Connect with us

BISNIS

Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Refly Harun Puji Susi Pudjiastuti

Published

on

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. (Foto: Instagram @susipudjiastuti115)

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Rangkap jabatan yang terjadi di Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebenarnya telah menjadi persoalan lama. Tapi pakar hukum tata negara Refly Harun merasa masalah ini belum terselesaikan.

Refly lantas membandingkan para Wamen BUMN yang rangkap jabatan di perusahaan BUMN dengan sosok mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti serta Menteri BUMN Erick Thohir.

Hal ini disampaikannya dalam video berjudul “Wamen Rangkap Jabatan di BUMN. Kok Bisa?!” yang diunggah ke kanal YouTube Refly Harun, pada Jumat (29/5/2020).



Refly memuji sosok Susi Pudjiastuti dan Erick Thohir lantaran keduanya rela kehilangan kesempatan untuk mengurus perusahaan.

“Kan tidak hanya mereka (yang rangkap jabatan) yang harus rela kehilangan opportunity. Kan banyak juga, seperti Susi Pudjiastuti misalnya ketika menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan hilang opportunity juga untuk mengusuri perusahaan,” ucap Refly.

Hal serupa, menurut Refly, juga terjadi pada sosok Erick Thohir yang menerima jabatan Menteri BUMN dan kehilangan kesempatan mengelola perusahaannya.

“Banyak orang hilang opportunity. Tapi yang harus dijaga adalah prinsip good governance dan clean governance, atau azas ilmu pemerintahan yang baik,” kata Refly.

Ia merasa tidak masuk akal dengan adanya wakil menteri yang rangkap jabatan apalagi di perusahaan BUMN.

“Bagaimana mungkin seorang wakil menteri yang mengurusi ratusan BUMN, karena antaran wakil menteri I dan wakil menteri II dibelah. Ada seratus sekian BUMN lalu mereka dibelah 50-50,” katanya. Demikian, seperti dikutip Suara.com.(*/sra)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

BISNIS

Harga Cabai Semakin Anjlok, Rp 2.500 Per Kilogram

Published

on

Anjloknya harga cabai di musim kemarau sangat memberatkan para petani. (Foto : Pinterest)

Indonesiaraya.co.id, Sumenep – Ibarat jatuh tertimpa tangga. Pepatah itulah yang dirasakan para petani cabai di kabupaten Sumenep Madura, Provinsi Jawa Timur. 

Selain daerahnya belum bebas dari pandemi covid-19, harga cabai di kalangan petani semakin anjlok, cuma Rp2.500 per kilogram. 

“Ini terasa sejak pandemi covid-19 dan dari hari kehari terus mendurun hingga Rp 2.500 per kilogram,” terang Saniyatun, petani asal Desa Keles Kecamatan Ambunten, Jumat (6/8/2020).



Anjloknya harga cabai di musim kemarau sangat memberatkan para petani, karena setiap hari mereka harus menyiramnya, namun harapannya saat panen seakan pupus karena harganya tidak sebanding dengan pekerjaan mereka.

“Jika tidak disiram, budidaya tanaman cabai akan meranggas kemudian akan menua dan tidak produktif,” keluhnya.

Walau murah petani dengan terpaksa tetap merawat dan menjualnya pada para tengkulak yang biasa mangkal disejumlah lokasi. Perubahan harga cabai di Sumenep biasanya terjadi tiap hari. Sehingga pergerakan harganya hampir tiap hari berbeda.

“Yang paling parah satu bulan terakhir ini, sangat murah dan tidak pernah naik hingga diatas Rp5.000 per kilogramnya,” ceritanya.

Sementara itu untuk laporan yang masuk ke Dinas Perdagangan Sumenep, yang diambil dari harga di dua pasar tradisonal, maisng-masing pasar Anom baru dan Pasar Bangkal Sumenep, harga cabai biasa Rp 18.000 per kilo gram, sedangkan cabai rawit Rp 17.000 per kilogram. (rri)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

BISNIS

Promosi Produk Kehutanan ke Belgia dan Eropa Perlu Lebih Digencarkan

Published

on

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI), Indroyono Soesilo. (Foto : Istimewa)

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Guna meningkatkan ekspor produk industri kehutanan Indonesia ke Negara Negara Uni Eropa, khususnya ke Belgia pasca pandemi Covid 19, nampaknya upaya promosi dan pemasaran perlu lebih digencarkan melalui pola-pola baru, seperti penggunakan pemasaran secara daring dan lebih mengangkat isu “green economy”. Demikian antara lain hasil Pertemuan Virtual Indonesia – Belgia Untuk Produk Kayu dan Furniture, Rabu (5/8/2020).

Pertemuan yang dibuka oleh Kuasa Usaha a.i. KBRI Brussel, Sulaiman Syarif, juga dihadiri oleh calon Duta Besar RI untuk Belgia dan Uni Eropa, Andri Hadi, serta dihadiri para pengusaha industri kehutanan dari Indonesia dan Belgia.

Kuasa Usaha a.i. Sulaiman Syarif menyampaikan bahwa potensi ekspor produk kehutanan Indonesia ke Eropa dan Belgia masih sangat besar, tinggal perlu dicari dan dianalisis langkah langkah yang perlu diambil agar devisa dari ekspor produk kehutanan bisa semakin meningkat.



Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), yang juga Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI), Indroyono Soesilo menyampaikan bahwa devisa ekspor produk kehutanan Indonesia ke Eropa pada tahun 2019 mencapai US$ 1.1 miliar, dimana US$ 106 juta diantaranya diperoleh dari ekspor ke Belgia, yang merupakan importir produk kehutanan Indonesia nomor empat di Eropa sesudah Inggris, Belanda dan Jerman. “Akibat pandemi Covid 19, devisa ekspor kehutanan Indonesia ke Eropa periode Januari – Juli 2020 mencapai US$ 588 juta, turun 12% dibanding periode yang sama pada tahun 2019, yang mencapai US$ 672 juta,” jelas Indroyono.

Ia juga menambahkan beberapa upaya untuk meningkatkan ekspor produk kehutanan Indonesia ke Eropa, antara lain promosi dengan metode digital, serta lebih memperkenalkan Sertifikat Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)/FLEGT kepada konsumen Eropa. “Pasal 13 dari Naskah Kerjasama Indonesia – Uni Eropa tentang SVLK/FLEGT yang ditandatangani pada tahun 2013 akan menjadi dasar Uni Eropa untuk mempromosikan SVLK/FLEGT kepada konsumen Eropa. Termasuk juga penetapan SVLK/FLEGT untuk pengadaan barang dan jasa Pemerintah Negara-Negara Eropa. Hal ini menjadi catatan KBRI Brussel untuk ditindak lanjuti,” tambah Indroyono.

Sementara itu Alexander de Groot , perwakilan industri perkayuan Belgia, Fedustria, menyampaikan bahwa akibat pandemi Covid 19, pola konsumen Eropa berubah dan menguntungkan produk kehutanan karena biaya konsumsi penduduk yang biasanya dipakai untuk berlibur di musim panas telah dialihkan untuk merenovasi rumah dan membeli perabot rumah tangga agar nyaman bekerja dari rumah. “Kebutuhan ini memerlukan produk kayu dan ini peluang bagi eksportir kayu dari Indonesia,” ujar Alexander.

Hal ini disepakati pula oleh dua produsen kayu Indonesia, Ony Hindra Kusuma, anggota Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO) dan Erick Luwia dari CV Property, produsen furniture Indonesia. Hal yang sama disampaikan pula oleh Philippe Delaisse, Direktur Utama Ethnicraft Asia dan Nadir Oulad Omar, perwakilan Barabas/Belindo.

Wakil Ketua Umum Bidang Kajian Regulasi, Sertifikasi dan Advokasi Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Robert Wijaya menegaskan yang perlu didorong adalah peningkatan penggunakan internet untuk promosi dan pemasaran secara daring, peningkatan pameran serta pelatihan pembuatan desain produk yang lebih moden bagi industri hilir, terutama industri furniture, yang sebagian besar terdiri dari Usaha Kecil dan Menengah.

“Tawaran pihak Belgia terkait sarana pergudangan di Pelabuhan Antwerp untuk menampung produk produk industri kehutanan Indonesia, sebelum didistribusikan ke seluruh negara Eropa merupakan langkah inovatif yang harus segera diwujudkan,” tambah Robert.

Dengan akan segera terbitnya Comperhensive Economic Partnership Agrement (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa maka diharapkan usaha bersama untuk meningkatkan produk ekspor industri kehutanan akan semakin meningkat di masa depan. (fri)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

BISNIS

ESDM Belum Bahas Kelanjutan Proyek Blok Masela, Alasannya?

Published

on

Menteri ESDM, Arifin Tasrif. (Foto : esdm.go.id)

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih belum membahas mundurnya dua investor dari proyek Blok Masela, dan Indonesian Deap Water Development (IDD).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Ego Syahrial, enggan  meladeni pertanyaan terkait kelanjutan dua proyek besar, yaitu Blok Masela dan Indonesian Deepwater Development (IDD). 

Sedangkan, Kepala Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas, Dwi Sutjipto dalam keterangannya, Kamis (6/8/2020), mengatakan  kelanjutan Blok Masela saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan.

Di sisi lain, sayangnya partner Inpex dalam pengembangan Blok Masela, Royal Dutch Shell malah ingin menawarkan hak partisipasi mereka ke pihak lain.



Untuk itu, Shell mengajukan akses open data ke Kementerian ESDM.

“Iya, ada yang mengakses open data hak partispasi Shell di blok masela. Tapi untuk yang dari overseas ini belum. Ini belum dapat persetujuan dari ESDM,” ujar Dwi.

Namun, Dwi mengatakan untuk open data yang mengakses investor dalam negeri sudah bisa dilakukan karena pemerintah sudah memberikan izin akses buka data ini. Namun, kata Dwi dalam kasus Blok Masela ini yang akan masuk untuk menjadi mitra baru Inpex adalah investor luar negeri. 

Maka, open data untuk overseas atau investor luar negeri baru bisa dilakukan kalau ESDM sudah memberikan izin.

“Kan kalau popen data ini dari indonesia sudah oke, sudah ada persetujuannya. Dari overseas belum. Padahal kan calon pemebli kan dari luar negeri kan. yang buka data dari luar negeri ini belum dapat persetujuan dari ESDM,” ujar Dwi.

Sedangkan untuk proyek IDD, sampai hari ini juga ESDM menyampailan soal kelanjutan proyek  tersebut.

Padahal, IDD sudah menyatakan kepada publik bahwa proyek IDD tidak mampu bersaing dalam portofolio global.

Sedangkan Manager Corporate Communication Chevron Pasific Indonesia, Sonitha Poernomo, menjelaskan perusahaan tak dapat modal yang cukup dari Chevron Ltd untuk bisa mengembangkan proyek IDD.

Sedangkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, meminta agar target produksi Blok Masela dipercepat menjadi tahun 2026 atau setahun lebih cepat dari target awal 2027. Arifin menegaskan percepatan itu bertujuan untuk memperoleh pendapatan.

“Supaya dapat revenue, kalau bisa 2026 ya 2026, tapi targetnya 2027,” ungkapnya.

Menurut Arifin, PLN akan menyerap 2-3 million ton per annum (MTPA). Gas ini bakal digunakan untuk pembangkit karena akan banyak pembangkit PLN yang menggunakan gas.

 Arifin mengatakan, selain PLN, Pupuk Indonesia juga akan menyerap dengan besaran 150 juta MMSCFD. Soal harga, Arifin mengatakan akan mengikuti harga pasar. (inf)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending

Redaksi media Indonesiaraya.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, Iklan dan Sponsorship, serta kerjasama bisnis lainnya.

Penerbit :
PT Media Indonesia Raya

Manajemen Media :
Indonesia Raya Media Center (IRMC)

Email Center :
redindonesiaraya@gmail.com
redaksi@indonesiaraya.co id

WA Center :
0878-15557788, 0819-15557788

Terbit Sejak 8 Desember 2017