Connect with us

OPINI

REPUTASI SUKMAWATI SOEKARNOPUTRI DAN IMAGE RESTORATION THEORY

Published

on

Diah Mutiara Sukmawati, adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

BERANGKAT dari relung hati masuk ke dalam pikiran, kemudian diimplementasikan dalam perbuatan dan diucapkan dengan kata-kata yang didengarkan banyak orang. Itulah yang dinamakan komunikasi.

Komunikasi dari internal yang kita lakukan sendiri, bisa memberikan output yang benar, tapi bisa juga salah. Itulah yang disebut kesalahan komunikasi dari internal diri sendiri.



Meskipun salah, sepanjang konten yang dikomunikasikan tidak mengandung unsur yang sensitif dan tidak menyinggung perasaan pihak lain, tentu tidak masalah.

Kesalahan yang datangnya dari eksternal pun sulit . Jadi, apapun konten yang dikomunikasikan (entah itu benar atau merasa benar, apalagi salah) pasti akan dipersoalkan oleh pihak eksternal.

Komunikatornya pun bisa beragam, umumnya datang dari opinion leader dari pihak ketiga pihak yang kontra. Biasanya ini terkait dengan persoalan masalah persaingan, baik itu persaingan usaha, kontestasi politik, maupun persoalan hukum, dan urusan umat yang sensitif.

PIDATO SUKMAWATI

Adalah pidato Sukmawati Soekarnoputri dalam kegiatan yang bertema ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’ pada Senin (11/11/2019) yang membuat kontroversi dan berbuah laporan polisi.

Awalnya Sukmawati berbicara tentang perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kegiatan itu sendiri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019. Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum.

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati seperti dalam video yang viral.

Rupanya, ucapan Sukmawati itu dinilai sebuah penistaan terhadap agama. PihakKoordinator Bela Islam (Korlabi) meminta polisi segera mengusut laporan tersebut karena dituding membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Sukarno.

Laporan kepada polisi sangat serius, karena sudah dilaporkan resmi dan tertuang dalam nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, tanggal 15 November 2019.

Tentu saja pidato Sukmawati itu kini menuai badai. Sejumlah tokoh nasional sudah meminta Sukmawati untuk mempertanggungjawabkan ucapannya. Apalagi tokoh-tokoh islam lengkap dengan atribut organisasi masanya juga mempersoalkan ucapan Sukmawati.

Saya tidak perlu nembahas kontroversi ini dari sisi berita karena diperkirakan masalah ini akan bergulir panjang ke depan, mengingat isu sensitif yang dilontarkan Sukmawati ini bukan yang pertama kali.

Menarik bagi saya adalah untuk memotret peristiwa ini dari kacamata komunikasi secara makro. Bagus juga menyimak dari sisi strategi public relations, manajemen reputasi, dan upaya-upaya pemulihan citra seperti apa yang dilakukan Sukmawati (dan timnya) ke depannya.

IMAGE RESTORATON THEORY

Prof. William Benoit yang membuat Image Restoration Theory atau teori pemulihan citra menyebutkan bahwa semua orang memiliki keinginan untuk namanya selalu baik, reputasinya harum, dan citranya bagus. Meskipun orang itu melakukan kesalahan yang membuatnya buruk citra.

Itulah sebabnya Benoit menganalisa berbagai cara dan kebiasaan personal atau korporasi dalam menghadapi krisis komunikasi, memburuknya reputasi, dan kerusakan citra dalam teori pemulihan citra.

Dalam pandangan saya, disadari atau tidak sebenarnya Sukmawati (dan timnya) juga sudah melakukan sebagian upaya reputation recovery sesuai prinsip-prinsip image restoration theory (yang memiliki 5 prinsip strategi, dengan beragam implementasi).

Misalnya, Strategi Denial. Strategi seperti ini seringkali kita lihat dan baca di berbagai kasus komunikasi, yaitu melakukan penyangkalan (simple denial). Tetapi selain menyangkal, ada juga mengalihkan kesalahan terhadap orang lain (shifting the blame).

Nah, dalam hal ini Sukmawati terlihat sudah menerapkan strategi ini, terekam dari statemennya di media yang menyebut video yang tersebar di media sosial telah diedit, bukan sepenuhnya seperti yang dia sampaikan. “Saya tidak membandingkan, dan tidak ada kata jasa,” ucap Sukmawati.

Juga Strategi Evading of Responsibility. Strategi ini dilakukan dengan cara pengurangan tanggungjawab atas tindakannya, dengan demikian maka konsekuensi tindakannya (kesalahan) tersebut juga berkurang.

Salah satu strategi evading of responsibility ini diimplementasikan dengan langkah good Intention (pengakuan bahwa semuanya berawal dari niat yang baik, sama sekali tidak ada maksud untuk membuat kesalahan)

Seperti diberitakan setelah viral, Sukmawati menegaskan tidak ada maksud untuk menghina Nabi Muhammad atau membandingkannya dengan Sang Proklamator. Tujuannya bertanya soal itu, ingin mengetahui apakah generasi muda paham dengan sejarah Indonesia atau tidak.

“Ya bertanya, saya ingin tahu jawabannya seperti apa, fakta sejarahnya, pada ngerti enggak sejarah Indonesia? Terus dijawab mahasiswa itu: Sukarno,” ujar Sukma, saat dihubungi media, Jumat, 15 November 2019.

Begitulah upaya Sukmawati yang kini sedang berjuang untuk melakukan restorasi citra dengan berbagai klarifikasi yang dilakukannya maupun yang dilakukan oleh tim hore dan opinion leadernya.

Sebenarnya dalam pandangan saya ada satu lagi strategi restorasi citra yang sangat penting yang bisa direkomendasikan yang kemungkinan bisa mengatasi masalah komunikasi ini, yaitu Strategi Mortification.

Strategi Mortifikation disebut Benoit paling akhir dalam Image Restoration Theory. Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teoi Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Sukmawati juga pernah menggunaan stategi ini pada (4/4/2018), ketika puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi karena ada teks yang berbunyi, “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azan mu”

Sukmawati Soekarnoputri, ditemani Halida Nuriah Hatta, putri bungsu Mohammad Hatta atau Bung Hatta akhirnya meminta maaf atas puisi ‘Ibu Indonesia’ ciptaannya yang telah memantik kontroversi dan menyatakan sama sekali tidak berniat untuk menghina umat Islam. Dan setelah itu semua kontroversinya selesai.

Masalahnya, apakah Sukmawati juga akan mengambil ulang strategi Mortification ini untuk mengulang kisah suksesnya di masa lalu? Kita belum tahu. Apakah strategi Mortification ini juga efektif jila dilakukan lebih dari kali? Kita juga tidak tahu.

Namun secara pribadi saya berpandangan meskipun salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji, karena seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Selain itu, meminta maaf juga dapat menciptakan ketenangan jiwa, meminimalisir konflik, mengurangi krisis komunikasi, melatih kesabaran, dan menjadi bukti keseriusan dalam bertaubat.

Jika memang demikian adanya, mestinya Strategi Mortifikation ini akan sangat efektif sebagai upaya stategis untuk reputation recovery, image restoration, atau pemulihkan citra. Semoga.

[Oleh: Budi Purnomo Karjodihardjo. Penulis adalah seorang mediapreneur dan praktisi komunikasi. Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Image Restoration Theory]

Tulisan ini sudah dimuat di media Tribunnews.com


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

OPINI

RADIKAL VS RADIKAL

Published

on

Sikap dan tindakan radikal itu pasti ada. Di agama, ideologi, etnis dan kelompok manapun terkadang lahir oknum radikalis.

KATA-kata kotor, caci maki dan bullian itu bagian dari bentuk radikalisme verbal. Kendati itu diucapkan pada saat khutbah, ceramah, debat televisi, rapat parlemen dan pidato kenegaraan. Sedangkan persekusi itu bagian dari radikalisme tindakan. Meski dilakukan oleh ormas keagamaan, apalagi preman. Sama-sama radikal.

Apapun alasan dan tujuannya, radikalisme baik verbal maupun tindakan tak bisa diterima. Aturan negara, norma agama dan etika sosial menolaknya. Kritik boleh, sekeras apapun, tapi mesti obyektif dan tak harus pakai caci-maki.

Fungsi kritik itu untuk pencegahan dan perubahan. Bukan bagian dari ekspresi kebencian, apalagi untuk melahirkan konflik yang memicu terjadinya perpecahan.



Pemerintah, terutama pejabat publik memang harus diawasi. Kalau salah, diingatkan. Itu bagian dari kewajiban berbangsa dan bernegara. Jadi, kritik itu bukan sekedar hak, tapi kewajiban dan tanggungjawab kewarganegaraan bagi setiap warga negara. Di dalam agama Islam ada instruksi “nahi munkar”.

Pejabat publik dan institusi pemerintahan yang diberi amanah mengelola negara tidak boleh anti kritik. Jangan setiap pengkritik dianggap kaum radikalis. Jangan setiap perbedaan pendapat dianggap berpotensi jadi teroris. Lebay pak!

Uniknya lagi, radikalisme itu dicurigai berasal dari pelajaran sejarah “khilafah” dan “jihad’. Maksudnya, pelajaran sejarah yang menjelaskan tentang “khilafah” dan “jihad” dianggap sebagai pemicu radikalisme. Ngawur!

Sejarah “khilafah” dan jihad” itu bagian dari kurikulum pesantren dan madrasah sejak sebelum Indonesia merdeka. Emang berapa banyak sih lulusan pesantren dan madrasah yang jadi radikal? Kenapa harus ada kebijakan untuk menghapus kurikulum “khilafah” dan “jihad”? Oh alaaah… Ono-ono ae…

Tidakkah “Resolusi Jihad” Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU itu, telah berkontribusi besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda? Kenapa kata “Resolusi Jihad” gak dihapus sekalian? Bukannya ada kata “jihad” disitu.

Kata “jihad’ di masa penjajahan Belanda dan Jepang terbukti efektif untuk mendorong rakyat melawan penjajahan. Berangkat dari semangat inilah Indonesia merdeka. Kata “jihad” dan “merdeka” seolah menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Menyatu dalam “darah-daging” umat Islam Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini.

Kata “jihad” sekarang juga diperlukan. Untuk apa? Melawan setiap kedzaliman, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Selama sejarah menyuguhkan keserakahan manusia, kata “jihad” akan selalu dibutuhkan untuk hadir.

Sesuai arti aslinya, “jihad” itu bermakna positif. Kalau ada yang memaknai kata “jihad” secara negatif, itu penyimpangan. Jangan larang pabrik pisau berproduksi lantaran ada seseorang yang dibunuh dengan menggunakan pisau. Emosional itu namanya.

Sejarah itu fakta masa lalu. Gak bisa dihapus. Apalagi ini menyangkut sejarah umat Islam. Umat yang jumlahnya mayoritas di negeri pancasila. Ada pesan moral di dalam sejarah itu. Karena salah satu fungsi sejarah adalah memberi pesan moral. Selain fungsi ideologis dan akademis. Bagimana mungkin menghapus bagian dari sejarah penting umat Islam itu?

Umat Islam memahami bahwa tanpa peran “khilafah” dan “jihad”, belum tentu agama Islam sampai ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Maka, menghapus sejarah “khilafah” dan “jihad” itu sama saja ngajak berantem sama umat Islam. DPR ngamuk, PGMI ngamuk, ormas-ormas Islam ngamuk, masyarakat muslim ngamuk, ya wajar. Karena mereka merasa hak historis dan intelektualnya diambil.

Kalau kemudian ada segelintir orang yang memaknai secara salah terhadap kata “khilafah” dan “jihad’, bukan berarti dua istilah itu harus hilang dari kurikulum umat Islam. “Gebyah uyah” itu namanya. Dalam istilah psikologi disebut sebagai tindakan ‘jumping out”. Siapa yang salah, siapa yang kena marah. Gak nyambung.

Saya mau buat analogi. Ada pohon kelapa. Ternyata di salah satu pohon kelapa itu ada ular yang menggigit anak pejabat sampai mampus. Modar maksudnya. Apakah semua pohon kelapa lalu harus ditebang dan dibakar karena dianggap menjadi tempat persinggahan ular berbisa? Ya konyol itu namanya.

Ucapan, sikap dan tindakan radikal itu pasti ada. Di agama, ideologi, etnis dan kelompok manapun terkadang lahir oknum radikalis. Pemicunya macam-macam. Salah satunya adalah ketidakadilan. Tapi, tak bisa digeneralisir menjadi dosa agama, ormas, etnis dan kelompok tertentu.

Karena itu, tak semestinya ada narasi dan kebijakan yang menyudutkan satu agama atau kelompok tertentu. Apalagi menuduhnya dengan istilah radikalisme. Tuduhan semacam ini justru bisa dianggap bagian dari radikalisme itu sendiri.

Mengkafirkan orang yang tak memenuhi syarat sebagai kafir, itu kafir. Begitu pula menuduh radikal pada pihak atau kelompok yang tidak memenuhi syarat radikal, itu juga tindakan radikal.

Jadi, tidak hanya rakyat yang berpotensi terpapar radikalisme, tapi pemerintah juga bisa terpapar virus radikalisme. Kebijakan semena-mena, tindakan hukum seenaknya tanpa memperhatikan aspek keadilan, kesewenang-wenangan, itu juga bagian dari tindakan radikal.

So, kita semua sepakat menolak segala bentuk radikalisme, siapapun pelakunya. Apakah rakyat atau penguasa, radikalisme tak boleh berkembang biak di negeri damai bernama Indonesia. Jangan sampai Indonesia menjadi tempat yang subur untuk konflik antar para kaum radikalis karena penguasa ikut ambil bagian di dalamnya. Stop!

[Oleh: Tony Rosyid. Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa]


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

KALAU LUTHFI “BENDERA” ALFIANDI DIHUKUM PENJARA

Published

on

Terdakwa Dede Lutfi Alfiandi selepas sidang perdananya di ruang Kusuma Admaja IV Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2019).

ANAK muda itu bernama Luthfi Alfiandi. Dia juga dipanggil Dede Luthfi Alfiandi. Polisi menangkapnya pada 30 September 2019. Dengan tuduhan melawan atau menyerang polisi dalam aksi protes revisi UU KPK di depan gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Luthfi menjadi pendemo yang terkenal. Foto dirinya yang menyandang bendera merah-putih, menjadi viral. Dilihat jutaan orang melalui semua platform media sosial. Heroik di mata publik.

Apa gerangan tindak pidana yang dilakukan Luthfi?



Menurut dakwaan jaksa, Luthfi berniat melakukan keonaran atau kerusuhan dalam aksi unjuk rasa di DPR itu. Ada beberapa pasal KUHP yang didakwakan. Pertama, pasal 212 juncto Pasal 214 ayat 1. Kemudian, pasal 170. Yang ketiga, pasal 218. Inilah yang dibacakan jaksa penuntut umum dalam sidang perdana Luthfi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2019).

Dakwaan yang berlapis. Ada kesan, para penguasa ingin anak muda ini mendekam di penjara. Ingin agar dia diberi pelajaran. Supaya anak-anak muda lainnya menjadi ciut. Padahal, di kamus anak-anak setara STM tidak ada kata “ciut”.

Kalau sekiranya Luthfi dijatuhi hukuman penjara, apa yang akan terjadi?

Anak muda usia 20 tahun ini akan semakin terkenal. Semakin dicintai publik. Dia akan menjadi pahlawan. Menjadi simbol perlawanan terhadap kesewenangan.

Para penguasa, khususnya Polisi, mungkin akan melihat Luthfi sebagai terpidana. Polisi mungkin juga puas kalau dia dihukum. Tidak begitu anggapan publik. Luthfi akan diingat sebagai anak muda bersih yang berani menghadapi risiko maut melawan kezliman penguasa.

Bagi publik, kasus Luthfi itu sendiri adalah bentuk kesewenangan. Bisa juga dilihat sebagai wujud dari kecengengan Polisi. Kenapa begitu? Karena dalam demo anak-anak muda pastilah ada lempar-melempar. Unjuk rasa tentulah bukan arena karaoke.

Lempar batu dan luka adalah ciri demo. Dan bukan petugas keamanan saja yang mengalami cedera. Puluhan pengunjuk rasa juga luka-luka akibat tindak kekerasan para petugas. Dan bahkan ada yang tewas terkena peluru tajam.

Apakah itu berarti pendemo boleh melakukan tindak kekerasan terhadap Polisi? Tentu tidak. Cuma, Polisi tidaklah perlu menangkap seorang pendemo “tangan kosong” untuk dibawa ke pengadilan. Paling-paling kesalahan Luthfi adalah menunjukkan keberaniannya di tengah situasi yang setiap saat bisa mengancam jiwanya.

Luthfi bernyali baja. Mungkin ini yang “menjengkelkan” Pak Polisi.

Penangkapan Luhtfi menjadikan dirinya bintang perlawanan terhadap kezaliman. Hukuman penjara, kalau pengadilan memutuskan begitu, akan membuat anak Ibu Nurhayati itu menjadi lebih top lagi. Dia akan mendominasi pembahasan di media besar dan media sosial.

Luthfi akan menjadi alat ukur kearifan penguasa. Juga menjadi ukuran kesewenangan dan kecengengan.

Jangan lupa. Ada aspek lain kasus Luthfi. Sejak kemarin, para politisi oportunis berlomba-lomba “mencari muka” di depan publik. Mereka siap menjadi pahlawan untuk membebaskan anak muda yang viral ini. Siapa tahu tokoh muda legendaris ini bisa diajak masuk ke partai mereka. Untuk bintang masa depan.

[Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

SINYO, DUBES PALING PEDULI…

Published

on

Duta Besar RI, Sinyo Harry Sarundajang.

BANYAK event dan multi event olahraga internasional yang saya liput sejak 1982. Banyak pengalaman dan kenangan yang menempel di kepala saya. Tapi, kenangan dan pengalaman khusus di Sea Games ke-30, Manila 2019, rasanya akan menjadi yang terbaik.

Bukan soal gamenya. Bukan juga soal pencapaian medali yang nyaris 100 persen dari perolehan di Seag-29, Kuala Lumpur. Bukan soal-soal teknis. Tapi ini soal yang berbeda sama sekali.

Adalah Duta Besar RI, Sinyo Harry Sarundajang, ya ini soal beliau. Sejak pertama bertemu di Bandara internasional Ninoy Aquiono, Manila, Filiphina, Sabtu dinihari (1/12/19), ada yang berbeda.



Meski sudah dinihari dan sudah agak lanjut usia (maaf Oom), senyum beliau terlihat sangat tulus, sangat bersahabat saat menyambut Menpora Zainudin Amali. Ya, senyum yang tidak dibuat-buat.

Maaf, banyak senyum yang selama ini diumbar saat menyambut tamu, gesturnya tidak tulus.

Kesan pertama saya langsung dijejali oleh sikap yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sekali lagi, banyak -event_ dan multi event internasional yang saya liput, suasananya sangat berbeda. Pak Dubes, masih menyempatkan duduk sebentar sebelum meninggalkan hotel Diamond, Manila. Saat itu jam sudah menunjukkan 01.30.

Jujur, saya terkejut ketika muncul ke direstoran untuk sarapan pagi, Pak Dubes sudah di sana. Bahkan menurut salah satu stafnya Abun (Agus Buana), Pak Dubes sudah 30 menit.

Tepat jam 10.oo, Menpora Zainudin Amali, menuju dapur atlet. Pak Dubes ternyata ikut bersama menpora. Di dalam mobil Dubes, keduanya terlihat bercengkrama. Sejak itu, keduanya: Menpora dan Dubes nyaris tak terpisahkan.

Usut-punya-usut, keduanya ternyata bersahabat. Keduanya dari Sulawesi Utara, Menpora dari Gorontalo, Dubes dari Minahasa. Keduanya seperti seorang senior dan yunior, seperti adik-kakak.

Sikap ramah Dubes, ternyata juga bukan hanya ke Menpora saja. Kepada siapa pun ia bersikap demikian. Bahkan berulang kali, ketika ada orang yang meminta swafoto bersama, Dubes selalu mengajak Menpora, begitu pun sebaliknya. Keduanya seperti bintang yang selalu jadi objek foto bersama.

Seandainya semua dubes kita seperti Sinyo, mungkin rasa aman dan nyaman warga negara kita yang ada di wilayahnya, akan tumbuh besar. Dubes adalah orang tua bagi warga negara kita yang ada di wayahnya.

Ya, Sinyo juga dikenal berani dalam membela WNI. Bahkan beliau dalam catatan juga disebut beberapa kali ikut langsung membebaskan WNI dari tangan penculik.

Modalnya untuk jadi demikian hebat dimulai saat ia diberi kepercayaan untuk menyelesaikan kasus Obet (Robert) dan Acang (Achmad) sebutan saat kisruh ‘ribut’ antara warga Maluku yang beragama Kristen dan warga Maluku yang beragama Islam.

Sinyo dipilih karena tokoh beragama kristen tapi banyak bersekolah di sekolah islam.

Itu juga yang membuat saya kagum, saat mengucapkan salam, langgamnya kental sekali. Bahkan kabarnya ia juga dapat membaca Quran dengan baik. Jadi, dengan kondisi itu Sinyo dapat diterima oleh kedua belah pihak hingga perdamaian bisa terjadi hingga hari ini.

Suatu siang, saat di hotel Diamond, tepatnya saat Menpora dan PSSI menunggu kedatangan Menko PMK, Muhadjir Effendy, Sinyo berkisah tentang Duterte, ya Rodrigo Duterte, Presiden Filiphina. “Kami bersahabat sejak masih muda. Waktu itu Diterte Walikota Davao, saya Walikota Bitung,” katanya.

Menurut Dubes, dia dan Duterte bukan hanya saling kunjung, tapi beberapa kali jalan hanya berdua. “Saat berdua itu Duterte bertanya, mengapa saya paham betul islam,” lanjut Sinyo.

Ia lalu menceritakan kisah sekolah di tempat-tempat islam. “Islam itu agama yang _rahmatan lilalaamiin-,” tukas.

Dari sanalah kabarnya Duterte mulai mencerna tentang islam. Duterte makin cinta karena nenek dan ibunya yang berasal dari Mindanao, juga beragama islam.

Kembali ke Seag-30, sungguh saya angkat topi tinggi-tinggi untuk Pak Duta Besar yang senang disapa Oom, luar biasa.
Malam setelah timnas sepakbola kita kalah dari Vietnam di laga final, Oom Sinyo saya perlihatkan video saya saat manggung di tvone sebagai komentator tinju. Wajahnya sangat serius, lalu ia menolah ke saya yang ada di kirinya. Wajahnya begitu serius, dan tiba-tiba: “Ngana memang bajingan!” katanya serius.

“Maksudnya kamu hebat!” tiba-tiba Menpira Zainudin Amali menyela. “Di kampung kami ungkapan Pak Dubes itu biasa dan bermakna pujian. Bahasa gaul deh!” lanjut Menpora agar saya tak salah tangkap, hehehe..

Saya paham betul karena banyak sahabat saya berasal dari sana, Eddy Lahengko dan Wailan Walalangi ada represtantif dari sana. Jadi, saya paham betul dengan ungkapan itu.

Ya, apa pun juga saya kagum dan berterima kasih untuk beberapa hari menimba ilmu dari Duta Besar RI untuk Filiphina, Dr. Drs. Sinyo Harry Sarundajang. Terima kasih Oom Sinyo..

[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Olahraga Senior]


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending