Connect with us

NASIONAL

Supiori Jadi Target Sosialisasi Program Pengembangan Lini Lapangan KB

Published

on

Indonesiaraya.co.id, Papua – Sebagai tindak lanjut pencanangan Kampung KB, BKKBN Provinsi Papua menyelenggarakan Sosialisasi dan Pengembangan Program Lini Lapangan di Kampung KB bersama Mitra di Kampung Maryaidori, Distrik Supiori Selatan, Kabupaten Supiori, Provinsi Papua, Kamis (8/11/2018).

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Provinsi Papua, Sarwandi menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mempercepat pencapaian target kinerja program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga yang berkualitas. Terutama dalam penguatan kinerja para penyuluh KB atau petugas lapangan KB dalam menjalankan tugasnya.

“PLKB adalah ujung tombak di lapangan. Bila jumlah mereka mencukupi, maka program kependudukan dan KB akan berhasil. Selain itu program ini juga akan mempercepat pencapaian target kenerja program kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga,” ungkap Sarwandi.

Ia menjelaskan, keberhasilan program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) tidak terlepas dari dukungan dan peran serta tenaga lini lapangan yang meliputi penyuluh KB atau petugas lapangan KB yang berstatus PNS maupun Non PNS, para Kader Program serta keluarga-keluarga yang secara konsisten menjadi peserta KB yang dapat dijadikan motivator untuk keluarga lainnya.

Ia menyebutkan, pentingnya peran serta masyarakat di desa atau kampung yang yang telah dicanangkan Kampung KB oleh BKKBN untuk mensukseskan Program Kampung KB. Karena itu, saat ini BKKBN fokus meningkatkan kualitas hidup masyarakat menuju Indonesia sejahtera dengan keluarga sebagai sasaran.

“Tujuan program Kampung KB yaitu meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat, mendekatkan pelayanan Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKB­PK), tentunya dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan penguatan fungsi keluarga yang dilakukan terintegrasi lintas sektor,” ungkapnya. (adm)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

NASIONAL

Prof Soemitro Djojohadikusumo Sudah Jelaskan Kepada Publik soal Hubungan PRRI dengan CIA

Published

on

Prof. Soemitro Djojohadikusumo (alm)

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Menjelang pemilihan Presiden RI 2019, calon kuat Presiden RI Prabowo Subianto mendapat banyak serangan kampanye negatif, bahkan kampanye hitam, dan hoaks.

Bukan hanya pribadinya, keluarganya pun diserang kampanye hitam. Bahkan ayahandanya Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang telah tiada pun diserang sebagai antek Amerika Serikat, CIA, dan Pemerintah Revolusional Republik Indonesia (PRRI).

Untunglah soal hal tersebut, Prof. Sumitro Djojohadikusumo pernah menjelaskannya kepada publik melalui walawancara khusus dengan majalah TEMPO 1999.

Berikut ini adalah sebagian kutipannya :

TEMPO : Keluarga Djojohadikusumo seolah tengah mengalami keruntuhan akhir-akhir ini.

Prof. Soemitro Djojohadikusumo : I’ve been through the worst. Dan ini bukan yang pertama kali. Pada 1957, selama 10 tahun saya menjadi buron di luar negeri, hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain tanpa uang dan paspor. Saya pernah menjadi tukang mebel dan membuat lemari es besar sewaktu di Malaysia. Saya berkeliling dari satu negara ke negara lain dengan empat anak yang tengah tumbuh. What could be worse than that?

Itu berlangsung semasa Anda terlibat PRRI?

Begini, sebelum pindah ke PRRI, saya merasa hendak ditangkap. Apa-apaan ini? Saya bilang kepada istri, saya tidak mau ditangkap, karena merasa tidak bersalah. Akhirnya saya putuskan bergabung dengan PRRI. Dua hari sebelum berangkat, saya berbicara dengan Sutan Sjahrir. Saya bilang, ”Bung, saya mau hijrah dan bergabung dengan daerah.” Sjahrir mengatakan, ”Oke, Cum. Tapi kok daerah seperti tersingkir sendiri. Ada Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Garuda. Usahakan semua itu agar bisa bersatu.” Ceritera ini belum pernah saya buka. Anda yang pertama mendapatkannya.

Apa yang terjadi setelah itu?

Saya ke Palembang, terus ke Padang, Pekanbaru, Bengkalis. Dari sini, saya menyamar menjadi kelasi kapal menuju Singapura. Di sana, saya lari dari kapal, terus ke Saigon, Manila, terus ke Manado. Di situ, saya berbicara dengan semua pihak, kemudian dibentuk sebuah front nasional.

Anda tidak percaya dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga memutuskan ke PRRI?

Saya selalu percaya kepada Persatuan Indonesia. Sewaktu PRRI mau mendirikan Republik Persatuan Indonesia, mereka tidak mau memasukkan Pulau Jawa ke dalamnya. Saya menegaskan, ”Kalau begitu, saya tidak ikut karena negara kita satu.” Mereka menolak, dan saya ke luar. Karena tak mungkin pulang ke Jakarta, saya pergi ke luar negeri, dan menjadi buron 10 tahun. Saya tidak mau kembali. Waktu itu, adalah orang-orang Partai Sosialis Indonesia (PSI) sendiri, kecuali Sjahrir, yang mendesak agar saya diadili. Saya bilang, justru mereka yang harus diadili.

Siapa saja mereka?

Saya tidak mau menyebut nama. Nanti bikin onar.

Perpecahan itu tentu menyakitkan?

Sakit, tapi saya tetap pada pendirian bahwa masyarakat berada pada posisi sentral. Negara yang harus mengabdi kepada rakyat, bukan sebaliknya. Tapi sudahlah, mereka di sana, saya di sini. Saya punya prinsip sendiri. Filosof Nietzsche mengatakan, ”Eagles do not catch mosquitos” (elang pantang menyambar nyamuk).

Apa alasan utama Anda ke PRRI?

Ada rupa-rupa pertimbangan, dari timbulnya kesadaran bahwa pusat selalu mengabaikan daerah—misalnya kontrol devisa, di mana selama ini devisa selalu dihabiskan di Jakarta—sampai friksi antara Bung Karno dan PSI serta makin dekatnya tokoh PKI D.N. Aidit dengan Bung Karno. Ini juga yang menimbulkan perlawanan daerah-daerah—sesuatu yang sedang berlangsung sekarang.

Siapa yang mau menangkap Anda?

D.N. Aidit dan PKI. Saya mendapat berita dari intelijen saya sendiri bahwa Politbiro PKI menganggap Sumitro sebagai salah satu musuh besarnya sehingga harus dimusnahkan.

Sakitkah peristiwa pelarian 10 tahun itu? Atau justru Anda bahagia karena jadi punya banyak pengalaman?

Bahagiakah orang yang menjadi buron, dimaki-maki, berpindah-pindah negara, tanpa paspor, uang, dan kewarganegaraan, tanpa bisa memastikan apa yang akan terjadi setelah itu?

Kembali ke soal PRRI. Bukahkah Bung Sjahrir kemudian mengirim Djoir Muhammad untuk membujuk Anda kembali?

Djoir tidak pernah bertemu dengan saya. Kemudian Sjahrir mengirim lagi orang lain, Djohan (Sjahrusa), ke Singapura. Tapi dia tidak bertemu dengan saya. Namun saya katakan, saya tidak mungkin kembali. Setiap kali saya masuk kabinet—entah Natsir, Wilopo—saya dibilang bukan wakil PSI. Kalau pas gagal, mereka bilang itu kesalahan saya. Kalau berhasil, mereka bilang, “Dia (Sumitro) orang kita.” Bagaimana itu?

Benarkah PRRI mendapat suplai senjata dari Central Intelligence Agency (CIA) atau Dinas Rahasia Amerika?

Sebagian. Senjata yang lain dibeli di Phuket, Thailand, dan Taiwan. Saya tahu George Kahin (profesor dari Universitas Cornell) mengatakan saya orang CIA. Dia benar-benar ngawur. Banyak orang CIA justru benci saya. Memang benar ada kontak dengan CIA, intelijen Korea, Prancis. Ini kan gerakan bawah tanah.

Apakah CIA juga mendesain pola gerakan PRRI?

Tidak sejauh itu. Mereka hanya membantu. Yang mendesain orang-orang kita sendiri. Kelemahan PRRI adalah cenderung menganggap diri sebagai gerakan militer, sehingga lemah di politik. Kelemahan lain: terlalu banyak kepentingan daerah yang masuk.

Ada yang menilai Anda oportunis: melarikan diri di kala ada soal di Tanah Air, lalu kembali setelah rezim berganti dan berjaya di Orde Baru.

Well, saya rasa itu sikap pragmatis, bukan oportunistis. Secara prinsip, saya konsisten. Pada tingkat aplikasi, bisa berubah-ubah. Di situ letak pragmatismenya. Boleh saja kita menggunakan teori kapitalisme untuk sosialisme.

Bagaimana hubungan Anda dengan Bung Karno?
Baik. Sampai sekarang, saya tidak pernah menjelek-jelekkan Bung Karno, tidak satu kata pun, walau saya tahu Bung Karno menghujat saya. Bagi saya, dia ”Pemimpin yang Besar”, bukan ”Pemimpin Besar”. Dia jenius dalam politik, dan menyatukan negara ini. Dia luar biasa.

Lalu dengan Bung Sjahrir? Kan, Anda bergabung dengan PSI karena merasa cocok dengan pemikirannya?

Saya masuk PSI tahun 1950. Dan saya memang cocok dengan pemikiran Sjahrir tentang sosialisme humanitarian: negara adalah pelindung rakyat, bukan sebaliknya. Kemudian saya berpisah dengan PSI—tidak dengan Sjahrir—karena tidak tahan dengan kelompok-kelompok di sekitarnya yang merasa diri sebagai Sjahrir-Sjahrir kecil. Mereka terus-menerus omong tentang ideologi tanpa mewujudkan ideologi itu dalam real politics. Nah, setelah di PSI itu, saya ke PRRI.

Dan setelah ke PRRI—serta masa pelarian—Anda kembali ke Indonesia? Apakah Soeharto meminta Anda kembali?

Pada 1966, Soeharto mengirim Ali Moertopo mencari saya di luar negeri. Pak Harto butuh penasihat ekonomi karena Widjojo dan lain-lain masih muda-muda. Ali mencari kiri-kanan, tapi tidak berhasil. Sebagai buron, saya kan lebih mahir, ha-ha-ha.… Akhirnya, kami ketemu di Bangkok, November 1966, dipertemukan Sugeng Djarot, atase pertahanan kita di sana. Saya diminta kembali. Saya terima tawaran itu dan kembali pada Juli 1967. (red)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

NASIONAL

Buku Karya Prabowo Dibagikan Usai Silaturahmi di Tanah Abang

Published

on

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bersilaturahmi dengan warga Tanah Abang, Jakarta Pusat sore tadi. Usai acara, buku ‘Paradoks Indonesia: Negeri Kaya Raya, Tetapi Masih Banyak Rakyat Hidup Miskin’ karya Prabowo dibagikan.

Silaturahmi itu digelar di aula Masjid Al-I’tisham, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (11/11/2018). Usai acara, seorang pemuda berbaju koko tampak membawa setumpuk buku ‘Paradoks Indonesia.

Tidak ada logo partai yang digunakan oleh pembagi buku tersebut. Buku dibagikan kepada warga yang ditemui pemuda itu. Anak-anak sampai orang tua dengan senang hati menerima buku yang masih tersampul itu.

“Dibaca ya bukunya,” kata pria tersebut.

Usai acara, Prabowo sempat bersalaman dengan sejumlah warga. Tak lama kemudian, dia meninggalkan lokasi.

Sebelumnya, silaturahmi tersebut disiarkan langsung dalam halaman Facebook resmi Prabowo. Kegiatan ini sebelumnya tidak ada di jadwal resmi Prabowo.

“Silaturahmi Bersama Masyarakat Tanah Abang dalam acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ‘Memahami Arti Kalimat Tauhid dengan Mengkaji Ilmu Tauhid’,” demikian keterangan di Facebook Prabowo, seperti dikutip Detikcom. (*)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

NASIONAL

Pemerintah Diminta Ungkap Aktor di Balik Penangkapan Habib Rizieq

Published

on

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferry Juliantono meminta pemerintah Indonesia mengungkap aktor di balik penangkapan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Shihab di Makkah beberapa waktu lalu.

Pasalnya, sebelum ditangkap, rumah yang dihuni Habib Rizieq tiba-tiba terdapat bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang diduga bendera organisasi terlarang di Arab Saudi.

“Ini kan bendera yang ditempel tiba-tiba, sedangkan Habib Rizieq tinggal di rumah itu bukan baru kemarin. Pemerintah harus ungkap siapa aktor intelektual di balik penangkapan Habib di Makkah,” kata Ferry melalui keterangannya, Kamis (8/11/2018).

Menurut dia, hal tersebut dilakukan dengan sengaja oleh pihak-pihak yang ingin menghancurkan nama baik Habib Rizieq. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini juga mengatakan, cara-cara tersebut tidak mempan karena Habib Rizieq akhirnya dibebaskan oleh kepolisian setempat.

“Jelas ini dilakukan oleh aktor intelek dengan sengaja, tapi tidak bisa,” ujarnya.

Ferry mengingatkan, Habib Rizieq tidak semudah itu untuk difitnah termasuk dengan menempel bendera di kediamannya. Menurutnya, cara-cara tersebut hanya akan menguras energi yang sia-sia.

“Sudahlah tidak usah memakai cara-cara seperti itu dan membuat kegaduhan-kegaduhan baru di tahun politik ini,” tandasnya. (adm)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending