Connect with us

OPINI

Siapa Bilang Virus Corona Mematikan?

Published

on

Virus Corona juga menyebabkan sindrom pernapasan akut yang parah di Cina. Virus tersebut berdampak pada sekitar 8 ribu orang dan membunuh 774 orang pada awal 2000-an.

HARI-hari ini. Dunia dikejutkan dengan wabah virus Corona dari Wuhan Cina. Bahkan kota Wuhan pun bak kota mati, diisolasi dan disterilkan. Ada dugaan, virus corona berasal dari hewan kelelawar, ular atau tikus. Dengan mudah tersebar melalui udara. Dan katanya belum ada obatnya. Penyebarannya pun dianggap berlangsung cepat. Hingga mengancan kesehatan dan jiwa manusia. Korban bergelimpangan katanya, padahal baru 17 orang yang meninggal dunia. Sementara waktu wabah virus SARS lebih dari 700 orang mati.

Indonesia hari ini ketakutan. Terwabah virus corona. Kecemasan makin bertambah. Ketika virus ini disinyalir telah masuk ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Maka kemarin-kemarin, tersebarlah berita dugaan suspect virus corona di Gedung BRI, di Gedung BPK bahkan di Manado. Semua orang takut terkena virus corona. Makin lengkap, karena video “berjatuhannya” korban virus corona di Cina pun beredar di Indonesia. Orang Indonesia makin takut mati.

Pertanyaannya, benarkah virus corona mematikan?



Bahwa virus ini menular iya. Virus yang belum ada obatnya iya. Tapi apa virus corona mematikan? Sudah terbukti, memang virus ini bisa menular. Maka langkah terbaik adalah mengisolasi penderitanya, bila sudah terdiagnosa. Kata Pak Dahlan Iskan, virus ini tidak menyerang semua orang. Karena mayoritas pasien yang terkena memang kondisi badannya sedang lemah. Rata-rata usianya pun sudah tua.

Jadi, apa dapat disimpulkan virus corona mematikan? Tentu tidak. Karena yang mematikan manusia hanya Allah SWT. Semua yang terjadi pada manusia itu atas kehendak-Nya. Ada baiknya masyarakat dan orang-orang pintar tidak perlu berlebihan. Cukup ikhtiar untuk antisipasi menyebarnya virus corona di Indonesia. Virus corona hanya sinyal dan pelajaran. Bahwa manusia bukan apa-apa. Maka menjaga kondisi badan adalah penting. Agar tetap sehat. Gaya hidup sehat juga penting. Memperkuat kondisi tubuh juga penting. Tidak ada yang mematikan selain Allah SWT.

Jangan lupa. Di negeri ini, racun sianida pun bisa mematikan. Antraks pun mematikan. Merkuri pun mematikan. Bahkan virus kebencian dan kemarahan pun bisa mematikan. Bahkan korupsi pun bisa mematikan. Banjir belum lama ini pun mematikan. Tapi itu semua atas sebab dan ulah manusianya. Jadi, apa benar virus corona mematikan?

Sungguh, sikap lebih penting daripada fakta.

Komisioner KPU kena OTT KPK. Ada 190 pohon sudah ditebang di Monas. Ibukota negara pun sudah pasti pindah ke Kalimantan. Dirut Garuda dicopot. Pak Jokowi jadikan Pak Prabowo sebagai menteri. Raja dan ratu keratin agung sejagat sudah ditangkap. Ada agi Sunda Empire. Bahkan kasus Jiwasraya dianggap skandal korupsi. Persis seperti virus corona yang mewabah. Itu semua fakta. Nyata terjadi, lalu apa yang bisa diperbuat?

Apapun yang terjadi, intinya “sikap lebih penting daripada fakta”.

Hidup manusia itu, hanya 10% tergantung pada fakta. Dan 90% tergantung pada sikap. Fakta bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Tapi semua tergantung cara menyikapinya. Bahwa hari ini, banyak orang yang “meributkan fakta” itu pun fakta masyarakat Indonesia. Semua fakta dipersoalkan. Lebih senang memperdebatkan “kenapa ini terjadi” dan “kenapa bisa terjadi”. Karena mereka tidak mempunyai sikap.

Adalah fakta, makin banyak orang yang “membenarkan” pikirannya sendiri. Tapi di saat yang lain ia gemar “menyalahkan” pikiran orang lain. Lalu berdebat, saling adu argument hingga bermusuhan. Itu fakta. Tinggal bagaimana menyikapinya?

Jadi, siapa bilang virus corona mematikan?

Sungguh, apapun penyakit dan virus yang katanya mematikan. Harusnya, semua itu mengingatkan bahwa betapa lemahnya manusia dan betapa kuasanya Allah SWT. Manusia bukan apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Pangkat, harta dan jabatan tidak berguna sedikitpun saat kematian tiba. Karena hakikatnya, manusia hanya makhluk yang tidak berdaya.

Sekuat apapun sebuah bangsa, sehebat apapun angkatan perang sebuah negara. Terlalu mudah bagi Allah untuk membinasakannya dalam sekejap. Berita mewabahnya virus corona justru harus disikapi agar manusia segera kembali kepada Allah. Menggantungkan segara urusannya kepada Allah, bertawakal pada-Nya.

Ikhtiar untuk jadi lebih baik dan berdoa “segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang Engkau timpakan kepadanya (berupa penyakit), dan (segala puji bagi-Nya) yang telah melebihkan aku atas hamba-hambanya”. Karena sesuangguhnya, tidaklah Allah menetapkan sesuatu kecuali penuh hikmah dan keadilan di dalamnya.

Maka, virus corona tidaklah mematikan. Tapi yang mematikan hanyalah Allah. Karena semua yang terjadi pada manusia adalah kehendak-Nya.

Sikap jauh lebih penting daripada fakta. Virus corona fakta, tinggal bagaimana menyikapinya? Karena sikap, semuanya bisa lebih baik atau bisa lebih hancur. Karena sikap itu, bisa membaikkan dan bisa pula menghancurkan. Sikap itu adalah perbuatan kecil yang mampu menghasilkan perbedaan yang besar.

Sekali lagi, virus corona tidak mematikan. Tapi Allah yang mematikan. Maka surga bukan hanya “tempat”. Tapi hasil dari serangkaian “sikap” manusia di bumi-Nya…

Oleh : Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

OPINI

Usulan Kenaikan Tarif Angkutan Penyeberangan Harus Memerhatikan Hak Konsumen, dan Keberlangsungan Usaha

Published

on

YLKI mendorong adanya kajian aspek ATP (Ability to Pay) dan WTP (Willingness to Pay).

INDONESIA adalah karakter negara kepulauan terbesar di dunia. Sehingga angkutan berbasis perairan, sungai penyeberangan dan lautan menjadi sangat vital. Oleh karena itu mobilitas warga yang berbasis angkutan penyeberangan, seperti angkutan ferry, mempunyai nilai yang amat strategis, bahkan mutlak diperlukan. Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah sebagai regulator bertanggungjawab untuk menjadikan angkutan penyeberangan yang aman, nyaman, tarifnya terjangkau, dan menjunjung tinggi aspek keselamatan. Selain itu, pemerintah juga wajib menjaga keberlangsung usaha dari operator penyeberangan yang ada.

Relevan dengan hal ini, terbetik wacana dari operator yang terhabung dalam GAPASDAP, yang ingin melakukan stop operasi. Ancaman ini dilakukan dikarenakan Menhub dan Menko Maritim menolak usulan kenaikan tarif yang diajukan GAPASDAP. Terkait hal ini YLKI mempunyai beberapa catatan, yakni:

1. YLKI tidak mengendors rencana stop operasi alias pemogokan, yang akan dilakukan angkutan ferry, sebab akan mengacaukan pelayanan publik dan bahkan stabilitas ekonomi lokal, bahkan nasional;



