Connect with us

OPINI

STRATEGI MEDIA CENTER UNTUK MEMENANGKAN PERANG UDARA DI PILKADA 2020

Published

on

Dalam setiap Pilkada selalu ada saja calon Pemimpin Daerah yang menghalalkan segala cara untuk meraih dukungan, dengan cara menjatuhkan lawan politiknya demi kemenangannya.

SEBENTAR lagi tahun 2020, Indonesia memasuki musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Pilkada serentak 2020 merupakan Pilkada gelombang keempat yang dilakukan untuk kepala daerah hasil pemilihan Desember 2015.

Sebanyak 270 daerah mengadakan Pilkada serentak, dengan rincian, ada : 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Seharusnya diikuti 269 daerah, namun menjadi 270 karena Pilkada Kota Makassar diulang pelaksanaannya.

Banyak yang bertanya, apa kunci sukses untuk memenangkan Pilkada 2020? Dengan tegas saya sampaikan bahwa, kuncinya ada di tim Media Center, terutama Online Reputation Manajemen (ORM) atau manajemen reputasi online. Apa itu? Nanti dijelaskan.



Secara garis besar, ujung tombak tim Kampanye Pasangan Pilkada memiliki tiga pilar struktur utama yaitu : Pertama, Tim Kesekretariatan. Kedua, Tim Sosialisasi & Kampanye (Soskam). Ketiga, Tim Media & Komunikasi (atau Media Center).

Seringkali, Tim Soskam ini disebut Tim Darat, sedangkan Tim Media Center disebut sebagai Tim Udara. Kedua pilar ini adalah ujung tombak yang memiliki target yang sama yaitu memenangkan peperangan Pikada, di darat dan di udara.

Tim Darat biasanya dikuasai oleh partai pengusung yang mengklaim memiliki konstituen yang sudah konfirm dipastikan akan mendukung Pasangan Pilkada.

Namun, jika dukungan partai pengusung dianggap tidak kuat, atau meragukan, maka untuk memperkuat dukungan biasanya juga dibentuk sejumlah grup Tim Relawan untuk membantu memenangkan Tim Darat.

Sedangkan Tim Udara biasanya diisi kaum profesional (bisa juga pihak yang terafiliasi dengan partai) yang memahami dunia Media Center. Tim inilah yang akan melakukan komunikasi, sosialisasi, dan kampanye di semua saluran komunikasi.

Tulisan tidak akan membahas banyak soal Tim Kesekretariatan, dan Tim Soskam (Tim Darat), namun lebih menyoroti Tim Media Center, yang terkait dengan Online Reputation Management (ORP) atau manajemen reputasi online.

Tim Media Center

Perlu dipahami bahwa tugas Media Center yang utama adalah meningkatkan popularitas. Karena dari menabur benih popularitas lah maka kita akan memanen elektabilitas.

Jika elektabilitasnya juara, maka potensi untuk meraih kesuksesan dalam suatu pilkada juga akan sangat besar.

Media Center pada umumnya memiliki tiga sayap divisi utama di dalamnya, yaitu :

Pertama, Media Relations. Tim ini bertugas untuk mendapatkan dukungan dari media dan jurnalis. Langkah yang dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan publikasi, dan memberikan kemudahan kepada media untuk mendapatkan narasumber.

Kedua, Tim Media Sosial. Peranan tim Media Sosial juga sama pentingnya denga tim Media Relations. Kedua tim ini bisa sali melengkapi. Tujuan utama tim Media Sosial adalah agar kandidat mendapatkan raihan dukungan dari netizen

Ketiga, Tim Marketing Communications. Diperlukan strategi periklanan yang tepat untuk media buying dan media placement untuk penempatan iklan dan promosi kandidat. Tim Marcomm inilah yang bergerak.

Political branding yang tepat, dengan disain iklan yang pas sangat mempengaruhi persepsi publik terhadap sang kadidat. Karena itu pengukuran efektifitas penempatan media promosinya harus diperhitungkan secara matang.

Apakah Tim Media Center dengan tiga tim ini sudah cukup? Bagi saya belum cukup. Tiga tim di atas baru sebatas Front Office Media Center yang tampil di depan. Masih perlu ada Back Office Media Center yang berperang secara diam-diam di udara, seperti siluman.

Tim Online Reputation Management

Tidak bisa dihindari, meskipun ada larangan dan di bawah ancaman hukum, namun peredaran berita fitnah, kampanye hitam dan hoaks tetap saja tumbuh dengan subur, dan menyebar dengan luas secara cepat.

Apalagi, hanya berita negatif atau kampanye negatif, pasti dengan mudah akan membanjiri media online dan media sosial di musim kampanye Pilkada 2020 nanti.

Dalam setiap Pilkada selalu ada saja calon Pemimpin Daerah yang menghalalkan segala cara untuk meraih dukungan, dengan cara menjatuhkan lawan politiknya demi kemenangannya.

Nah, siapa yang bisa menenggelamkan berita dan kampanye negatif atau bahkan kampanye hitam dan hoaks yang menyerang dunia online pasangan Pilkada kita? Tim Media Relations? Bukan.

Tim Media Relations bertugas menjalin hubungan baik dengan kalangan jurnalis untuk memudahkan publikasi yang diproduksi, termasuk menbuat klarifikasi jika ada berita negatif yang tidak benar. Lebih untuk menjaga keseimbangan berita saja, news of balance.

Namun untuk tugas menenggelamkan berita-berita sampah di dunia online, seperti rumor, gosip, berita negatif dan fitnah adalah tugas Tim Online Reputation Management (ORP) atau manajemen reputasi online, saya sering menyebutnya sebagai Tim Sapu Langit.

Dalam konteks Pilkada, ORM adalah sebuah strategi untuk mengontrol segala interaksi, aktivitas, dan feedback terhadap pasangan Pilkada, khususnya yang terjadi di dunia online.

Bagi pasangan Pilkada, munculnya informasi, komentar, atau sentimen negatif, khususnya di digital (mesin pencari Google) tentu dapat menjadi ancaman. Karena hal negatif dapat berpengaruh negatif terhadap reputasi pasangan Pilkada.

Di sinilah peran ORM dibutuhkan. Tujuannya agar online reputation pasangan Pilkada tersebut ‘baik’ di mata calon pemilih maupun konstituen. Nama yang baik pasangan Pilkada di dunia online akan memberikan kesan dan persepsi yang baik juga.

Cara Kerjanya Bagaimana?

Sebenarnya ini teknis sekali, jika punya tim yang mumpuni segera diaktivasi dan ditandemkan dengan Tim Media Center agar bisa langsung bersinergi secara optimal. Jika belum ada tim, lebih baik serahkan pada ahlinya.

Bayangkan ketika calon pemilih mengecek dengan googling nama-nama pasangan Pilkada kita, namun yang muncul adalah berita-berita sampah yang menyerang? Sangat menyakitkan karena persepsi calon pemilih pun bisa berubah.

Tim ORP harus memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk adalah membersihkan Google halaman 1 dari polusi berita negatif pasanan Pilkada. Selain menenggelamkan berita negatif, tim ini harus bisa menggeser berita positif ke Halaman 1 Google.

Berita negatif sangat penting untuk dihilangkan dari halaman 1 google, karena kecenderungan pengguna Google hanya membuka halaman 1 Google, dan mengklik satu dari 5 saran teratas di halaman hasil (SERP, search engine result page).

Tim ORM juga akan mengoptimasi Press Release positif hasil klarifikasi dan data/fakta yang sudah diterbitkan di berbagai media online mainstream, maupun media sosial seluas-luasnya.

Selanjutnya tim ORP akan melakukan langkah-langkah yang tepat untuk mencari solusi soal ini. Halaman pencarian Google tidaklah permanen. Berita yang miring dapat disingkirkan, dan digantikan dengan berita positif yang melegakan.

Secara garis besar, untuk mencapai goal tersebut tim akan membangun dan menulis berita positif (re-frame) dengan melakukan posting pada blog network di berbagai kanal. Tim juga akan mengunggah foto maupun video pada kanal yang tepat.

Selain itu, dengan terbitnya berita-berita klarifikasi, dan berita sejuk yang kondusif di media mainstrem nasional tentu semakin medukung dan melengkapi suplay bahan berita yang positif semakin mudah untuk menenggelamkan berita negatif.

Dengan modal inilah, tim inti ORP, yatu tim Search Engine Optimation (SEO) bisa bekerja secara optimal. Tim SEO inilah yang bertanggumgjawab untuk mengoptimasi seluruh konten, dan menatanya agar yang positif tampil di halaman 1 Google dan menggeser berita negatif secara kreatif (de-indexing) ke halaman belakang google.

Begitulah, jika langit online menjadi bersih dan cerah kembali, serta tidak ada lagi berita yang tidak diharapkan muncul di halaman satu Google, maka sesungguhnya pasangan Pilkada Anda sudah menang di udara.

Berarti tinggal selangkah lagi Anda memenangkan perang di darat. Setidaknya Tim Udara sudah memberikan kontribusi maksimal suatu infrastruktur dan jalan yang bagus untuk Tim Darat menyerang dan menangkis.

Saatnya kombinasi antara Tim Partai dan Tim Relawan membuktikan kehebatannya yang diterjemahkan dengan banyaknya jumlahnya suara yang memenangkan pasangan Pilkada kita. Selamat berpesta domokrasi.(*)

(*) Budi Purnomo S.IKom, M.IKom adalah praktisi media dan komunikasi.

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom, pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalamaan menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, dan tim Master SEO Indonesia,  menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM),  Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

OPINI

Meneropong 2024, Seperti Apa Peta Politik Indonesia ke Depan

Published

on

Direktur Political and Public Policy Studies. (P3S), Dr Jerry Massie MA PhD (Foto : Instagram @bhee_jay)
Indonesiaraya.co.id – Saya lihat beberapa peluang di luar ibukota ada Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil maupun Gubernur Khofifah Indar Parawangsa. Anies Baswedan juga berpeluang besar. Covid-19 adalah representasi capres. Dua tokoh mileneal yakni Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Alasan mendasar, kecepatan, kesiagaan sampai ketepatan mengambil policy and decision (kebijakan dan keputusan) menjadi kartu AS. Erick tokoh milenial potensial yang credible. Mantan bos klub raksasa Italia “Nerazurri” Inter Milan ini punya kemampuan memimpin yang apik. Lihat saja, bagaimana dia membersihkan  BUMN, bahkan merekstrurisasi perusahaan plat merah ini dari 142 menjadi 107 perusahaan. Peran media sangat besar mendongkrak popularitas dan elktabilitas. Saat ini tiga gubernur ini kerap muncul dilayar kaca dan ini menjadi magnet politik dan ada daya magis politik. Dengan mulai surut bahkan turun elektabilitasnya Prabowo bahkan PDIP, ini menjadi sinyalemen positif bagi figur lain. Kemapanan, ketegasan dan visioner menjadi poin penting penilaian publik pada Pilpres 2024 mendatang. Saya nilai saat ini rakyat butuh bukan sekadar imaging political (politik pencitraan) tapi political action (tindakan politik). Bukan hanya umbar janji atau politik jual kecap bahkan politik dagang sapi, tapi the real politik. Saya prediksi swing voters (pemilih mengambang) akan menigkat pada Pemilu 2024. Data statisiknya pada 2019 yakni 13 persen bertambah undiceded voters. Lantaran sejumlah UU yang digodok tak sesuai dengan keinginan dan kemauan publik. Sebut saja, RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP), UU Omnibus Law yang ditolak kaum buruh, UU pemindahan ibukota baru, Kesehatan, Pajak, Tenaga Kerja. Soal Pepres No. 40/2004 tentang BPJS, UU Tapera No 4 Tahun 2016. Belum lagi 12 RUU-KHUP kontroversi dari Santet sampai Aborsi. Jelas ini akan sangat merugikan partai-partai besar. Belum lagi Perppu No. 1/2020 tentang Pandemik Covid-19. Ini barangkali ini akan menurunkan kredibilitas partai pendukung pemerintah. Boleh jadi, swing voters dan undiceded voters bisa mencapai 30 persen, yang mana pada 2019 mencapai 25 persen. Politik etis akan menjadi barometer kemenangan calon pada Pilpres 2024 bukan politik praktis. Menurut saya, publik tak butuh NATO (No Action Talk Only) tapi (TLDM) Talk Less Do More. Pasalnya, rakyat kerap jadi kelinci percobaan. Tokoh konservatif lainnya adalah Rizal Ramli. Manta Menko Ekuin di era mendiang Presiden Gus Dur ini berpeluang, lantaran selain dekat dengan rakyat kecil, suka membantu terhadap kaum marjinal serta cinta dan peduli rakyat. Beliau tipikal bukan hanya pencitraan tapi tindakan nyata. Rizal calon alternatif dari kalangan profesional, akademisi dan aktivis. Suara lantangnya membela kelompok terzolimi menjadi acuan baginya di Pilpres 2024. Calon presiden rakyat 2019 lalu ini memang tak didukung partai di parlemen tapi aura politiknya cukup kuat. Untuk calon ketua parpol maka Surya Paloh cukup berpotensi lolos pada 2024 ini. Salah satu tokoh dari parpol ini berpotensi maju pada bursa Pilpres 2024. Untuk the giant party (partai raksasa) Golkar akan sangat sulit untuk lolos. Airlangga membuat kebijakan Kartu Prakerja Rp 5,6 triliun serta kurang berhasilnya memimpin Golkar akan sangat sulit baginya untuk bersaing, malahan Bambang Soesatyo yang lebih berpeluang. Manajemen partai ini sepengetahuan saya kurang afdol. Itulah alasan utama yang membuat partai tertua ini jumlah kursinya anjlok atau jeblok pada Pileg 2019. Barangkali agak berat bagi Airlangga untuk lolos. Pemilu 2019 total perebutan kursi DPR RI naik dari 560 menjadi 575 kursi. Saat dipimpin Airlangga, Golkar hanya sanggup mendapat 85 kursi. Itu menurutnya, turun jauh dari penetapan target 110. Bahkan, masih jauh lebih baik dari aktual pendapatan kursi partai Golkar pemilu 2014 yang masih mengantongi 91 kursi. Tak hanya itu, perolehan kursi provinsi secara nasional disebutnya juga menurun. Golkar hanya mendapat 309 kursi dari total 2.207 kursi yang diperebutkan. Berbeda dengan Pemilu 2014, Golkar berhasil maraup 330 kursi. Sementara Jawa Timur atau daerah green zone (zona hijau) masih akan dikuasai PKB, Jateng (Red Zone, PDI-P), Jabar (White Zone, Gerindra dan PKS), Banten (Yellow Zone, Golkar). Jakarta adalah wilayah white and red zone. Kekuatan ini bisa bergeser pada Pilpres 2024, jika melihat road mapping politik saat ini. Tetap daerah perang politik di Jawa tetap seru. Jabar dengan pemilih terbanyak 33,2 juta, Jatim 30,9 Juta, Jateng 27 Juta. Jakarta 7,7 juta pemilih, Banten 7,4 juta dan Jogja 2,7 juta jadi total 118,8 juta. Bisa dibilang pemilih di Pulau Jawa hampir 60 persen dari 192 juta pemilih pada pilpres 2019 lalu. Jika Ganjar berpasangan dengan Ridwan Kamil maka 33 juta dan 27 maka ada 60 juta suara keduanya. Jika Khofifah-Ridwan (63 juta), Ganjar- Anies (34 juta), Anies-Ridwan (40 juta), Khofifah-Anies (37 juta), Ridwan-Khofifah (60 juta). Lawan tangguh juga jika Prabowo-Puan ditandemkan. Alasannya sederhana kedua arai ini menguasai parlemen selain Golkar. PDIP meraup 128 kursi dan Gerindra 78 kursi pada pemilu lalu. Berarti perkawinan politik PDI-P dan Gerindra. Jila dilihat gelagat Pra Prabowo dengan merapat ke koalisi PDI-P. Ini setidaknya, sinyalemen red and white akan berafiliasi politik. Itulah gambaran peta politik 2024. Indikiator kemenangan terletak pada branding, market share politik, strategy, building issues, approaching political, political marketing, team work and political warfare. Oleh : Dr Jerry Massie MA PhDDirektur Political and Public Policy Studies.

Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

DOR, PANCASILA!

Published

on

Pancasila adalah dasar ideologi-ideologi negara Indonesia. (Foto: Instagram @sindu.artgallery)
Oleh: Dhimam Abror Djuraid, Wartawan Senior Indodnesia. DOR, Hidup Ketuhanan Yang Maha Esa! Dor Dor, Hidup Kemanusiaan yang Adil dan Beradab! Dor Dor Dor, Hidup Persatuan Indonesia! Dor Dor Dor Dor, Hidup Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan_Perwakilan! Dor Dor Dor Dor Dor, Hidup Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia! (Puisi Balsem, KH. Mustofa Bisri) Kiai Mustofa Bisri, Gus Mus, memang kiai cum seniman yang asyik. Cara berdakwahnya sejuk, dan gaya kesenimanannya adem. Puisinya sering tajam tapi tidak pernah menyakiti. Ia mengritik dengan jenaka. Kumpulan karyanya “Puisi Balsem”, banyak berisi kritik yang menghangatkan badan seperti balsem, tapi bisa bikin jiwa sejuk dan adem karena jenaka. Bahkan, kritik keras terhadap pembunuhan yang dilakukan rezim represif Soeharto terhadap rakyat pun masih tetap bisa membuat senyum. Dor, Pancasila! Diciptakan pada akhir 1980-an ketika rezim otoritarian Soeharto berada pada puncak kekuatannya. Ketika itu banyak kasus kekerasan oleh negara terhadap masyarakat yang menimbulkan korban jiwa, raga, dan harta. Peristiwa Waduk Kedungombo, Waduk Nipah di Madura, kasus tanah Talangsari di Lampung, masalah tanah di Jenggawah Jember, dan masih banyak lagi. Represi terhadap warga sipil itu dilakukan atas nama Pancasila, satu-satunya dasar yang dipaksakan oleh rezim untuk menjadi asas tunggal bagi semua warga negara yang berserikat dan berkumpul, yang kebebasannya dijamin oleh undang-undang dasar. Bagi Soeharto, kebebasan boleh dipraktikkan asal berasaskan Pancasila. Garis demarkasi dikotomis pun dipasang. Pendukung Soeharto disebut pancasilais, penentangnya langsung dicap sebagai anti-Pancasila dan distigmatisasi dengan stempel komunis, PKI. Dengan stigmatisasi itu, dengan stempel itu, kekuasaan mempunyai license to kill untuk membunuh atas nama Pancasila. Pembunuhan, pengusiran, pengucilan, teror, labelling, menjadi senjata untuk membekap oposisi. Pancasila sebagai asas tunggal didominasi oleh negara. Bahkan, tafsir dan interpretasinya dimonopoli oleh kekuasaan dan disediakan panduan komplet butir demi butir sebagai haluan untuk melaksanakan dan menghayati Pancasila. Pancasila dikuasai secara total. Mengamalkan adalah pekerjaan fisik. Menghayati adalah pekerjaan rohani. Kedua-duanya dikontrol oleh kekuasaan. Bahkan cara kita memikirkan dan menghayati Pancasila pun dikontrol oleh rezim. Itulah rezim totaliter, yang atas nama kesatuan kolektif tidak memberi ruang kepada oposisi dan perbedaan pendapat. Hak-hak kebebasan individu harus diserahkan untuk kepentingan kolektif bersama. Semua kekuatan sosial masyarakat harus tunduk kepada negara dan menjadi bagian dari korporatisme negara. Stabilitas menjadi nomor satu sebagai prasyarat mutlak pembangunan nasional. Maka partai-partai politik pun disederhanakan dan difusikan menjadi dua kelompok saja; nasionalis dan agama. Kontrol terhadap oposisi menjadi lebih mudah karena oposisi semakin lemah atau tidak ada sama sekali. DPR hanya menjadi lembaga formalitas tukang stempel yang menjadi cap legitimasi kekuasaan. Demokrasi hanya formalitas, demokrasi prosedural tanpa ada kebebasan, Illiberal Democracy. Pemilu hanya formalitas yang hasilnya sudah disetting sesuai kepentingan kekuasaan. Dibutuhkan pemerintahan yang kuat untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan. Itulah “Hipotesa Lee” dari Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, yang kemudian melahirkan mazhab ”Developmentalism” di Singapura. Di Indonesia, Soeharto menerapkan hal yang sama maka lahirlah mazhab “Pembangunanisme”. Joko Widodo mengadopsinya menjadi “Neo-Pembangunanisme”. Mazhab ini memprioritaskan pembangunan fisik dan ekonomi dengan menomorduakan pembangunan politik dan demokrasi. Legitimasi utama rezim ini adalah keberhasilan ekonomi, lain tidak. Di Singapura mazhab ini berjalan baik karena pembangunan ekonomi berjalan berkelanjutan sampai sekarang. Rezim Soeharto ambruk karena krisis moneter 1998 menghancurkan legitimasi ekonomi yang menjadi andalan utama. Rezim Orde Baru Soeharto lahir sebagai koreksi terhadap rezim Orde Lama Sukarno yang dianggap melenceng dari rel Pancasila. Sungguh ironis, Sukarno yang menggali dan melahirkan Pancasila pada sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) 1 Juni 1945 harus terguling karena dianggap menyelewengkan Pancasila. Sukarno menginterpretasikan Pancasila sesuai interest politiknya. Maka kemudian lahirlah Demokrasi Terpimpin atas nama Pancasila meniadakan kekuatan oposisi. Atas nama Pancasila Sukarno menahbiskan diri sebagai Paduka Yang Mulia Presiden Seumur Hidup. Puncaknya Sukarno menghimpun tiga kekuatan politik Nasionalis, Agama, dan Komunis dalam satu payung Nasakom. Pancasila lahir dari perdebatan dan pergulatan pemikiran para founding fathers yang berargumentasi secara sangat ilmiah dengan memakai referensi luas dari pemikir-pemikir besar dunia mulai dari pemikiran kapitalisme liberal, pemikiran Marxis, gagasan-gagasan negara Islam, ide-ide fasisme, semuanya dibahas tuntas dengan adu argumentasi yang tajam. Kekuatan-kekuatan besar saling tarik-menarik dan tidak ada yang mau mengalah. Kekuatan Islam yang merasa menjadi kekuatan dominan mendesak untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kaum nasionalis tidak menyetujuinya dan menginginkan nasionalisme sebagai dasar negara. Para founding fathers kemudian sepakat dengan lima sila sebagai dasar negara yang disebut sebagai Pancasila, dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila paling utama. Tapi, kelompok Islam menghendaki agar ditambhakan tujuh kata, “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya”. Penambahan ini ditolak kelompok minoritas di luar Islam. Negosiasi berlangsung alot dan keras. Berkat jasa Mohamad Hatta, tujuh kata berhasil dihapus. Kelompok Islam merasa kecewa dan kalah. Ada rasa keterkhianatan. Tapi, mereka mengalah demi Indonesia merdeka. Pancasila menjadi kesepakatan bersama, Konsensus Nasional yang sudah final, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi bentuk Negara Paripurna (Yudi Latief, 2011). Kekuatan nasionalis dan Islam menjadi dua kekuatan yang terus-menerus bersaing berebut pengaruh. Di tengah-tengah mereka muncul komunisme yang menjadi kekuatan ketiga yang cukup signifikan. Ketiga kekuatan itu saling berebut pengaruh terhadap Sukarno yang kemudian punya ide menyatukan ketiganya dalam payung Nasakom. Melalui Nasakom Sukarno dianggap memberi peluang yang terlalu besar pada komunis PKI. Puncaknya PKI melakukan kudeta yang digagalkan oleh ABRI dan kekuatan Islam. Sukarno terguling karena menyelewengkan Pancasila dan menginterpretasikannya sesuai kehendaknya demi kepentingan politiknya. Soeharto juga terguling karena menyelewengkan Pancasila dengan menginterpretasikannya sesuai kepentingan politiknya. Soeharto mengulangi kesalahan Sukarno 30 tahun sebelumnya. Kini, 20 tahun berselang sejak kejatuhan Soeharto, ada kecenderungan sejarah akan terulang. Re-interpretasi terhadap Pancasila yang dilakukan oleh rezim “Neo-Pembangunanisme” Joko Widodo melalui Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila, memantik kontroversi dan seolah membangkitkan kembali zombie dari dalam kubur. Pemerasan Lima Sila menjadi satu sila, Eka Sila, “Keadilan Sosial” akan menggeser posisi Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang menjadi pondasi dan ruh semua sila. Indonesia bukan negara agama, tapi agama menjadi menjadi ruh bagi penyelenggaraan negara. Dengan perubahan ini Indonesia bergeser ke arah sekularisme. Ketidakjelasan sikap terhadap komunisme dalam rancangan undang-undang ini dikhawatirkan akan membuka pintu bagi kemunculan kembali PKI. Sebuah kekhawatiran yang bisa dijustifikasi. Menyejajarkan Pancasila dengan undang-undang lainnya adalah pendegradasian yang patut dipertanyakan. Kita tidak sungguh-sungguh belajar dari sejarah. Banyak sekali unsur-unsur kesalahan Sukarno dan Soeharto dalam rancangan undang-undang yang dipaksakan secara siluman ini. Sejarah mengulangi dirinya sendiri. L’histoire se repete. Selamat ulang tahun, Pancasilaku.

Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

Seandainya George Floyd Orang Indonesia

Published

on

Ribuan orang saat berkumpul untuk demonstrasi damai dalam mendukung George Floyd di AS. (Foto : Instagram @_sirwhite_)
Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa. DUNIA tahu, George Floyd orang Amerika. Warga kulit hitam yang terbunuh oleh seorang polisi. Dunia geger. Demo terjadi tidak saja di Amerika, tapi juga di sejumlah negara Eropa. Satu nyawa melayang telah hebohkan dunia. Tidak saja demo, penjarahan dan kerusuhan bahkan marak di sejumlah negara bagian Amerika. Rakyat Amerika marah. Masyarakat dunia juga marah. Mereka marah untuk membela Floyd. Dunia marah untuk melawan kedzaliman dan kesewenang-wenangan. Mereka turun ke jalan untuk menuntut keadilan. Melihat fenomena Floyd ini, saya teringat Indonesia. Sebuah negara subur yang rakyatnya gak pernah makmur. Di negara pancasila ini harga nyawa tak semahal di Amerika. Banyak pembunuhan yang tak terungkap. Banyak kematian misterius yang berlalu begitu saja. Penculikan dari satu rezim ke rezim yang lain lewat begitu saja. 894 petugas KPPS meninggal. Seorang dokter coba mengusut, justru dapat teror. Bahkan dianggap menebar berita bohong dan terancam diperkarakan. Mahasiswa dan demonstran mati, tak mudah untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa, apalagi mau membela. Baru-baru ini, dua orang petani di Poso ditembak mati saat bakerja di kebun. Sebelumnya, ada dua orang yang juga ditembak mati di daerah yang sama. Belum juga terusut, menyusul dua lagi mati ditembak. Gak jelas, itu peluru resmi, atau selundupan. Baru terungkap jika para pelaku tertangkap. Soal tangkap menangkap, dinamikanya terkadang rumit. Bergantung siapa pelakunya. Dan bergantung juga siapa yang mau menangkap. Tak jarang terjadi adu kuat. Harun Masiku adalah contoh yang belum hilang dari memori rakyat. Rumit! Coba kalau anda yang main suap, pasti ketangkap! Di negeri ini, tak semua pembunuhan terungkap. Apalagi cuma teror seperti yang dialami Prof. Dr. Ni’matul Huda, guru besar hukum tata negara UII Jogja. Hal yang sama dialami empat orang dari kampus UGM yang berencana mengadakan seminar bertajuk “Persoalan Pemberhentian Presiden Di Era Pandemi Ditinjau Dari Sistem Ketatanegaraan”. Dari cerita media, teror ini kelihatan sangat terstruktur. Banyak yang menduga, ini dilakukan oleh kelompok profesional. Siapa mereka? Kita tunggu kabar dari aparat kepolisian. Kembali pada soal George Floyd. Dia beruntung, karena dia warga Amerika. Setidaknya, banyak yang belain. Seandainya Floyd warga negara Indonesia, pasti lain ceritanya. Tak akan banyak yang peduli, apalagi turun ke jalan untuk membela. Bukan karena rakyat Indonesia gak peka dan tak punya rasa. Lebih karena rakyat takut. Banyak sekali peristiwa akhir-akhir ini yang membuat rakyat semakin takut. Paling cuma berani “ngedumel” di medsos. Itupun sambil was was. Seringkali terjadi para pembongkar kejahatan justru dilaporkan. Nasib! Memilih aman, banyak orang akhirnya diam. Jauhi risiko. Sambil ngelus dodo dan berbisik. Oh negeriku… Oh..bangsaku… Akibatnya, kedzaliman pun bebas beroperasi. Apalagi kalau parlemen juga diam, atau malah ikut ambil bagian. Sempurna! Meminjam istilahnya Prof Din Syamsudin, disinilah kemungkaran terstruktur terjadi. Nasib Floyd beda dengan nasib para mahasiswa, demonstran dan petani di Indonesia. Kematian Floyd telah ditulis oleh sejarah bangsanya. Bahkan ditulis oleh sejarah dunia. Tak menutup kemungkinan menjadi trigger bagi perubahan sejarah dan peradaban negara besar Paman Syam itu. Tak mustahil Donald Trump, presiden Amerika pun bisa jatuh karena satu nyawa seorang kulit hitam bernama George Floyd. Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa demokrasi itu tegak jika satu suara rakyat dihargai. Apalagi satu nyawa. Satu nyawa di negara demokrasi sama harganya dengan nyawa seluruh anak bangsa. Bangsa yang tak menghargai nyawa adalah bangsa yang sulit untuk membangun peradabannya. Jika ada suatu bangsa mengaku penganut demokrasi, tapi tak menghargai nyawa manusia, maka bangsa itu adalah bangsa pendusta. Dan demokrasinya adalah demokrasi dusta.

Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending

Redaksi media Indonesiaraya.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, Iklan dan Sponsorship, serta kerjasama bisnis lainnya.

Penerbit :
PT Media Indonesia Raya

Manajemen Media :
Indonesia Raya Media Center (IRMC)

Email Center :
redindonesiaraya@gmail.com
redaksi@indonesiaraya.co id

WA Center :
0878-15557788, 0819-15557788

Terbit Sejak 8 Desember 2017