Connect with us

FINANSIAL

Jumlah Kredit Macet Nasabah Perbankan Meningkat, Krisis dan Bertambahnya Pengangguran di Depan Mata

Published

on

Anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, Harryadin Mahardika.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Krisis moneter rupanya sudah ada di depan pintu rumah kita. Bangkrutnya beberapa perusahaan besar di Indonesia serta naiknya jumlah kredit macet bisa menjadi indikator awal situasi ini.

Anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, Harryadin Mahardika mengatakan, khusus untuk kenaikan kredit macet, masyarakat bisa melihat data NPL dari BRI yang baru-baru ini diumumkan.

“Sebagai salah satu bank nasional yang paling besar menyalurkan kredit, kenaikan NPL (kredit macet) yang dialami Bank Rakyat Indonesia bisa menjadi indikator bahwa pemerintah perlu lebih waspada,” kata Harryadin melalui keterangannya, Jumat (26/10/2018).

Dia mengungkapkan, BRI mengalami kenaikan NPL menjadi 2,5% pada kuartal kedua tahun 2018 ini, akibat kredit macet tiga korporasi besar. Sebelumnya NPL BRI ada di kisaran 2,41% di kuartal pertama 2018. Sementara di kuartal kedua tahun 2017 NPL ada di 2,33%.

Harryadin menambahkan, ketiga korporasi yang kreditnya macet tersebut adalah sebuah perusahaan energi (minyak), sebuah BUMN dan sebuah perusahaan multinasional. Nilai kredit macet ketiganya diperkirakan mencapai triliunan Rupiah jika mengacu pada total kredit yang disalurkan BRI kuartal ini sebesar Rp 808,9 triliun. Ketiganya merupakan korporasi besar dengan ribuan karyawan.

“Kita juga menyaksikan skandal Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) atau yang dikenal dengan toko kredit Columbia, yang mengakibatkan kerugian Rp 4,07 Triliun, termasuk bank BUMN seperti Bank Mandiri.

Sementara itu, kita juga menyaksikan bangkrutnya beberapa perusahaan besar beberapa waktu ini. PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (MPISW) telah dinyatakan pailit. Perusahaan teh ini bangkrut karena tidak mampu membayar dengan utang total Rp 1,5 triliun kepada krediturnya.

“Kejadian yang sama juga terjadi baru-baru ini pada salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia yaitu PT Nyonya Meneer. Perusaah ini bangkrut karena tak mampu membayar utang sebesar Rp 267 miliar kepada beberapa bank dan kreditur. Kita juga masih ingat kebangkrutan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) yang mengelola gerai 7-Eleven (Sevel) di akhir tahun 2017,” paparnya.

Di sektor manufaktur, kata dia, ada PT Korindo Aria Bima Sari (KABS) yang sudah beroperasi selama 38 tahun dan akhirnya tutup karena kondisi ekonomi yang terus memburuk. Perusahaan plywood (kayu lapis) terbesar di Kalimantan Tengah itu mengalami kesulitan finansial sehingga terpaksa menutup operasional perusahaan dan merumahkan (PHK) 1.076 karyawannya.

“Kejadian demi kejadian ini tentu harus mulai dijadikan warning, terutama karena juga bisa berimbas serius akibat berkurangnya lapangan pekerjaan. Diperkirakan setiap bulan terdapat lebih dari 2.500 lapangan pekerjaan di tanah air yang hilang akibat perusahaan yang tutup/bangkrut atau karena pengurangan karyawan akibat kesulitan finansial atau kredit macet,” bebernya.

Menurut Harryadin, hal tersebut bisa menjadi bom waktu bagi perekonomian kita apabila tidak segera ditangani. Belum lagi kenyataan bahwa banyak kredit yang bermasalah kini direstrukturisasi terus-menerus oleh bank-bank nasional hanya untuk menahan agar NPL tidak mengalami peningkatan terlalu tajam. Rata-rata NPL bank nasional saat ini adalah 2,7%.

“Beberapa bank sudah mengalami NPL diatas rata-rata ini, termasuk Bank Muamalat di mana Cawapres Ma’ruf Amin menjadi komisarisnya, yang NPL nya sudah diatas 4% atau hampir mencapai ambang batas yang diperbolehkan. Kita menyarankan kepada pemerintah agar mengurangi retorika dengan jargon-jargon yang tidak substantif, dan segera bekerja memperbaiki keadaan,” pungkasnya. (ver)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS

Salah Kelola, Utang BUMN Terus Membengkak

Published

on

Diskusi bertajuk "Selamatkan BUMN Sebagai Benteng Nasional" di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Terus membengkaknya utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai karena salah urus perusahaan plat merah itu. Pasalnya, BUMN saat ini sudah menjadi alat politik.

“Jadi BUMN itu Badan Usaha Milik Negara bukan badan milik penguasa. Seperti Tentara Nasional Indonesi, bukan Tentara Penguasa Indonesia. Ini harus diclear-kan,” kata Ekonom Said Didu dalam diskusi bertajuk ‘Selamatkan BUMN Sebagai Benteng Nasional’ di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

BACA JUGA : Mantan Menteri Jokowi : Prabowo-Sandi Ingin BUMN untuk Seluruh Rakyat Indonesia

Said Didu yang juga Mantan Sekretaris Kementerian BUMN periode 2004-2012 itu pun mengkritik penugasan pemerintah terhadap BUMN. Sebab, penugasan itu telah membuat BUMN merugi, bukan untung.

Penugasan itu, PT Pertamina (Persero) yang harus menanggung beban akibat menjual BBM premium di bawah harga keekonomian. Akhirnya BUMN itu pun harus menanggung nilai selisihnya dari harga keekonomisan.

Selain itu, kepada PT PLN (Persero) yang juga terbebani dengan menjual tarif listrik. Pemrintah tidak memperbolehkan PT PLN menaikan tarif dasar listrik hingga tahun 2019.

Hal ini tentunya membebani PLN, dimana harga BBM dan batu bara untuk menggerakan pembangkit harganya naik. Meski pada belakangan pemerintah menetapkan DMO  bara.

“Apabila ada penugasan kepada BUMN tidak ekonomis, pemerintah mustinya mengganti (dengan ABPN). Tapi ini malah memberi penugasan tapi kerugian itu ditanggung oleh BUMN,” kata dia.

Menurut dia, bila BUMN sudah mendapat intervensi untuk kepentingan politik, maka kehancuran perusahaan plat merah itu tinggal menunggu waktu. Seperti saat ini, sebagian BUMN yang sudah terlilit hutang besar.

“Jadi jangan ada penguasa yang menggunakan BUMN karena bukan milik dia, tapi milik negara ini pengkhayatan yang prinsip,” kata dia.

Adapun data Kementerian BUMN dengan komisi VI DPR pada 3 Desember lalu, hingga akhir September 2018, total utang BUMN di Indonesia mencapai Rp 5.271 triliun. 

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 3,311 triliun disumbang dari BUMN sektor keuangan, dengan komponen terbesarnya berupa dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang mencapai 74% dari total utang. (dam)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

FINANSIAL

AXA Mandiri Bayarkan Klaim Asuransi Rp1,5 Miliar Korban Lion Air

Published

on

AXA Mandiri membayarkan klaim kepada pemegang polis atau ahli waris dari nasabah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – AXA Mandiri membayarkan klaim kepada pemegang polis atau ahli waris dari nasabah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

“Pasca mendapatkan informasi mengenai kecelakaan tersebut, AXA Mandiri secara proaktif menindaklanjuti temuan dan mencari informasi mengenai kemungkinan adanya nasabah kami yang menjadi korban kecelakaan tersebut,” ujar Direktur AXA Mandiri Henky Oktavianus dalam keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Dari hasil penelusuran informasi tersebut, perusahaan telah menyerahkan klaim asuransi senilai lebih dari Rp1,5 miliar kepada pemegang polis atau ahli waris dari empat orang nasabah musibah kecelakaan Lion Air JT 610.

Dari jumlah tersebut, klaim senilai Rp1,14 miliar diberikan kepada satu orang pemegang polis atau ahli waris sebagai manfaat uang pertanggungan dari produk asuransi jiwa.

Total pembayaran klaim tersebut berpotensi bertambah mengingat proses pembayaran klaim masih berlanjut untuk beberapa nasabah AXA Mandiri korban Lion Air JT610 lainnya.

“Kami akan terus secara aktif melakukan pengkinian data mengenai nasabah AXA Mandiri yang menjadi korban kecelakaan ini,” ujarnya. Demikian, seperti dikutip Antara. (cit)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

FINANSIAL

Pertumbuhan Aset CIMB Niaga Meningkat 63,7 Persen

Published

on

PT Bank CIMB Niaga Tbk (UUS CIMB Niaga) berhasil meningkatkan pertumbuhan aset hingga 63,7 persen setiap tahunnya.

Indonesiaraya.co.id, Bogor – Unit Usaha Syariah PT Bank CIMB Niaga Tbk (UUS CIMB Niaga) berhasil meningkatkan pertumbuhan aset hingga 63,7 persen setiap tahunnya (Year-On-Year) atau setara dengan Rp31,2 triliun.

“Itu dibukukan melalui kinerja positif karyawannya sepanjang sembilan bulan pertama dan berakhir pada 30 September 2018,” kata Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara di Bogor, Senin (10/12/20180.

Menurut dia pada peningkatan aset ini didorong oleh kinerja pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Dan total pembiayaan tercatat sebesar Rp24,1 triliun atau naik 62,5 persen Y-o-Y.

Penyaluran pembiayaan tetap diimbangi dengan asas kehati-hatian yang tercermin dari tingkat rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) sebesar 1,07 persen Keikutsertaan kami dalam berbagai proyek infrastruktur pemerintah menjadi salah satu kontributor utama yang meningkatkan penyaluran pembiayaan di segmen Business Banking,” katanya.

Sementara pada segmen konsumen perbankan (Consumer Banking) mengalami peningkatan berasal dari pembiayaan perumahan yang terus tumbuh secara baik.

Dalam pertumbuhan pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami peningkatan sebesar Rp22 triliun atau tumbuh 30,3 persen Y-o-Y.

Ia menambahkan CIMB Niaga Syariah terus meningkatkan DPK dengan menggenjot dana murah, di antaranya melalui kerja sama kartu debit Tabungan IB ON Account dengan HIJUP (HIJUP Membership Card) dan Ria Miranda (RMLC Affinity Card) untuk menggarap segmen komunitas muslim.

Dengan kinerja bisnis yang positif, CIMB Niaga Syariah berhasil meningkatkan laba sebelum pajak (profit before tax/PBT) sebesar Rp523,5 miliar atau naik 45,2 persen Y-o-Y. Untuk menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis ke depan, kami akan memaksimalkan penawaran produk-produk unggulan kepada nasabah dan menghadirkan inovasi melalui produk-produk baru seperti CIMB Niaga Syariah Platinum Card, katanya.

Lanjut Pandji dalam hal ini Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga Syariah) akan terus melakukan perubahan dan meningkatkan kinerja agar pencapaian terbaik dapat diraihnya.

Pasalnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah menunjukkan hal baik dari berbagai aspek khususnya pembangunan daerah di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi. (mfd)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending