SURABAYA – Karina Putri Larasati Kurniawan adalah siswi kelas 7 SMP yang hobi menulis sejak kecil. Minat menulisnya tumbuh sejak kelas 6 SD dan ia menyimpannya secara diam-diam.
Tanpa banyak diketahui guru dan teman, ia terus menulis cerita di buku catatan. Ia mulai menyusun naskah novel “SATU HATI” secara serius saat masuk SMP.
Seluruh alur, tokoh, dan dialog dalam novel dikembangkan sendiri oleh Karina. Setelah naskah rampung, ia mengirimkannya ke penerbit yang membuka peluang pemula.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karyanya diterima dan diterbitkan secara resmi oleh penerbit lokal terpercaya. Novel “SATU HATI” kini telah memiliki ISBN dan masuk distribusi nasional resmi.
Buku tersebut juga tercatat dalam katalog Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hal ini menjadikan Karina sebagai salah satu penulis muda berprestasi nasional.
Novel “SATU HATI” Masuk Perpusnas dan Koleksi Sekolah Karina
Setelah proses terbit selesai, buku “SATU HATI” resmi terdaftar dalam sistem ISBN. Data katalog ISBN novel Karina dapat diakses langsung melalui laman resmi Perpusnas.
Sekolah Karina turut mengapresiasi dan memasukkan buku itu ke perpustakaan sekolah. Pihak sekolah menyambut positif dan menyatakan dukungan terhadap karya literasi siswa.

Kepala sekolah SMPN 37 Surabaya, Ibu Hartini, S.Pd, M.Si. menyebut karya Karina sangat membanggakan. Menurutnya, prestasi Karina bisa menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk berkarya.
Novel tersebut kini tersedia sebagai bacaan wajib literasi di perpustakaan sekolah. Pihak sekolah juga berencana mengadakan bedah buku dan lokakarya menulis kreatif.
Karina akan dilibatkan sebagai pembicara dalam kegiatan literasi siswa ke depan. Langkah ini memperkuat sinergi antara bakat siswa dan ekosistem pendidikan yang mendukung.
Baca Juga:
LOTTE Chemical Indonesia, Milliken, dan Tederic Gelar Seminar tentang Solusi Polipropilena Mutakhir
iQIYI Resmi Memulai Produksi Serial Original Lokal Pertama di Indonesia, Menggandeng Telkomsel
Terbuka dan Inklusif, Haikou Semakin Cepat Berkembang sebagai Pusat Seni Pertunjukan Internasional
Karina Ceritakan Awal Mula Menulis Hingga Novel Terbit
Karina menyebut bahwa menulis adalah bentuk ekspresi pribadi yang sangat ia nikmati. Ia mengaku awalnya hanya menulis cerita sebagai hobi pribadi di waktu luang.
Setelah menulis rutin, ia mulai merasa cerita itu layak dibagikan kepada orang lain. Dorongan untuk menerbitkan datang setelah melihat penulis cilik lain yang sukses.
Dengan tekad kuat, ia menyempurnakan naskahnya dan mempelajari alur penerbitan. Dari ide sederhana, novel “SATU HATI” lahir sebagai karya perdana yang utuh.
Karina berharap novelnya bisa menghibur dan memotivasi teman-teman seusianya. Ia ingin menunjukkan bahwa menulis bisa dimulai sejak usia berapa pun.
Karina juga mengajak teman-temannya untuk tidak takut mengungkapkan ide lewat tulisan. Baginya, dunia menulis adalah tempat untuk bebas berimajinasi dan berkarya positif.
Persiapan Rilis Jilid Kedua dan Buku Motivasi Pelajar
Karina tidak berhenti berkarya setelah sukses dengan “SATU HATI” jilid pertama. Ia kini tengah menulis lanjutan ceritanya dalam bentuk “SATU HATI” jilid kedua.
Baca Juga:
Savaya Group Luncurkan Zumana, Destinasi Tepi Pantai Terbaru di Kawasan Ikonik Pantai Kuta
Jilid dua akan melanjutkan kisah dengan konflik baru yang lebih matang dan kompleks. Selain itu, Karina juga menulis buku kutipan motivasi untuk remaja seumurannya.
Buku tersebut berisi refleksi, pemikiran, dan pengalaman pribadi selama proses menulis. Ia ingin berbagi semangat dan tips untuk membangun kepercayaan diri lewat tulisan.
Karina juga aktif membaca dan belajar teknik menulis dari berbagai referensi. Ia mengatakan bahwa membaca sangat membantunya memperkaya gaya bahasa dan diksi.
Rencananya, kedua buku itu akan dirilis dalam tahun ajaran baru mendatang. Karina berharap penerbitan keduanya bisa menginspirasi lebih banyak pelajar Indonesia.
Dukungan Orang Tua dan Sekolah, Kunci Tumbuhnya Kreativitas Anak
Orang tua Karina sangat mendukung perkembangan minat dan bakat menulis putrinya. Mereka menyediakan waktu, ruang, dan fasilitas untuk menunjang kegiatan menulis Karina.
Mereka mengaku awalnya tidak menyangka bahwa hobinya bisa sampai terbit menjadi buku. Menurut mereka, Karina sejak kecil memang gemar membaca buku cerita dan novel.
Pihak keluarga berkomitmen untuk terus mendampingi setiap langkah literasi Karina. Sekolah juga menyediakan platform apresiasi seperti perpustakaan dan diskusi karya.
Kolaborasi orang tua dan sekolah menjadi fondasi kuat perkembangan bakat anak. Dukungan semacam ini menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah terhadap kreativitas.***