2. Terkait usulan kenaikan tarif, jika dilihat dari sisi momen, operator penyeberangan sudah pantas mengajukan usulan kenaikan tarif, sebab kenaikan tarif terakhir dilakukan pada 3 tahun yang silam. Soal besaran dan formulasinya, YLKI mendorong adanya kajian aspek ATP (Ability to Pay) dan WTP (Willingness to Pay). Yang terpenting kenaikan tarif masih mempertimbangkan sisi daya beli konsumen sebagai penumpang ferry. Hal ini penting karena penumpang ferry banyak dari kelas menengah bawah, khususnya di rute perintis. Selain itu, kenaikan tarif harus berbanding lurus dg pelayanan. Jadi pengusaha angkutan ferry harus berkomitmen untuk meningkatkan pelayanannya;

3. Jika Kemenhub dan Kemenko Maritim tidak mau menaikkan tarif angkutan penyeberangan, maka pemerintah sebagai regulator harus memberikan insentif dan PSO (Public Service Obligation) kepada operator. Jangan menolak kenaikan tarif tapi tidak mau memberikan insentif/PSO…itu namanya mau menangnya sendiri. Artinya pemerintah harus fair, demi menjaga keberlangsungan usaha angkutan ferry dan aksesibilitas pada konsumennya. Jika mereka sampai stop operasi maka akan merugikan semua pihak dan pemerintah harus bertanggungjawab.

4. Skema kebijakan tarif penyeberangan, selain harus memperhatikan aspek ability to pay konsumen; juga harus menjamin keberlangsungan usaha angkutan penyeberangan. Rontoknya pelaku usaha angkutan penyeberangan menunjukkan adanya perubahan kebijakan pentarifan di bidang penyeberangan.

Demikian. Terima kasih.

Wassalam.

Oleh : Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

Kelola Dana Haji Tunggu Tsunami

Published

on

Tahun 2020 ini BPIH tertolong. Karena harga minyak turun, rupiah menguat dan hasil nego tiket per jama'ah bisa turun dua juta.

PERSOALAN dana haji akan jadi gempa, bahkan menimbulkan sunami jika tidak dilakukan antisipasi sejak dini. Tahun demi tahun kebutuhan subsidi untuk jama’ah yang berangkat haji makin besar. Tahun ini BPKH harus mensubsidi jama’ah haji yang akan berangkat sebanyak tujuh triliun lebih. Dari mana sumber uang itu? Dari uang setoran jama’ah haji yang masih ngantri 10-30 tahun. Kenapa tidak disubsidi dari negara? Pertanyaan anda aneh. Subsidi listrik, gas dan BBM saja dicabutin, mana kuat negara mensubsidi jama’ah haji?

Mengapa harus disubsidi? Karena uang setoran jama’ah haji tak mampu membayar seluruh kebutuhan haji. Perhatikan baik-baik! Kebutuhan haji per jama’ah Rp. 69.174.167,97. Total setoran jama’ah haji hanya Rp. 35, 235.602. Kurang Rp. 33. 938.555.

33.938.555 jika dikalikan 221 ribu jama’ah haji yang berangkat setiap tahunnya plus 4100 petugas haji dan kebutuhan operasional sebelum berangkat, maka total subsidi 7.164.668. 846.603, 92. Tujuh triliun lebih bung. Mampukan BPKH mengolah dana haji di bisnis yang bisa menghasilkan dana tujuh triliun lebih pertahun?



Jika rata-rata uang setiap jama’ah haji hanya menghasilkan satu juta pertahun, dalam waktu tunggu 10 tahun, maka hanya menghasilkan 10 juta. Sementara kekurangannya Rp. 33.938.555. Dari mana kekurangan dana itu diambil? Dari dana milik jama’ah daftar tunggu. Bisa hasil investasi, dan tidak menutup kemungkinan dari setoran pokok mereka.

Tahun 2020 ini BPIH tertolong. Karena harga minyak turun, rupiah menguat dan hasil nego tiket per jama’ah bisa turun dua juta. Sehingga, belum ambil uang pokok setoran jama’ah dalam daftar tunggu. Tapi, situasi ini insidentil dan tak bisa diprediksi. Kalkulasi normal, kedepan uang pokok setoran jama’ah haji daftar tunggu bisa terpakai untuk jama’ah yang berangkat duluan. Anda daftar haji tahun 2021, maka sebagian uang yang anda setor bisa langsung terpakai untuk jama’ah haji yang berangkat tahun itu. Seperti first travel dong? Mirip! Berpotensi terjebak dalam piramida ponzi.

Ibarat bisnis, hanya menunggu waktu untuk collaps. Ketika dana habis untuk mensubsidi jama’ah haji yang berangkat lebih awal, maka jama’ah haji dalam daftar tunggu suatu saat gak bisa berangkat haji. Saat itulah gempa dan sunami terjadi. BPKH akan menjadi pihak tertuduh, karena tidak berterus terang dari awal. Tidak adanya akuntabilitas dan transparansi publik bisa dianggap sebagai tindakan kriminal. Mungkinkah semua pimpinan BPKH akan dipenjarakan? Soal ini, silahkan tanya kepada ahli hukum.

Lalu, bagaimana antisipasinya? Pertama, naikkah setoran haji. Logika sederhana, dalam kondisi ekonomi yang normal, setiap tahun kebutuhan haji naik. Entah itu tiket pesawat, ketering, hotel, perlengkapan haji, dll. Termasuk peningkatan pelayanan jama’ah haji dengan naiknya biaya petugas haji. Anda beli nasi padang saja setiap tahun naik, wajar kalau ongkos haji naik.

Soal ongkos haji kebijakannya ada di pemerintah. Dalam hal ini adalah menteri agama atas persetujuan komisi VIII DPR. Di tangan menteri agama dan DPR-lah nasib dana haji ditentukan. Collaps atau tidak, bukan hanya tanggung jawab BPKH, tapi juga menteri agama dan DPR. Terutama komisi VIII.

Tentu, jika mau naik harus bertahap. Bisa dikalkulasi, sehingga Cash Flow dana haji bisa dikelola dengan sehat.

Kedua, subsidi pemerintah. Sekarang mungkin berat. Entah suatu saat nanti. Tapi, siapa yang jamin bahwa ekonomi Indonesia kedepan akan membaik. Gak ada yang tahu. Belum lagi muncul persoalan diskriminasi. Haji khusus untuk umat Islam, bagaimana dengan umat di luar Islam. Subsidi apa yang akan diberikan kepada umat non muslim supaya ada keadilan. Ternyata tak sesederhana seperti mencairkan dana PT. Jiwasraya dan PT. Asabri.

Jika satu dari dua solusi ini gak diambil, gempa dan sunami dana haji akan terjadi. Kecuali jika BPKH pandai bermain saham gorengan dengan memanfaatkan BUMN-BUMN yang ada. Itu kemungkinan bisa menutup semua subsidi. Cara cepat dan efektif. Tapi itu kan tidak halal… Mosok berangkat haji pakai dana yang gak halal? Bukan hanya Pak Jokowi yang marah, malaikat juga bakal marah loh…

Oleh : Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

Pentingnya DPLK dan Merencanakan Masa Pensiun

Published

on

Perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba.

KENAPA Anda perlu merencanakan masa pensiun?

Tentu, ada banyak argumen untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi faktanya, 90% pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun. Bahkan 93% pekerja menyatakan tidak tahu akan seperti apa di masa pensiun. Alhasil di Indonesia, riset menunjukkan 73% pensiunan mengalami masalah keuangan. Realitas pensiunan di Indonesia semacam itu terjadi. Akibat tidak adanya perencanaan masa pensiun para pekerja.

Hampir semua orang yang berpendidikan tinggi, pasti ujung-ujungnya ingin bekerja. Bekerja dari level rendah hingga mencapai karier puncaknya. Puluhan tahun waktu dihabiskan untuk bekerja. Sambil menikmati upah yang diterima setiap bulan. Tapi kenyataannya, riset membuktikan hanya 9% pensiunan alias pekerja yang benar-benar sejahtera di masa pensiun. Sementara 91% lainnya, masih tetap bekerja di usia pensiun atau menggantungkan hidupnya di hari tua pada anak-anaknya.



Good worker harus tahu. Bahwa di Indonesia saat ini. Usia harapan hidup orang Indonesia telah beranjak menjadi 72 tahun. Artinya apa? Bila seseorang pekerja pensiun di usia 55 tahun, maka masih ada 17 tahun masa kehidupan setelah pensiun. Sementara indeks biaya hidup di masa pensiun mencapai 70%-80% dari gaji terakhir. Itu berarti, bila gaji terakhir Rp. 10.000.000 maka tingkat penghasilan pensiun (TPP) yang dibutuhkan di hari tua berkisar di antara Rp. 7.000.000 s.d. Rp. 8.000.000 per bulan. Bila keadaannya sudah tidak bekerja lagi, maka dari mana uang yang dibutuhkan di masa pensiun itu diperoleh?

Maka suka tidak suka, siapapun orangnya, perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba. Jangan sampai masa bekerja jaya tapi masa pensiun merana.

“Urusan pensiun mah nanti saja, kan gaji yang ada hanya cukup untuk biaya hidup” begitu kata seorang pekerja. Tapi ada pekerja yang lain bilang “saya menyesal sekarang, karena dulu saat bekerja tidak mau menabung untuk masa pensiun?” Itulah kenyataannya, masa pensiun kadang seperti “buah simalakama”. Di satu sisi, gaji sering habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, tidak sedikit pensiunan yang menyesal karena lalai merencanakan masa pensiun yang sejahtera. Intinya, setiap pekerja harus punya sikap terhadap masa pensiunnya sendiri. Mau seperti apa, kau kayak apa?

Lalu, bagaimana cara jitu merencanakan masa pensiun?

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melalui program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Karena DPLK merupakan program pengelolaan dana pensiun yang dirancang untuk mempersiapkan jaminan finansial di masa pensiun. Program yang didedikasikan untuk pembayaran manfaat pensiun bagi setiap pekerja. Melalui DPLK, setiap pekerja dapat menyetorkan sejumlah uang secara rutin setiap bulan. Sebagai perencanaan masa pensiun dan hanya dapat dicairkan ketika memasuki usia pensiun.

DPLK, tentu bukan asuransi jiwa. DPLK pun bukan reksadana. Tapi intinya, DPLK dirancang untuk menyiapkan masa pensiun yang sejahtera. Karena DPLK bertumpu pada pengelolaan program pensiun iuran pasti (PPIP) dan orientasinya untuk hari tua atau masa pensiun. Agar tersedia dana yang cukup untuk membiayai pensiunan di hari tuanya, di saat tidak bekerja lagi.

Ada tiga manfaat DPLK yang luar biasa sebagai program pensiun, yaitu :

1. Ada pendanaan yang pasti untuk masa pensiun melalui iuran yang disetor secara bulanan, tentu semakin besar iurannya semakin optimal uang pensiunnya.

2. Ada hasil investasi yang diperoleh selama menjadi peserta DPLK sehingga dana berkembang secara optimal karena bersifat jangka panjang.

3. Ada fasilitas perpajakan yang diperoleh saat manfaat pensiun dibayarkan ketika pensiun, yang tidak diperoleh bila tidak melalui DPLK.

Maka melalui DPLK, setiap pekerja akan dapat memperoleh manfaat pensiun yang luar biasa. Besar kecilnya uang pensiun yang diterima dari DPLK sangat bergantung pada besarnya iuran yang disetorkan – hasil investasi – lamanya kepesertaan. Semakin lama menjadi peserta DPLK maka semakin besar manfaat pensiun yang diterima.

Jadi, sudahkah Adna merencanakan masa pensiun?

Bila tidak sekarang, lalu kapan lagi? Kerja Yes, Pensiun Oke.

Oleh : Syarifudin Yunus, Edukator Dana Pensiun Asosiasi DPLK.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending