Connect with us

OPINI

Usulan Kenaikan Tarif Angkutan Penyeberangan Harus Memerhatikan Hak Konsumen, dan Keberlangsungan Usaha

Published

on

YLKI mendorong adanya kajian aspek ATP (Ability to Pay) dan WTP (Willingness to Pay).

INDONESIA adalah karakter negara kepulauan terbesar di dunia. Sehingga angkutan berbasis perairan, sungai penyeberangan dan lautan menjadi sangat vital. Oleh karena itu mobilitas warga yang berbasis angkutan penyeberangan, seperti angkutan ferry, mempunyai nilai yang amat strategis, bahkan mutlak diperlukan. Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah sebagai regulator bertanggungjawab untuk menjadikan angkutan penyeberangan yang aman, nyaman, tarifnya terjangkau, dan menjunjung tinggi aspek keselamatan. Selain itu, pemerintah juga wajib menjaga keberlangsung usaha dari operator penyeberangan yang ada.

Relevan dengan hal ini, terbetik wacana dari operator yang terhabung dalam GAPASDAP, yang ingin melakukan stop operasi. Ancaman ini dilakukan dikarenakan Menhub dan Menko Maritim menolak usulan kenaikan tarif yang diajukan GAPASDAP. Terkait hal ini YLKI mempunyai beberapa catatan, yakni:

1. YLKI tidak mengendors rencana stop operasi alias pemogokan, yang akan dilakukan angkutan ferry, sebab akan mengacaukan pelayanan publik dan bahkan stabilitas ekonomi lokal, bahkan nasional;



2. Terkait usulan kenaikan tarif, jika dilihat dari sisi momen, operator penyeberangan sudah pantas mengajukan usulan kenaikan tarif, sebab kenaikan tarif terakhir dilakukan pada 3 tahun yang silam. Soal besaran dan formulasinya, YLKI mendorong adanya kajian aspek ATP (Ability to Pay) dan WTP (Willingness to Pay). Yang terpenting kenaikan tarif masih mempertimbangkan sisi daya beli konsumen sebagai penumpang ferry. Hal ini penting karena penumpang ferry banyak dari kelas menengah bawah, khususnya di rute perintis. Selain itu, kenaikan tarif harus berbanding lurus dg pelayanan. Jadi pengusaha angkutan ferry harus berkomitmen untuk meningkatkan pelayanannya;

3. Jika Kemenhub dan Kemenko Maritim tidak mau menaikkan tarif angkutan penyeberangan, maka pemerintah sebagai regulator harus memberikan insentif dan PSO (Public Service Obligation) kepada operator. Jangan menolak kenaikan tarif tapi tidak mau memberikan insentif/PSO…itu namanya mau menangnya sendiri. Artinya pemerintah harus fair, demi menjaga keberlangsungan usaha angkutan ferry dan aksesibilitas pada konsumennya. Jika mereka sampai stop operasi maka akan merugikan semua pihak dan pemerintah harus bertanggungjawab.

4. Skema kebijakan tarif penyeberangan, selain harus memperhatikan aspek ability to pay konsumen; juga harus menjamin keberlangsungan usaha angkutan penyeberangan. Rontoknya pelaku usaha angkutan penyeberangan menunjukkan adanya perubahan kebijakan pentarifan di bidang penyeberangan.

Demikian. Terima kasih.

Wassalam.

Oleh : Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

OPINI

Kelola Dana Haji Tunggu Tsunami

Published

on

Tahun 2020 ini BPIH tertolong. Karena harga minyak turun, rupiah menguat dan hasil nego tiket per jama'ah bisa turun dua juta.

PERSOALAN dana haji akan jadi gempa, bahkan menimbulkan sunami jika tidak dilakukan antisipasi sejak dini. Tahun demi tahun kebutuhan subsidi untuk jama’ah yang berangkat haji makin besar. Tahun ini BPKH harus mensubsidi jama’ah haji yang akan berangkat sebanyak tujuh triliun lebih. Dari mana sumber uang itu? Dari uang setoran jama’ah haji yang masih ngantri 10-30 tahun. Kenapa tidak disubsidi dari negara? Pertanyaan anda aneh. Subsidi listrik, gas dan BBM saja dicabutin, mana kuat negara mensubsidi jama’ah haji?

Mengapa harus disubsidi? Karena uang setoran jama’ah haji tak mampu membayar seluruh kebutuhan haji. Perhatikan baik-baik! Kebutuhan haji per jama’ah Rp. 69.174.167,97. Total setoran jama’ah haji hanya Rp. 35, 235.602. Kurang Rp. 33. 938.555.

33.938.555 jika dikalikan 221 ribu jama’ah haji yang berangkat setiap tahunnya plus 4100 petugas haji dan kebutuhan operasional sebelum berangkat, maka total subsidi 7.164.668. 846.603, 92. Tujuh triliun lebih bung. Mampukan BPKH mengolah dana haji di bisnis yang bisa menghasilkan dana tujuh triliun lebih pertahun?



Jika rata-rata uang setiap jama’ah haji hanya menghasilkan satu juta pertahun, dalam waktu tunggu 10 tahun, maka hanya menghasilkan 10 juta. Sementara kekurangannya Rp. 33.938.555. Dari mana kekurangan dana itu diambil? Dari dana milik jama’ah daftar tunggu. Bisa hasil investasi, dan tidak menutup kemungkinan dari setoran pokok mereka.

Tahun 2020 ini BPIH tertolong. Karena harga minyak turun, rupiah menguat dan hasil nego tiket per jama’ah bisa turun dua juta. Sehingga, belum ambil uang pokok setoran jama’ah dalam daftar tunggu. Tapi, situasi ini insidentil dan tak bisa diprediksi. Kalkulasi normal, kedepan uang pokok setoran jama’ah haji daftar tunggu bisa terpakai untuk jama’ah yang berangkat duluan. Anda daftar haji tahun 2021, maka sebagian uang yang anda setor bisa langsung terpakai untuk jama’ah haji yang berangkat tahun itu. Seperti first travel dong? Mirip! Berpotensi terjebak dalam piramida ponzi.

Ibarat bisnis, hanya menunggu waktu untuk collaps. Ketika dana habis untuk mensubsidi jama’ah haji yang berangkat lebih awal, maka jama’ah haji dalam daftar tunggu suatu saat gak bisa berangkat haji. Saat itulah gempa dan sunami terjadi. BPKH akan menjadi pihak tertuduh, karena tidak berterus terang dari awal. Tidak adanya akuntabilitas dan transparansi publik bisa dianggap sebagai tindakan kriminal. Mungkinkah semua pimpinan BPKH akan dipenjarakan? Soal ini, silahkan tanya kepada ahli hukum.

Lalu, bagaimana antisipasinya? Pertama, naikkah setoran haji. Logika sederhana, dalam kondisi ekonomi yang normal, setiap tahun kebutuhan haji naik. Entah itu tiket pesawat, ketering, hotel, perlengkapan haji, dll. Termasuk peningkatan pelayanan jama’ah haji dengan naiknya biaya petugas haji. Anda beli nasi padang saja setiap tahun naik, wajar kalau ongkos haji naik.

Soal ongkos haji kebijakannya ada di pemerintah. Dalam hal ini adalah menteri agama atas persetujuan komisi VIII DPR. Di tangan menteri agama dan DPR-lah nasib dana haji ditentukan. Collaps atau tidak, bukan hanya tanggung jawab BPKH, tapi juga menteri agama dan DPR. Terutama komisi VIII.

Tentu, jika mau naik harus bertahap. Bisa dikalkulasi, sehingga Cash Flow dana haji bisa dikelola dengan sehat.

Kedua, subsidi pemerintah. Sekarang mungkin berat. Entah suatu saat nanti. Tapi, siapa yang jamin bahwa ekonomi Indonesia kedepan akan membaik. Gak ada yang tahu. Belum lagi muncul persoalan diskriminasi. Haji khusus untuk umat Islam, bagaimana dengan umat di luar Islam. Subsidi apa yang akan diberikan kepada umat non muslim supaya ada keadilan. Ternyata tak sesederhana seperti mencairkan dana PT. Jiwasraya dan PT. Asabri.

Jika satu dari dua solusi ini gak diambil, gempa dan sunami dana haji akan terjadi. Kecuali jika BPKH pandai bermain saham gorengan dengan memanfaatkan BUMN-BUMN yang ada. Itu kemungkinan bisa menutup semua subsidi. Cara cepat dan efektif. Tapi itu kan tidak halal… Mosok berangkat haji pakai dana yang gak halal? Bukan hanya Pak Jokowi yang marah, malaikat juga bakal marah loh…

Oleh : Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

Pentingnya DPLK dan Merencanakan Masa Pensiun

Published

on

Perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba.

KENAPA Anda perlu merencanakan masa pensiun?

Tentu, ada banyak argumen untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi faktanya, 90% pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun. Bahkan 93% pekerja menyatakan tidak tahu akan seperti apa di masa pensiun. Alhasil di Indonesia, riset menunjukkan 73% pensiunan mengalami masalah keuangan. Realitas pensiunan di Indonesia semacam itu terjadi. Akibat tidak adanya perencanaan masa pensiun para pekerja.

Hampir semua orang yang berpendidikan tinggi, pasti ujung-ujungnya ingin bekerja. Bekerja dari level rendah hingga mencapai karier puncaknya. Puluhan tahun waktu dihabiskan untuk bekerja. Sambil menikmati upah yang diterima setiap bulan. Tapi kenyataannya, riset membuktikan hanya 9% pensiunan alias pekerja yang benar-benar sejahtera di masa pensiun. Sementara 91% lainnya, masih tetap bekerja di usia pensiun atau menggantungkan hidupnya di hari tua pada anak-anaknya.



Good worker harus tahu. Bahwa di Indonesia saat ini. Usia harapan hidup orang Indonesia telah beranjak menjadi 72 tahun. Artinya apa? Bila seseorang pekerja pensiun di usia 55 tahun, maka masih ada 17 tahun masa kehidupan setelah pensiun. Sementara indeks biaya hidup di masa pensiun mencapai 70%-80% dari gaji terakhir. Itu berarti, bila gaji terakhir Rp. 10.000.000 maka tingkat penghasilan pensiun (TPP) yang dibutuhkan di hari tua berkisar di antara Rp. 7.000.000 s.d. Rp. 8.000.000 per bulan. Bila keadaannya sudah tidak bekerja lagi, maka dari mana uang yang dibutuhkan di masa pensiun itu diperoleh?

Maka suka tidak suka, siapapun orangnya, perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba. Jangan sampai masa bekerja jaya tapi masa pensiun merana.

“Urusan pensiun mah nanti saja, kan gaji yang ada hanya cukup untuk biaya hidup” begitu kata seorang pekerja. Tapi ada pekerja yang lain bilang “saya menyesal sekarang, karena dulu saat bekerja tidak mau menabung untuk masa pensiun?” Itulah kenyataannya, masa pensiun kadang seperti “buah simalakama”. Di satu sisi, gaji sering habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, tidak sedikit pensiunan yang menyesal karena lalai merencanakan masa pensiun yang sejahtera. Intinya, setiap pekerja harus punya sikap terhadap masa pensiunnya sendiri. Mau seperti apa, kau kayak apa?

Lalu, bagaimana cara jitu merencanakan masa pensiun?

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melalui program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Karena DPLK merupakan program pengelolaan dana pensiun yang dirancang untuk mempersiapkan jaminan finansial di masa pensiun. Program yang didedikasikan untuk pembayaran manfaat pensiun bagi setiap pekerja. Melalui DPLK, setiap pekerja dapat menyetorkan sejumlah uang secara rutin setiap bulan. Sebagai perencanaan masa pensiun dan hanya dapat dicairkan ketika memasuki usia pensiun.

DPLK, tentu bukan asuransi jiwa. DPLK pun bukan reksadana. Tapi intinya, DPLK dirancang untuk menyiapkan masa pensiun yang sejahtera. Karena DPLK bertumpu pada pengelolaan program pensiun iuran pasti (PPIP) dan orientasinya untuk hari tua atau masa pensiun. Agar tersedia dana yang cukup untuk membiayai pensiunan di hari tuanya, di saat tidak bekerja lagi.

Ada tiga manfaat DPLK yang luar biasa sebagai program pensiun, yaitu :

1. Ada pendanaan yang pasti untuk masa pensiun melalui iuran yang disetor secara bulanan, tentu semakin besar iurannya semakin optimal uang pensiunnya.

2. Ada hasil investasi yang diperoleh selama menjadi peserta DPLK sehingga dana berkembang secara optimal karena bersifat jangka panjang.

3. Ada fasilitas perpajakan yang diperoleh saat manfaat pensiun dibayarkan ketika pensiun, yang tidak diperoleh bila tidak melalui DPLK.

Maka melalui DPLK, setiap pekerja akan dapat memperoleh manfaat pensiun yang luar biasa. Besar kecilnya uang pensiun yang diterima dari DPLK sangat bergantung pada besarnya iuran yang disetorkan – hasil investasi – lamanya kepesertaan. Semakin lama menjadi peserta DPLK maka semakin besar manfaat pensiun yang diterima.

Jadi, sudahkah Adna merencanakan masa pensiun?

Bila tidak sekarang, lalu kapan lagi? Kerja Yes, Pensiun Oke.

Oleh : Syarifudin Yunus, Edukator Dana Pensiun Asosiasi DPLK.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

Kuat Dugaan China Mau buat Senjata Biologi

Published

on

Para ilmuwan internasional sangat mencemaskan keteledoran China dalam mengoperasikan BSL-4 di Wuhan.

MUNGKINKAH China sedang dalam proses membuat senjata biologi? Pertanyaan ini wajar dimunculkan mengingat negara komunis ini sangat berambisi membangun 7 unit laboratorium (lab) biosafety (BSL) level 4 atau BSL-4. Lab jenis ini dilengkapi sistem keselamatan dan pengamanan maksimum untuk melakukan penelitian dan eksperimen virus-virus atau kuman-kuman yang paling berbahaya.

China baru memiliki satu BSL-4. Secara kebetulan berada di Wuhan –tempat munculnya virus Corona (2019-nCoV) yang sedang menggegerkan dunia saat ini. Tetapi, China bertekad untuk membangun 7 unit BSL-4 menjelang 2025. Mengapa China sangat ingin memiliki begitu banyak lab BSL-4 dengan sistem biocontainment (kurung bio) maksimum?

BSL-4 di Wuhan (yang resmi bernama Wuhan National Biosafety Laboratoty) baru mendapatkan akreditasi nasional dan internasional pada bulan Agustus 2017. Satu BSL-4 sedang menunggu akreditasi. Berlokasi di Harbin, ibukota provinsi Heilongjiang, China selatan. Kemudian, dua lagi akan dibangun di Beijing dan Kunming. Sampai akhirnya pada 2025 China memiliki tujuh BSL-4.



Sebelum diteruskan, sebentar kita pahami penjenjangan internasional lab biologi.

Ada BSL-1 (level 1) yang biasanya digunakan untuk zat-zat yang tidak menyebabkan penyakit pada orang dewasa. Tidak menimbulkan bahaya terhadap lingkungan.

Ada BSL-2 (level 2), yaitu lab yang digunakan untuk virus atau kuman yang menjadi penyebab penyakit pada manusia tetapi tidak serius. Dan penyakit yang ditimbulkannya bisa diobati.

Kemudian, ada BSL-3 (level 3). Yaitu, lab yang dirancang untuk menangani zat atau virus yang menyebabkan penyakit serius dan mengancam nyawa. Berisiko tinggi untuk perorangan, tapi risiko rendah untuk khalayak. Masih mungkin dicegah dan diobati. Di lab ini, semua ilmuwan yang bekerja diwajibkan mengenakan pakaian dan peralatan pelindung (mirip ‘suit’ astronot). Mereka bekerja di bawah tekanan udara negatif. Lab diisolasi dari gedung-gedung lain. Pintu lab harus jauh dari pintu masuk komplek.

Yang terakhir adalah BSL-4 (level 4). Sangat serius standar keamanan dan keselamatannya. Lab ini digunakan untuk zat atau virus yang menyebabkan penyakit maut. Berisiko tinggi untuk perorangan maupun khalayak. Tidak ada pencegahan atau obat yang tersedia. Lokasi lab harus terisolasi total. Para ilmuwan yang bekerja di lab harus mengenakan jaket (pakaian) pelindung yang betekanan positif. Mereka harus diguyur shower sebelum memakai dan melepas ‘suit’ pelindung dan kemudian mereka mandi sebelum meninggalkan lab.

Pakaian lab yang telah disiram, dimusnahkan. Pintu masuk lab berlapis. Setelah pintu pertama, ada pintu kedua. Untuk memastikan tidak ada ‘escape’ (kebocoran). Setelah pekerjaan usai, udara di lab harus difilter sebelum dilepas ke luar. Begitu juga air yang digunakan harus disterilkan sebelum dibuang. Fasilitas BSL-4 dibangun dengan standar ‘state of the art’ (sangat bagus dan serba terbaik). Untuk membangun satu unit diperlukan waktu sekitar 10 tahun. BSL-4 biasanya digunakan untuk diagnose, riset dan pengembangan obat antivirus dan vaksin.

Itulah tingkat-tingkat lab biosafety.

Kembali ke tekad China untuk membangun 7 unit BSL-4. Richard Ebright, biolog molekuler di Rutgers University di Piscataway, New Jersey, Amerika Serikat (AS), tidak yakin China daratan memerlukan lebih dari satu BSL-4. Dia curiga penambahan jumlah BSL-4 itu bertujuan untuk mengimbangi jaringan lab sejenis yang dimiliki AS dan Eropa.

Nah, untuk apa jaringan BSL-4 AS dan Eropa harus diimbangi? Mungkin saja langkah ini termasuk “lomba hebat”. Tetapi, sangat besar kemungkinan kelebihan kapasitas lab canggih itu akan digunakan untuk membuat senjata biologi.

Kecurigaan ini sangat beralasan. Aspek ketegangan politik China dengan negara-negara lain diperkirakan mendorong mereka untuk memiliki banyak BSL-4. Sisi ini yang sangat mencemaskan. China bisa saja secara rahasia mengembangkan senjata biologi untuk melumpuhkan lawan-lawannya. Ketika China menyerang musuh dengan senjata terlarang ini, mereka sendiri sudah menyiapkan antivirus atau vaksinnya.

Ada sisi lain juga. Menurut Tim Trevan, pendiri CHROME Biosafety and Biosecurity Consulting di Damascus, Maryland, AS, China memburu pembangunan 7 unit BSL-4 itu untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bisa bersaing di bidang biologi. “Jaringan BSL-4 itu adalah lambang status biologi, baik itu diperlukan atau tidak,” kata Trevan.

BSL-4 biasanya digunakan untuk diagnose, riset dan pengembangan obat antivirus dan vaksin. Termasuk virus Ebola, SARS, virus demam berdarah Krimea-Kongo, virus Nipah, virus Hendra, dan zat-zat ganas lainnya.

Para ilmuwan internasional sangat mencemaskan keteledoran China dalam mengoperasikan BSL-4 di Wuhan. Di masa lalu, virus SARS sudah berkali-kali lepas dari lab yang memiliki kemampuan kurung-bio (biocontainment) maksimum itu. Diduga, para pengelola lab melakukan pelanggaran prosedur baku atau para staf yang belum terlatih penuh.

Untuk virus Corona yang sedang menyebar cepat sejak Desember 2019, China mengatakan sejauh ini tidak diketahui asal-usulnya. Bisakah dipercaya? Bagi saya tidak. Mungkinkah virus itu lepas dari lab BSL-4 Wuhan dengan kelalaian atau kesengajaan?

Ada banyak orang yang berteori bahwa China melepaskan virus itu untuk menimbulkan korban di kalangan warga muslim Wuhan. Tanpa harus dijelaskan panjang-lebar, dugaan ini sangat tidak logis. Sebab, sangat tidak mungkin virus itu “diatur” penularannya. Terus, ada pula komentar seorang politisi Rusia bahwa AS yang melancarkan konspirasi penyebaran Corona untuk melumpuhkan kekuatan ekonomi China. Ini pun sesuatu yang tidak memiliki dasar yang kuat.

Tapi, semua orang pantas bertanya-tanya: untuk apa China membangun BSL-4 sampai tujuh unit? Dan itu dibangun di sebuah negara yang tingkat transparansinya sangat minim. Untuk prestise? Tak meyakinkan.

Kalau diamati sepak-terjang China di tingkat regional Asia-Pasifik dan ambisi globalnya untuk menjadi kekuatan terbesar dunia, masuk akal juga dugaan bahwa senjata biologi adalah tujuan China.

Oleh : Asyari Usman, Wartawan Senior Indonesia.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending