.

Selain itu, tips berikutnya adalah kenali pesaing. “Tak kalah pentingnya, investor juga harus mengenal baik siapa kompetitornya. Untuk dapat bersaing secara sehat tanpa menghalalkan segala cara, investor harus menggali informasi penting seputar kekuatan dan kekurangannya misalkan menggunakan metode SWOT. Dengan demikian agar investor tidak tertinggal dengan pesaing dalam menawarkan propertinya” tambah Margiman.

Tips tambahan yang sering terlupakan adalah mengevaluasi rencana dari investasi tersebut. “Sejauh mana rencana tersebut masih relevan dengan situasi yang ada. Misalkan satu lokasi di masa lalu sangat strategis dan diminati banyak pembeli. Namun arah pengembangan kota atau hadirnya investor besar di lokasi lain, menjadikan lokasi tersebut menjadi kurang strategis. Maka Investor harus berani melakukan switching dari properti yang dimilikinya dengan properti yang memiliki potensi yang lebih baik di masa mendatang.

Misalkan, dalam konteks investasi di Batam, Nuvasa Bay yang dikembangkan oleh Sinarmas Land diposisikan sebagai the new face of Batam. Hal ini dapat menjadi bahan pertimbangan bahwa Nuvasa Bay Batam sebagai salah satu potensi investasi properti pilihan yang menguntungkan dimasa mendatang. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Kemenperin Bangun Ekosistem Industri Otomotif

Published

on

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian berupaya mengakselerasi pembangunan ekosistem industri otomotif di Indonesia dalam upaya memproduksi kendaraan listrik.

Hal ini sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

“Seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo, kita sudah mulai membuka ruang untuk pengembangan mobil listrik di dalam negeri. Maka itu, kita perlu membangun eksosistem industrinya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto lewat keterangannya di Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Regulasi lainnya yang akan segera diterbitkan, yaitu revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

“Regulasi itu sudah difinalisasi. Jadi, sejalan dengan roadmapindustri otomotif kita, termasuk dalam pengembangan mobil listrik. Apalagi, beberapa industri otomotif sudah berkomitmen untuk investasi. Minimal ada investasi USD4 miliar sampai tahun 2025,” ungkapnya.

Airlangga optimistis, target ekspor mobil bisa menembus satu juta unit atau senilai 30 miliar dolar AS pada 2025.

“Kita akan membuat produk otomotif yang kompetitif dan sesuai dengan selera pasar global, termasuk untuk kendaraan listrik,” ujarnya.

Tidak hanya mendorong pengembangan mobil listrik, Kemenperin juga sedang melakukan uji coba pengembangan motor listrik.

“Kami melakukan percobaannya di Bandung, untuk mengetahui bisnis model yang cocok dalam upaya pengembangan motor listrik, karena berbeda dengan bisnis model mobil listrik. Di Bandung, kami telah melibatkan pihak univeritas dan minimarket. Nantinya, model baterai itu bisa dipertukarkan,” tuturnya.

Apabila studi itu sudah selesai, akan dilanjutkan lagi di DKI Jakarta dan Bali.

“Kami sudah berbicara dengan Pemerintah Daerah Jakarta dan Bali untuk mencoba prototipe di dua kota tersebut,” imbuhnya.

Untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, Kemenperin juga telah mendorong investasi di sektor industri baterainya. Sebab, baterai menjadi salah satu komponen yang vital pada kendaraan listrik.

“Kita sudah punya industri yang mengolah bahan bakunya dari nikel. Tinggal kita membuat baterai cell dan baterai pack. Untuk baterai pack sudah pasti dibuat di dalam negeri, karena itu menjadi bagian dari upaya pengembangan industri otomotif kita,” terangnya.

Kemenperin juga terus memacu hilirisasi industri, seperti peningkatan nilai tambah pada CPO. Ini terkait dengan target menghasilkan 100 persen biodiesel (B100).

“Ini memungkinkan untuk diproduksi. Sebab, B100 ini nanti standardnya seperti Euro 4. Jadi, bisa dimanfaatkan untuk biodiesel, bio gasoline, dan bio avtur. Kalau semua ini kita kembangkan, maka permintaan domestik cukup untuk menyerap industri CPO kita,” tandasnya.seperti dikutip antara.(spg)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending