INDONESIA RAYA – Konflik Rusia – Ukraina sudah berlangsung lebih dari 7 bulan namun sampai saat ini belum menandakan konflik tersebut akan segara berakhir.

Apalagi negara negara NATO sekutu Ukraina terus mensupply bantuan kepada Ukraina untuk melawan Rusia.

Dampak akibat perang Ukraina-Rusia ini memang luar biasa.

Baik dari sisi politik,ekonomi, militer dan lain lain tidak hanya di Ukraina dan Rusia tetapi juga di Eropa dan bahkan hampir seluruh dunia baik negara negara sekutu Rusia maupun negara negara Sekutu Ukraina dan NATO.

Akibat perang ini puluhan ribu tentara Rusia dan Ukraina menjadi korban tewas, jutaan penduduk Ukraina eksodus dari Ukraina dan menjadi pengungsi di wilayah wilayah negara Eropa di sekeliling Ukraina.

Sementara institusi PBB tidak mampu menghentikan pertumpahan darah tersebut.

Akibat serangan Rusia ke Ukraina ini pun Rusia mendapat berbagai sanksi baik dari negara negara Eropa maupun dari Amerika Serikat.

Rusia pun tak tinggal diam Rusia mengancam untuk tidak mengalirkan aliran gasnya yang selama ini gas Rusia banyak di butuhkan oleh negara negara di Eropa dialirkan lewat pipa gas North Stream milik perusahaan raksasa gas Rusia Gazprom.

Dimana hal tersebut telah memukul industri di Eropa dan menyebabkan Eropa membeku karena tidak ada gas untuk memanasi ruangan.

Pada awalnya serangan Rusia ke Ukraina ini diperkirakan Rusia akan dengan cepat mengalahkan dan menguasai Ukraina.

Namun setelah berbulan-bulan perang terjadi belum ada tanda tanda Rusia dapat menaklukkan Ukraina.

Dengan kekuatan militer dan jumlah tentaranya Rusia memang diprediksi akan dengan cepat mampu menjatuhkan Ukraina.

Karena kekuatan militer Ukraina sangat jauh dibandingkan kekuatan militer Rusia.

Namun ternyata setelah 6 bulan lebih berlalu pertempuran Tersebut Ukraina ternyata tidak mudah ditaklukkan bahkan yang terjadi saat ini terjadi pukulan balik oleh tentara Ukraina terhadap Rusia.

Pasukan Ukraina mulai aktif mengusir Rusia dari wilayahnya. Terbaru, Kyiv mengatakan pasukannya sukses merebut kembali lebih dari 20 kota dan desa hanya dalam satu hari terakhir.

Ini terjadi setelah pasukan Rusia melarikan diri meninggalkan Izium, benteng utamanya di timur laut Ukraina.

Diketahui ribuan tentara Rusia telah meninggalkan posisi mereka, meninggalkan persediaan amunisi dan peralatan yang sangat besar.

Enam bulan perang dengan Ukraina, orang dalam militer mengatakan pasukan Kremlin sudah tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan pertempuran dan kini dilaporkan mundur ke Donbas karena kerugian Rusia di Ukraina memakan korban.

Rusia diprediksi akan melakukan pertempuran habis habisan dengan melawan Ukraina.

Karena dengan besar nya kerugian Rusia melakukan penyerangan ke Ukraina selama ini maka tidak ada pilihan lain bagi Rusia kecuali bertempur habis habisan.

Data dari pihak Ukraina menyebut, kini jumlah korban tewas Rusia dalam perang enam bulan telah meningkat menjadi sekitar 48.000 personel per awal September.

Para pejabat Barat memperkirakan jumlah orang Rusia yang tewas antara 70.000 dan 80.000, sementara Kremlin sendiri belum memperbarui jumlah terakhir 1.351 jiwa dari Maret.

Dunia memang masih menunggu bagaimana akhir dari konflik Rusia – Ukraina ini. Rusia memang tidak memiliki pilihan lain kecuali memenangkan peperangan dengan Ukraina ini.

Jika sampai Rusia kalah dalam pertempuran ini maka Rusia kemungkinan akan diserang balik tidak hanya oleh Ukraina tetapi juga oleh Amerika dan Sekutunya negara negara NATO dan jika itu terjadi maka Putin akan jatuh dan Rusia akan hancur.

Dunia berharap banjir darah dapat berhenti di wilayah ukraina, namun plan perang besar-besaran Rusia kepada Ukriana akan menyebankan banjir darah akan terjadi kembali. Hal tersebut terjadi artinya PBB dan lembaga kemanusaian.

Opini: Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute.***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Indonesiaraya.co.id, semoga bermanfaat.