Connect with us

MEDIA

Masyarakat Diminta Selektif Konsumsi Informasi dari Media

Published

on

Jika masyarakat merasa bahwa pendidikan sudah membaik, maka seharusnya semakin dewasa dalam melihat persoalan.

Indonesiaraya.co.id, Riau – Pengamat Politik dari Universitas Andalas, Syaiful Wahab mengajak dan meminta masyarakat kini agar harus lebih selektif lagi menerima atau mengonsumsi berbagai informasi dan pesan dari media pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang perselisihan hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

“Jadilah bangsa yang bijaksana dan beradab dalam mengonsumsi info media yang menyesatkan dan memecah belah bangsa,” kata Syaiful saat dihubungi dari Pekanbaru, Selasa (2/7/2019).

Pendapat demikian disampaikannya terkait terjadinya polarisasi kehidupan bangsa dan negara pascakeputusan MK tersebut karena pengaruh media massa dan media sosial.

Menurut dia, sejak keputusan MK dikeluarkan pada 27 Juni 2019, memang masih melihat di media massa dan media sosial, memuat tentang pernyataan dan komentar publik terhadap hasil keputusan MK tersebut.

Kemungkinan besar, katanya menyebutkan, masyarakat yang masih kecewa dengan keputusan itu tidak mengikuti dengan baik seluruh proses persidangan, khususnya argumentasi logis dan rasional yang dapat menggugurkan tuduhan-tuduhan kecurangan itu.

“Mereka mungkin hanya menunggu hasil akhir keputusan MK saja tanpa memahami argumentasi dan sanggahan yang sangat masuk akal,” katanya.

Dan memang, katanya lagi, harus diakui perdebatan selama proses persidangan itu sangat “berat” untuk dipahami oleh masyarakat awam karena menggunakan dalil-dalil hukum yang ilmiah sehingga kalau tidak dicerna dengan baik akan sulit dimengerti.

Akan tetapi, katanya, Hakim MK itu merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang, dedikasi dan reputasi yang sangat baik dalam bidang hukum.

“Maka sudah seharusnya kita mempercayakan kepada mereka bahwa mereka mampu membuat keputusan yang baik, benar dan adil. Jika kita tidak mempercayai mereka, lantas lembaga hukum tertinggi apa lagi yang bisa kita percaya? Tidaklah mungkin 9 orang hakim bisa membuat keputusan yang sama, jika di antara mereka saling berbeda pandangan,” katanya.

Selain itu, Syaiful meyakini bahwa masing-masing hakim tersebut sudah mengkajinya dengan baik persoalan-persoalan yang disengketakan dan dalil yang digunakan untuk memutuskan perkara.

Jika masyarakat merasa bahwa pendidikan sudah membaik, maka seharusnya semakin dewasa dalam melihat persoalan. Jika merasa bahwa bangsa ini sudah demokratis, maka sudah seharusnya juga harus paham bagaimana hidup berbangsa dan bernegara.

“Dalam demokrasi harus ada kedewasaan berpikir, tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi sampai mendendam,” katanya.

Syaiful meyakinkan bahwa pernyataan dan status dendam ini yang masih muncul di ruang publik dan ini sangat memprihatinkan, padahal kalau dendam ini tetap dipelihara maka akan menjadi penyakit dan itu tidak sehat untuk demokrasi.

“Oleh Karena itu lebih baik tinggalkan dendam, kita kubur dalam-dalam rasa benci dan dendam karena tidak sehat buat diri sendiri maupun untuk kehidupan berbangsa. Manusia tidak ada yang sempurna, mari kita songsong masa depan. Presiden terpilih kita saat ini juga bukan mahluk sempurna, jika ada kekurangan, maka kita perbaiki bersama persoalan bangsa ini,” katanya. (fri)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

MEDIA

Semarakkan Hari Pers, PWI Gelar Anugerah Jurnalistik Adinegoro

Published

on

Setiap peserta wajib mengisi formulir dengan menyertakan salinan kartu karyawan dan surat pengantar dari redaksi.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik di Indonesia, Anugerah Jurnalistik Adinegoro, guna menyemarakkan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada tanggal 9 Februari 2020.

“Lomba ini terbuka bagi wartawan yang bekerja secara aktif pada satu perusahaan pers, baik cetak, televisi, radio,maupun media siber,” demikian pengumuman yang ANTARA terima di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Penamaan anugerah tersebut dikarenakan penghargaan dikhususkan untuk karya-karya yang sudah dimuat/ditayangkan/disiarkan di media cetak, siber, televisi, atau radio pada periode 1 Desember 2018 hingga 30 November 2019.

Adapun enam kategorinya adalah, liputan berkedalaman (indepth reporting) untuk media cetak, siber, televisi, radio, serta karya foto jurnalistik untuk media cetak dan siber serta karya karya karikatur opini untuk media cetak dan siber.

Setiap media diperbolehkan mengirimkan maksimal 15 karya setiap kategori dengan ketentuan seluruh hasil karya liputan berkedalaman wajib menyertakan link karya melalui Google Form.

Khusus untuk karya foto jurnalistik dan karikatur jurnalistik, wajib mengirimkan dalam bentuk softfile beserta caption yang diunggah pada Google Form.

Selain itu, seluruh karya wajib disertai sinopsis sebanyak dua hingga tiga paragraf mengenai isi dan pembuatannya, sedangkan untuk karya televisi dan radio wajib menyertakan clock program bersama sinopsis.

Terakhir, setiap peserta wajib mengisi formulir dengan menyertakan salinan kartu karyawan dan surat pengantar dari redaksi.

Periode pengiriman karya dimulai 15 Agustus hingga 1 Desember. Nantinya setelah diseleksi oleh tokoh pers, pengamat, dan akademisi bidang jurnalistik pada pekan kedua Desember 2019 hingga pekan kedua Januari 2020.

Adapun pemenang dari masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah uang Rp50 juta dan trofi Anugerah Adinegoro 2019 serta piagam yang akan diserahkan pada acara puncak HPN 2020.

Mengenai informasi lebih lanjut peserta bisa menghubungi panitia PWI dengan mengirimkan surat elektronik ke alamat anugerahjurnalistik.adinegoro@gmail.com. Demikian, seperti dikutip Antara. (ran)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

MEDIA

Karni Ilyas Umumkan ILC Tayang Lagi, Warganet : Maaf, Sudah Gak Minat

Published

on

Sukarni "Karni" Ilyas, adalah salah seorang tokoh jurnalis dan pejuang hukum Indonesia.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Setelah mati suri sejak 17 April 2019 lalu, program Indonesia Lawyers Club atau ILC akhirnya akan tayang kembali mulai hari ini, Selasa (2/7/2019). Hal ini diketahui dari cuitan presiden ILC, Karni Ilyas.

“Dear Pencinta ILC: diskusi kita Selasa besok berjudul “Setelah Vonis MK: Seperti Apa Wajah Demokrasi Kita?.” Selamat menyaksikan,” cuit Karni Ilyas, Senin (1/7/2019) kemarin.

Program ILC merupakan acara diskusi rutin disiarkan langsung Tv One setiap Selasa malam. Namun siaran yang menyajikan narasumber-narasumber terkemuka dan dinanti pemirsa tanah air itu berhenti tayang usai Pilpres 17 April lalu. ILC tiarap saat hiruk pikuk pasca pilpres dengan segala carut marutnya. Banyak yang menduga ILC dibungkam rezim, atau setidaknya takut dengan rezim dan memilih tiarap di saat rakyat butuh informasi penyeimbang.

Pengumuman Karni Ilyas kembalinya program ILC ini disambut dingin netizen. Rata-rata mereka berlasan ILC gagal menjadi penyeimbang justru pada saat dibutuhkan.

Salah satu akun yang kecewa dengan mati surinya ILC adalah @CakKhum. Dengan gamblang akun tersebut mengatakan sudah tak minat menonton ILC, karena dianggap sudah kehilangan momen.

“Hahahaha mohon maaf datuk, saat ini sudah enggak minat nonton ILC, sudah kehilangan momen, saat² momen penting malah menghilang, diduga nyari aman dan main aman,” tulis akun @CakKhum yang dikenal salah satu tokoh sosmed pendukung 02.

Netizen lain bahkan mengusulkan agar ILC tutup permanen saja, gak ada manfaatnya.

“Tutup Aja ILC, Sudah Tidak Bermanfaat Lagi. Hanya Buang Waktu Berkoar-Koar Di ILC. Toh Hukum Milik Pengusaha…,” kicau akun @TanYoana.

Yang lain mengusulkan agar narasumber diambil dari kubu pendukung pemerintah saja sekalian. “Usul buat datuk, narsumnya ambil dari 01 semua aja. Sekalian reuni dgn peselancar gelombang tenang.” cuit @WWDC19_. Demikian, seperti dikutip Portal-islam.id. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

MEDIA

Polri Luruskan soal Patroli Siber di Grup Whatsapp

Published

on

Karo Penmas Mabes Polri Brigjen, Dedi Prasetyo.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Mabes Polri meluruskan terkait patroli siber yang dilakukan oleh jajaran Direktorat Siber Bareskrim terhadap aplikasi Whatsapp (WA).

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, Bareskrim tidak langsung masuk ke dalam WA termasuk Whatsapp Grup (WAG) dengan menyadap dalam rangka patroli siber.

“Jadi enggak ada mantau Whatsapp ya,” tegas dia di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Secara teknis, sambung Dedi, patroli siber itu berkoordinasi dengan Kemenkominfo dan Badan Siber Dan Sandi Negara (BSSN).

Ketika saat patroli ada satu akun yang menyebarkan konten hoax di media sosial, maka dalam penegakan hukumnya, HP pelaku akan disita untuk kemudian dilakukan monitoring.

“Handphone langsung dicek di lab forensik. Dicek alur komunikasinya ke mana, selain dia menyebarkan di medsos, dia menyebarkan di whatsapp grup juga. Nah Whatsapp Grup itu akan dipantau juga siapa yang terlibat langsung secara aktif terbukti melakukan perbuatan melawan hukum,” jelas Dedi.

“Jadi bukan Whatsapp yang di handphone-handphone itu dipatroli,” ujar dia menambahkan.

Sebelumnya, jajaran Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim bakal melakukan patroli siber di sejumlah WAG.

Kasubdit 2 Ditsiber Bareskrim, Kombes Rickylando menjelaskan, patroli siber hingga ke WAG dilakukan karena kerap disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau hoax. Ricky menambahkan, saat ini trend penyebaran hoax di WAG meningkat. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending