Connect with us

HUKUM

Kejaksaan dan KPK Diminta Bangun Sinergi Penegakan Hukum

Published

on

Ketua Komisi III DPR RI, Herman Hery. (Foto : dpr.go.id)

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Ketua Komisi III DPR RI Herman Hery mengimbau agar Kejaksaan Agung RI dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat membangun sinergi dalam penegakan hukum. Dia juga mengungkapkan, Komisi III bertekat untuk membangun kemitraan yang profesional dan bermartabat, sehingga fungsi dan tugas masing-masing lembaga negara bisa berjalan dengan efektif. Bahkan, Komisi III selalu memberikan masukan yang konstruktif bagi dua lembaga ini, dan selalu menghindari pernyataan-pernyataan yang berpotensi membuat gaduh tugas penegakan hukum.

“Kami sebagai Pimpinan Komisi III mengimbau kepada dua lembaga ini, hendaknya dua lembaga ini bisa membangun sinergi, jangan masing-masing punya ego kelembagaan sendiri-sendiri. Sehingga sinergi aparat penegak hukum secara moral terbangun dengan baik, ada komunikasi yang baik. Untuk menghindari kegaduhan yang cenderung mengadu domba antara Kejaksaan dengan KPK,” papar Herman saat rapat kerja dengan Kejaksaan RI dan KPK di Ruang Rapat Komisi III, Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2020).

Dalam rapat kerja yang juga membahas tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKAKL) yang ada di Kejaksaan RI dan KPK ini, Komisi III DPR RI memberikan dukungan peningkatan anggaran yang ada di dua lembaga ini. Ada pun pagu anggaran Kejaksaan RI tahun 2021 sebesar Rp. 9,243 triliun serta usulan tambahan yang diajukan sebesar Rp 400 miliar. Sementara pagu anggaran KPK tahun 2021 sebesar Rp 1,055 triliun serta usulan tambahan yang diajukan sebesar Rp 825,92 miliar.



“Pada kesemapatan yang berbahagia ini, saya melihat bahwa dukungan Komisi III terhadap Kejaksaan Agung dan tehadap KPK dalam bidang anggaran, walaupun tidak luar biasa, tapi ada komitmen Komisi III untuk mendukung kinerja para mitra, yakni Jaksa Agung dan KPK, meskipun dukungan anggaran masih jauh dari memadai tapi paling tidak ada penambahan-penambahan,” jelas Herman.

Dukungan anggaran ini bertujuan, bahwa Komisi III ingin menunjukkan dukungan kepada mitra kerja terkait dengan tugas dan fungsi Kejaksaan dan KPK. Dia pun menegaskan kembali dukungan anggaran ini harus dibarengi dengan sinergi dalam tugas penegakan hukum. “Kami Komisi III menginginkan ada harmoni antara kedua belah pihak sehingga ada sinergi dalam tugas dan fungsi penegakan hukum,” imbuh Herman. (dpr)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

HUKUM

Mempertanyakan Kredibilitas Putusan Pelanggaran Kode Etik Ketua KPK

Published

on

Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Firli Bahuri. (Foto : Instagram @firli_bahuri)

Indonesiaraya.co.id – Kualitas penegakan kode etik di Komisi Pemberantasan Korupsi layak dipertanyakan. Putusan Dewan Pengawas KPK hari ini yang telah menjatuhkan sanksi ringan berupa teguran tertulis II kepada Ketua KPK, Firli Bahuri dalam kasus penggunaan moda helikopter patut dipertanyakan. Mengingat secara kasat mata tindakan Firli Bahuri yang menggunakan moda transportasi mewah itu semestinya telah memasuki unsur untuk dapat diberikan sanksi berat berupa rekomendasi agar mengundurkan diri sebagai Pimpinan KPK. 

Indonesia Corruption Watch memberikan lima catatan atas putusan Dewan Pengawas yang menjatuhkan sanksi ringan kepada Ketua KPK. Pertama, alasan Dewan Pengawas yang menyebutkan Firli tidak menyadari pelanggaran yang telah dilakukan sangat tidak masuk akal. Sebagai Ketua KPK, semestinya  yang bersangkutan memahami dan mengimplementasikan Peraturan Dewan Pengawas Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Komisi Pemberantasan Korupsi. Apalagi tindakan Firli itu juga bersebrangan dengan nilai Integritas yang selama ini sering dikampanyekan oleh KPK, salah satunya tentang hidup sederhana. 

Kedua, Dewan Pengawas tidak menimbang sama sekali pelanggaran etik Firli saat menjabat sebagai Deputi Penindakan. Penting untuk ditegaskan, ICW pada tahun 2018 melaporkan Firli ke Deputi Pengawas Internal dan Pengaduan Masyarakat atas dugaan melakukan pertemuan dengan pihak yang sedang berperkara di KPK. Berdasarkan laporan tersebut, pada September tahun 2019 yang lalu KPK mengumumkan bahwa Firli Bahuri terbukti melanggar kode etik, bahkan saat itu dijatuhkan sanksi pelanggaran berat. Sementara dalam putusan terbaru, Dewan Pengawas menyebutkan bahwa Firli tidak pernah dihukum akibat pelanggaran kode etik. 



Ketiga, Dewan Pengawas abai dalam melihat bahwa tindakan Firli saat mengendarai moda transportasi mewah sebagai rangkaian atas berbagai kontroversi yang sempat dilakukan. Mulai dari tidak melindungi pegawai saat diduga disekap ketika ingin melakukan penangkapan sampai pada pengembalian ‘paksa’ Kompol Rossa Purbo Bekti. Sehingga, pemeriksaan oleh Dewan Pengawas tidak menggunakan spektrum yang lebih luas dan komprehensif. 

Keempat, putusan Dewan Pengawas terhadap Firli sulit untuk mengangkat reputasi KPK yang kian terpuruk. Sebab, sanksi ringan itu bukan tidak mungkin akan jadi preseden bagi pegawai atau Pimpinan KPK lainnya atas pelanggaran sejenis. Jika dilihat ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Dewas Nomor 2 Tahun 2020, praktis tidak ada konsekuensi apapun atas sanksi ringan, hanya tidak dapat mengikuti program promosi, mutasi, rotasi, tugas belajar atau pelatihan, baik yang diselenggarakan di dalam maupun di luar negeri. 

Kelima, lemahnya peran Dewas dalam mengawasi etika Pimpinan dan pegawai KPK. Dalam kasus Firli, semesti Dewas dapat mendalami kemungkinan adanya potensi tindak pidana suap atau gratifikasi dalam penggunaan helikopter tersebut. Dalam putusan atas Firli Bahuri, Dewas tidak menyebutkan dengan terang apakah Firli sebagai terlapor membayar jasa helikopter itu dari uang sendiri atau sebagai bagian dari gratifikasi yang diterimanya sebagai pejabat negara. Dewas berhenti pada pembuktian, bahwa menaiki helikopter merupakan bagian dari pelanggaran etika hidup sederhana.  

ICW sejak awal menilai bahwa eksistensi Dewan Pengawas tidak pada kelembagaan KPK mengingat fungsi pengawasan KPK secara sistem telah berjalan dengan baik dengan adanya Deputi Pengawas Internal dan Pengaduan Masyarakat. Maka dari itu, ICW bersama koalisi masyarakat sipil lain mengajukan uji formil atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 dengan harapan agar Mahkamah Konstitusi dapat membatalkan keberlakuan regulasi tersebut sekaligus membubarkan Dewan Pengawas. 

Terlepas dari putusan sanksi ringan yang mengecewakan tersebut, ICW menilai pelanggaran kode etik yang terbukti dilakukan Firli sudah lebih dari cukup untuk dirinya mengundurkan diri. Kesimpulan ini bukan tanpa dasar.

Pertama, Pasal 29 ayat (1) huruf f dan g Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 telah tegas menyebutkan bahwa untuk menjadi Pimpinan KPK harus memenuhi syarat-syarat tertentu, diantaranya: tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan cakap, jujur, memiliki integritas moral yang tinggi dan memiliki reputasi yang baik. Tentu Firli Bahuri tidak lagi memenuhi poin tersebut, sebab telah dua kali terbukti melanggar kode etik KPK. 

Kedua, TAP MPR No VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa menyebutkan bahwa penyelenggara negara harus mengundurkan diri apabila merasa dirinya telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat, bangsa, dan negara. (ipw)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HUKUM

Polri Limpahkan Berkas Perkara Red Notice Djoko Tjandra ke Kejagung

Published

on

Djoko Tjandra. (Foto : Instagram @akpol2002)

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Bareskrim Polri kembali melimpahkan berkas perkara kasus red notice Joko Sugiarto Tjandra (JST) alias Djoko Tjandra ke Kejaksaan Agung (Kejagung) hari ini. Pelimpahan berkas dilakukan setelah penyidik Bareskrim melengkapi berkas perkara.

“Untuk berkas perkara Tipikor JST, NB dan PU hari Ini Senin 21 September 2020, rencana berkas akan dikirim kembali ke JPU,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono, Senin (21/9/2020).

Dalam kasus dugaan gratifikasi pencabutan red notice Djoko Tjandra, dua tersangka diduga berperan sebagai penyuap dan dua tersangka lainnya penerima suap.



Dua penyuap yang dimaksud adalah Djoko Tjandra serta pengusaha Tommy Sumardi. Sedangkan dua penerima suap adalah mantan Kadiv Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte dan mantan Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo. (pol)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

HUKUM

Ini 12 Pejabat Baru KPK yang Segera Dilantik, Siapa Saja?

Published

on

Gedung KPK Jakarta. (Foto : Instagram @yokii.___)

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera akan melantik 12 nama mengisi posisi jabatan penting setelah  dinyatakan lolos proses tahapan seleksi sejak Juni 2020, pada, Selasa (21/9/2020).

“Proses seleksi itu diantaranya meliputi seleksi administrasi dan uji kompetensi oleh pihak ketiga yang independen, profesional dan terpercaya, pengecekan rekam jejak maupun kepatuhan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara),” kata Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri dalam keterangannya, Selasa (21/9/2020).

Kemudian, kata Ali,  mereka juga dinyatakan lolos tes kesehatan dan terakhir telah memenuhi syarat setelah presentasi dan wawancara dengan pimpinan KPK terkait visi misi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.



Diungkapkan, keduabelas (12) nama-nama  dinyatakan lolos seleksi itu diantaranya Direktur Dumas (Pengaduan Masyarakat) Tomi Murtomo, Direktur Pinda (Penyidikan Definitif) Riki Arif Gunawan dan Direktur Penyidikan Brigjen Polisi Setyo Budiyanto.

Kemudian jabatan Koordinator Wilayah (Korwil KPK) masing-masing adalah Asep Rahmat Suwanda, Aminuddin, Budi Waluyo, Aida Ratna Zulaiha, Didik Agung Widjanarko, Agung Yudho Wibowo, Bahtiar Ujang Purnama, Kumbul Kuswijanto Sudjadi dan Yudhiawan.

Ditambahkan, latar belakang sejumlah pejabat struktural yang telah terpilih tersebut masing-masing berasal dar institusi Polri, Kemenkominfo, dan internal KPK.

“Pelantikan direncanakan akan dilakukan besok, Selasa 22 September 2020 di Auditorium Gedung Penunjang KPK (Belakang Gedung KPK Merah Putih) sekitar pukul 10.00 WIB,” tambahnya. 

Untuk kebutuhan peliputan dan publikasi secara online, kegiatan pelantikan tersebut akan disiarkan melalui media sosial KPK seperti Youtube KPK RI, Twitter @KPK_RI, IG Story @official.kpk dan Facebook Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (rad)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending

Redaksi media Indonesiaraya.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, Iklan dan Sponsorship, serta kerjasama bisnis lainnya.

Penerbit :
PT Media Indonesia Raya

Manajemen Media :
Indonesia Raya Media Center (IRMC)

Email Center :
redindonesiaraya@gmail.com
redaksi@indonesiaraya.co id

WA Center :
0878-15557788, 0819-15557788

Terbit Sejak 8 Desember 2017