Oleh : Sudaryono

Buseeet, mendadak ramai dan pemberitaan dimana mana tentang kegiatan dan juga acara Presiden Jokowi dalam satu dua minggu terakhir. Segala hal yang dilakukan oleh Jokowi nampaknya menggunakan jurus yang sama untuk menarik minat dan animo masyarakat/ rakyat untuk suka kepadanya.

Kira kira kalau kita ingat jurus itu menjelang Pemilu 2014, saat itu Jokowi menjadi sosok antitesa dari SBY dan bahkan dibuat berbeda dengan sosok pesaing nya saat itu Prabowo Subianto. Berbagai sudut kamera standby atas segala kegiatannya direkam dalam bentuk Video, Infografis maupun tulisan artikel di media mainstream saat itu.

Orang sering bilang, “buat apa ada pemimpin penampilan merakyat tapi nggak membela rakyat”

Bahkan, saya pernah membaca berita tentang Jokowi yang mampir rest area, masuk gorong-gorong, kemudian naik becak, nambal ban, lesehan bareng Pak JK dan lain lain. Rasanya kok nggak penting gitu. Tapi apa boleh buat rakyat saat itu syuuurr dan suka dengan gaya seperti itu. Bagi sebagian orang yang tidak suka dan komentar di media sosial langsung di bully oleh para pendukungnya. Dahsyat bener dahh!!

Saya bisa katakan bahwa tim medsos pilkada 2012 yang sering disebut JASMEV begitu perkasa mengcreate isu dan menggiring opini. Dan Ya, sekali lagi banyak orang yang suka dengan tergiring nalarnya untuk menyukainya. Rakyat banyak yang ramai-ramai menyukai sosok sederhananya.

Sah sah saja sebagai strategi kampanye saat itu pada pemilu 2014. Namun, coba anda, rekan, kawan semua amati. Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi saat ini tak ubahnya menyamakan dengan cara cara dia membranding diri dulu pada pemilu 2014. Sama, semua cara menurut saya benar benar sama.

Coba aja anda amati perihal pidato marah-marah tapi membaca teks, naik motor Choper tapi lampu tidak dinyalakan dan bahkan plat nomor motor tersebut beberapa orang cek informasinya nggak teregistrasi di Polisi (kalau ada koreksi silakan dicomment). Dan kegiatan kegiatan Jokowi lainnya. Semua sudah diatur pastinya, seperti biasa.

Sudut kamera video liputan, pemberitaan pemberitaan di media mainstream semua tampak sama seperti apa yang dia lakukan dulu menjelang 2014.

Lantas ada nggak beda antara yang dulu dan sekarang?? ADA. Yaitu respon rakyat sudah beda dengan yang dulu.

Rakyat sudah cerdas. Mana yang hanya citra dan kinerja. Orang sering bilang, “buat apa ada pemimpin penampilan merakyat tapi nggak membela rakyat”. Itu kata mereka.

Dunia medsos juga mereka sudah tidak sedominan dulu. Sekarang ini bahkan di medsos sudah kalah jumlah dengan emak emak yang kecewa karena uang belanja nya sudah tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga nya karena harga harga naik dan mahal.

Citranya yang merakyat sudah tidak bisa menutupi atau menjawab pertanyaan rakyat seperti isu Hutang, Kepres Tenaga kerja asing, kenaikan harga BBM, Ikan sarden bercacing yang kata menkes mengandung protein sampai yang paling hits adalah pidato dengan nada tinggi komentar tentang Indonesia 2030 dan hastag #2019GantiPresiden, tapi baca teks.

Dari semua kejadian belakangan ini, rasanya kok semua yang dilakukan oleh Jokowi menjadi salah. Kenapa begitu, karena rakyat sudah muak dengan segala citra dan usaha popularitas ini. Rakyat ingin konkret. Hidup mereka makin susah saat engkau Presiden nya saat ini. Jadi bisa dimaklumi kalau memang gerakan nasional #2019GantiPresiden ini besar dan resonansi atas sebab penderitaan yang rakyat alami.

Sudaryono, adalah Wakil Sekjen Partai Gerindra.