Connect with us

SEKTOR RIIL

Setelah Lebaran, Harga Tomat Malah Naik Jadi Rp 24.000/Kg

Published

on

Harga tomat baru naik menjadi Rp 24.000 per kg.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Harga cabai naik ke angka Rp 80.000 per kilogram (kg). Selain bumbu dapur tersebut, ternyata harga tomat hingga wortel di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan juga mengalami kenaikan.

Salah satu pedagang, Lanjar mengatakan harga tomat baru naik menjadi Rp 24.000 per kg. Padahal harga tomat biasanya dijual Rp 12.000 per kg. Ia juga mengaku harga beli tomat di Pasar Induk Kramat Jati telah mencapai Rp 20.000 per kg.

“Tomat ini mantap, baru tadi malam naik, modalnya Rp 20.000 di pasar Induk Kramat Jati. Di sini jualnya Rp 24.000 padahal, biasanya Rp 12.000,” jelasnya kepada detikFinance, Sabtu (8/6/2019).

Selain itu, untuk wortel dijual mencapai Rp 18.000 per kg. Angka ini meningkat dari biasanya Rp 12.000 per kg.

“Wortel naik Rp 14.000 modalnya. Kalau jualnya Rp 16.000 sampai Rp 18.000 per kg,” jelas dia.

Pedagang lainnya, Emilia menjual wortel dengan harga Rp 20.000 per kg. Harga tersebut disebut sama dengan wortel impor.

“Wortel lokal lagi mahal sama harganya sama impor, Rp 20.000. Biasanya harga Rp 12.000,” jelas dia.

Berikut daftar lengkap harga pangan di Pasar Pondok Labu:

Daging sapi Rp 120.000 per kg
Daging ayam Rp 42.000-52.000 per kg
Telur ayam Rp 26.000 per kg
Cabai rawit merah Rp 40.000 per kg
Cabai keriting merah Rp 80.000 per kg
Cabai merah besar Rp 80.000 per kg
Bawang merah Rp 40.000 per kg
Bawang putih Rp 40.000 per kg
Wortel Rp 20.000 per kg
Tomat Rp 24.000 per kg
Jagung Rp 15.000 per kg
Brokoli Rp 12.000 per kg (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SEKTOR RIIL

Menhub : Harga Tiket Pesawat Bukan Urusan Saya

Published

on

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Mahalnya harga tiket pesawat yang dikeluhkan oleh masyarakat dan pengusaha dinilai Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi bukan merupakan urusan pihaknya.

Kemenhub hanya mengatur harga batas atas dan bawah dalam moda transportasi udara itu. Selebihnya, lanjut dia, harga tiket pesawat merupakan kewenangan dari masing-masing maskapai penerbangan.

“Tiket itu bukan urusan saya. Jadi urusan dari airlane-nya. Saya urusannya atas dan bawah,” kata Budi Karya di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Ia menerangkan, saat ini telah ada tiga maskapai asing yang akan diberikan izin penerbangan di wilayah udara Indonesia.

Ia menekankan bahwa pemberian izin maskapai asing itu untuk meningkatkan kompetisi harga tiket pesawat dalam negeri.

“Jadi spirit-nya ginilah, jadi spiritnya bukan asing tapi kompetisi,” paparnya. Seperti dikutip Alimni212.id. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Pascalebaran, Harga Cabai di Solok Selatan Naik Tajam

Published

on

Harga cabai merah di pasar tradisional Sumatera Barat pascalebaran naik tajam dari Rp20 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.

Indonesiaraya.co.id, Padang Aro – Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat pascalebaran naik tajam dari Rp20 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.

“Kenaikan harga cabai ini karena kurangnya pasokan, dan masih bertahan sampai saat ini,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Solok Selatan Irwandi Osmaidi di Padang Aro, Selasa (11/6/2019).

Dia mengatakan untuk cabai kualitas paling bagus dijual pedagang seharga Rp60 ribu, sedangkan kualitas menengah Rp55 ribu, dan kualitas paling bawah Rp50 ribu per kilogram.

“Rata-rata pedagang menjual cabai Rp55 ribu per kilogram,” kata dia.

Pasokan cabai merah di Solok Selatan berasal dari petani setempat dan sebagian lainnya dari Kabupaten Solok dan Kerinci, Provinsi Jambi.

Kurangnya pasokan ke pasara, kata dia, kemungkinan karena masih suasana Lebaran dan para petani belum memanen cabainya.

“Kalau harga cabai terus naik kami akan berkoordinasi dengan provinsi untuk menstabilkan harga,” ujar dia.

Untuk harga berbagai kebutuhan pokok lainnya, kata dia, masih stabil, seperti bawang merah dijual seharga Rp30 ribu per kilogram, sedangkan beras Rp9 ribu.

Salah seorang warga Sungai Pagu, Fitria Yuningsih, mengatakan, Senin (10/6), di Pasar Muaralabuh, harga cabai merah memang cukup mahal, yaitu Rp55 ribu per kilogram.

“Saya terpaksa mengurangi beli cabai dari biasanya satu kilogram, sekarang cukup setengahnya,” kata dia.

Selain itu, katanya, harga jengkol juga mahal di mana biasanya satu cupak (isi 20 butir) hanya Rp15 ribu sekarang naik menjadi Rp30 ribu.

“Jengkol sekarang juga satu cupak Rp30 ribu dan cukup mahal,” ujar dia. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

SEKTOR RIIL

Di Negara Mana pun Tak Ada Maskapai Asing Layani Penerbangan Domestik

Published

on

Undang-undang melarang maskapai asing melayani rute penerbangan domestik. Di negara manapun tidak ada maskapai asing yang melayani penerbangan domestik.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Pengamat penerbangan Alvin Lie menyatakan, undang-undang melarang maskapai asing melayani rute penerbangan domestik. Di negara manapun tidak ada maskapai asing yang melayani penerbangan domestik.

Alvin menyampaikan hal itu menanggapi wacana memasukkan maskapai asing yang digulirkan oleh
Presiden Joko Widodo. Menurut dia , wacana ini bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan penerbangan domestik, terutama terkait mahalnya harga tiket pesawat enam bulan terakhir ini.

“Kalau pemerintah tidak puas atau kecewa terhadap kondisi transportasi udara saat ini, seharusnya langkah yang diambil adalah introspeksi dan berbenah, bukan mengundang pihak luar untuk masuk,” kata Alvin saat dihubungi, Senin (10/6/2019).

Kenaikan tiket pesawat tahun ini, kata dia, tak terlepas dari tingginya biaya operasional maskapai. Kondisi ini bahkan sudah terjadi sejak 2014 lalu. Selain itu, nilai tukar rupiah juga melorot terus terhadap dolar AS.

Selain itu, sambung dia, kebijakan transportasi udara selama ini tidak memperhatikan Tarif Batas Atas (TBA). Sebelum penyesuaian TBA baru-baru ini, tarif terakhir kali disesuaikan pada 2014 lalu. Sama halnya dengan Tarif Batas Bawah (TBB) yang ditinjau terakhir kali pada 2016 lalu.

Dirinya juga mengatakan, wacana mengundang pemain asing dalam industri penerbangan juga tak sesuai dengan undang-undang tentang penerbangan dan Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 soal bidang usaha yang tertutup dan terbuka di bidang penanaman modal.

Selanjutnya, sesuai azas cabotage dan UU Nomor 1 Tahun 2009, kepemilikan saham asing dalam perusahaan yang bergerak dalam bisnis angkutan udara, maksimum kepemilikan 49 persen.

“Jadi, tidak ada satu negara pun di dunia yang mengizinkan maskapai milik asing untuk melayani rute domestik negaranya,” kata dia. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending