Connect with us

OPINI

WANGI PUCUK KENANGA ITU TAK KAN HAPUSKAN BAU ANYIR DARAH PARA KYAI KAMI

Published

on

Buku Ayat-Ayat yang Disembelih menceritakan tentang banyaknya masyarakat yang menjadi korban kekejaman PKI pada kurun waktu 1926-1968.

SEKALI waktu datanglah ke Desa Kenongo Mulyo. Desa yang hanya berjarak beberapa kilometer arah selatan dari Takeran, Magetan, Jawa Timur.

Di desa ini banyak tumbuh pohon kenanga yang menjulang.

Apabila datang musim hujan, pucuk-pucuknya bersemi. Pohon ini banyak dijumpai tumbuh di halaman warga desa. Di pagi hari, mereka akan memetik pucuk-pucuk kenanga itu.



Dahulu sewaktu masih kanak-kanak, setiap pagi, dengan membonceng sepeda motor butut ayah saya melewati desa itu setelah menyeberang sungai Madiun dengan perahu gethek. Itu antara kurun 1974-1975.

Saya memang lahir di kota ini, di sebelah timur sungai Madiun atau kali Jati. Sungai yang setiap hari harus saya lalui bersama ayah saya untuk menuju tempat sekolah di Madrasah Ibtidaiyah PSM Takeran. Sedangkan ayah saya, salah satu guru Madrasah Aliyah di sekolah itu.

Di pagi hari para penduduk memetik daun-daun pucuknya yang baru bersemi. Saya mengira itu daun sayuran seperti kembang turi yang juga biasa dipetik di desa saya untuk sayur pecel.

“Bukan. Itu nanti disuling dan diekspor ke Perancis untuk bahan minyak wangi, “papar ayah saya.

Empat puluh tahun berlalu sejak masa kanak-kanak itu. Pohon-pohon kenanga menarik kaki saya datang ke kota ini. Selama empat hari, tanggal 7 – 10 September 2015, saya berkeliling kota kelahiran saya, termasuk mengunjungi desa itu. Berziarah ke makam-makam tua di Soco, Gorang Gareng, Kresek, dan Ngawi.

Tak jauh dari sungai yang dahulu selalu saya lalui tiap pagi itu, adalah dukuh Cigrok. Ingatan saya melayang ke cerita-cerita dari ayah dan para kakek-nenek saya. Tentang sebuah drama di tahun 1948. Dukuh Cigrok letaknya sekitar empat kilometer dari PSM Takeran ke arah selatan.

Tentang PSM Takeran itu sendiri, di bagian lain buku ini, Mbah Zakariya, telah berkisah tentang hilangnya guru panutannya bernama Kyai Imam Mursyid Muttaqin.

Di Cigrok ini, saat itu terdapat sumur tempat pembantaian para kyai dan santri. Sama seperti yang terjadi di Soco dan lain-lain tempat. Di sini terdapat pesantren juga.

Cigrok hanyalah satu tempat dari 24 desa lokasi pembantaian para kyai dan para santri. Ya memang desa-desa ini adalah kampung santri. Di sumur tua Cigrok, Kyai Imam Sofwan dari Kebonsari, termasuk di antara korban keganasan kawanan PKI di bawah komando Muso pada tahun 1948. Kyai ini dipukuli lalu dimasukkan ke dalam sumur itu. Demikian kisah yang saya baca dan sudah menjadi cerita umum masyarakat di sekitar Cigrok.

Meski sudah dihajar dan dihujani aneka benda-benda keras dari atas sumur, Kyai Imam Sofwan belum mati. Dalam situasi kritis itu, refleks sang kyai hanya satu: memasrahkan diri kepada Sang Khalik. Lalu ia melantunkan suara azan.Muslim, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari sumur itu, mendengar suara azan sang kyai.

Malam dini hari itu, memang mencekam. Terdengar suara gaduh para pasukan FDR/PKI yang membentak-bentak para tawanan. Ia hanya bisa mengintip dari bilik rumahnya.

Muslim sepertinya mengenali suara azan dari salah satu sumur itu. Semakin dilamatkan telinganya, ia semakin yakin pemilik suara azan itu adalah Kyai Imam Sofwan dari pesantren Kebonsari.

Karena sudah kelelahan, Kyai Imam Sofwan, akhirnya meninggal bersama tumpukan mayat-mayat lain yang penuh anyir darah. Tidak jauh dari sumur itu, kedua putra Kyai Imam Sofwan, yaitu Kyai Zubair dan Kyai Bawani, juga menjadi korban pembantaian di sebuah sumur di Desa Kepuh Rejo.

Achmad Idris, yang ketika itu sudah ditawan tentara FDR/PKI, menyaksikan penjagalan biadab tersebut dari kejauhan. Meski sayup-sayup, dia sangat mengenal suara azan KH Imam Sofwan yang mengumandang dari dalam sumur itu. Sebab, ia sering mendengarkan pengajian-pengajian kyai itu.

Idris menyaksikan dengan mata kepalanya. Dengan tangan terikat mereka dihadapkan ke sumur. Para tawanan itu satu persatu dihantam dengan pentungan. Mereka menjerit lalu roboh ke dalam sumur.

Tak semuanya langsung roboh dan tewas. Ada pula yang masih kuat merangkak sambil melolong-lolong kesakitan. Tangan mereka menggapai-gapai, mencari pegangan. Melihat mereka para korban merangkak seperti itu, orang-orang PKI kemudian menyeret begitu saja dan memasukkan mereka hidup-hidup ke dalam sumur. Hal yang sama sebagaimana dialami Kyai Imam Sofwan beserta kedua anaknya Kya Zubair dan Kyai Bawani yang masih hidup ketika dimasukkan ke dalam sumur.

Korban sumur Cigrok setidaknya berjumlah 22 orang. Di antara para korban itu, selain Kyai Imam Sofwan, adalah Hadi Addaba’ dan Imam Faham dari PSM Takeran.

Addaba’ adalah guru dari Mesir yang ditugaskan mengajar di Takeran. Imam Faham adalah adik Muhammad Suhud yang juga jadi korban keganasan PKI.

Imam Faham sendiri sebetulnya ikut mengiring Kyai Imam Mursyid Muttaqin, saat dibawa mobil PKI selepas Jumat, 17 September 1948. Namun, di tengah jalan, kyai dan pengawalnya rupanya dipisah. Imam Faham diturunkan di tengah jalan, dan akhirnya ditemukan dikubur di lubang pembantaian Cigrok.

Tak hanya para kyai dan santri yang menjadi korban. Camat Takeran Prijo Utomo juga dijagal di sumur Cigrok bersama Komandan Polisi Takeran, Martowidjojo beserta sejumlah anak buahnya.

Inilah ingatan yang kembali menguat setelah empat hari peziarahan itu. Jelang tengah malam, usai berkeliling dari lokasi ke lokasi di Madiun, Magetan, Ponorogo dan Ngawi, saya melintas Desa Kenongo Mulyo dari arah Gorang Gareng menuju desa kelahiran saya di Desa Resojasi, Kecamatan Kebonsari.

Sebentar lagi saya akan memasuki Cigrok, sebelum melintas jembatan sungai itu. Aroma pucuk-pucuk daun kenanga itu terasa. Masuk melalui celah-celah jendela mobil Panther tua yang saya kendarai sendirian.

Sebagian mitos Jawa mengatakan: “jangan menanam pohon kenanga di depan rumah.Sebab pohon ini akan mengundang para kuntil anak datang. Konon mereka adalah penjelmaan arwah-arwah gentayangan.”

Nyatanya, malam itu tidak ada kuntil anak. Ya, pasti tidak akan pernah ada. Karena orang-orang yang dikubur hidup-hidup di sumur Cigrok itu adalah para syuhada. Jiwa mereka harum mewangi, menjulang ke langit tinggi dan abadi.

Sampai kapan pun, sejarah anyir kekejaman PKI itu tak akan terlupakan. Bahkan, wanginya aroma daun-daun kenanga yang banyak tumbuh di sekitarnya, tak kan bisa menghapuskan bau anyir darah pengorbanan para kyai kami.

[Oleh: Anab Afifi. Penulis adalah CEO Bostonprice Asia dalam buku Ayat-Ayat yang Disembelih halaman 70-74, cetakan ke 4]


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

OPINI

Usulan Kenaikan Tarif Angkutan Penyeberangan Harus Memerhatikan Hak Konsumen, dan Keberlangsungan Usaha

Published

on

YLKI mendorong adanya kajian aspek ATP (Ability to Pay) dan WTP (Willingness to Pay).

INDONESIA adalah karakter negara kepulauan terbesar di dunia. Sehingga angkutan berbasis perairan, sungai penyeberangan dan lautan menjadi sangat vital. Oleh karena itu mobilitas warga yang berbasis angkutan penyeberangan, seperti angkutan ferry, mempunyai nilai yang amat strategis, bahkan mutlak diperlukan. Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah sebagai regulator bertanggungjawab untuk menjadikan angkutan penyeberangan yang aman, nyaman, tarifnya terjangkau, dan menjunjung tinggi aspek keselamatan. Selain itu, pemerintah juga wajib menjaga keberlangsung usaha dari operator penyeberangan yang ada.

Relevan dengan hal ini, terbetik wacana dari operator yang terhabung dalam GAPASDAP, yang ingin melakukan stop operasi. Ancaman ini dilakukan dikarenakan Menhub dan Menko Maritim menolak usulan kenaikan tarif yang diajukan GAPASDAP. Terkait hal ini YLKI mempunyai beberapa catatan, yakni:

1. YLKI tidak mengendors rencana stop operasi alias pemogokan, yang akan dilakukan angkutan ferry, sebab akan mengacaukan pelayanan publik dan bahkan stabilitas ekonomi lokal, bahkan nasional;



2. Terkait usulan kenaikan tarif, jika dilihat dari sisi momen, operator penyeberangan sudah pantas mengajukan usulan kenaikan tarif, sebab kenaikan tarif terakhir dilakukan pada 3 tahun yang silam. Soal besaran dan formulasinya, YLKI mendorong adanya kajian aspek ATP (Ability to Pay) dan WTP (Willingness to Pay). Yang terpenting kenaikan tarif masih mempertimbangkan sisi daya beli konsumen sebagai penumpang ferry. Hal ini penting karena penumpang ferry banyak dari kelas menengah bawah, khususnya di rute perintis. Selain itu, kenaikan tarif harus berbanding lurus dg pelayanan. Jadi pengusaha angkutan ferry harus berkomitmen untuk meningkatkan pelayanannya;

3. Jika Kemenhub dan Kemenko Maritim tidak mau menaikkan tarif angkutan penyeberangan, maka pemerintah sebagai regulator harus memberikan insentif dan PSO (Public Service Obligation) kepada operator. Jangan menolak kenaikan tarif tapi tidak mau memberikan insentif/PSO…itu namanya mau menangnya sendiri. Artinya pemerintah harus fair, demi menjaga keberlangsungan usaha angkutan ferry dan aksesibilitas pada konsumennya. Jika mereka sampai stop operasi maka akan merugikan semua pihak dan pemerintah harus bertanggungjawab.

4. Skema kebijakan tarif penyeberangan, selain harus memperhatikan aspek ability to pay konsumen; juga harus menjamin keberlangsungan usaha angkutan penyeberangan. Rontoknya pelaku usaha angkutan penyeberangan menunjukkan adanya perubahan kebijakan pentarifan di bidang penyeberangan.

Demikian. Terima kasih.

Wassalam.

Oleh : Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

Kelola Dana Haji Tunggu Tsunami

Published

on

Tahun 2020 ini BPIH tertolong. Karena harga minyak turun, rupiah menguat dan hasil nego tiket per jama'ah bisa turun dua juta.

PERSOALAN dana haji akan jadi gempa, bahkan menimbulkan sunami jika tidak dilakukan antisipasi sejak dini. Tahun demi tahun kebutuhan subsidi untuk jama’ah yang berangkat haji makin besar. Tahun ini BPKH harus mensubsidi jama’ah haji yang akan berangkat sebanyak tujuh triliun lebih. Dari mana sumber uang itu? Dari uang setoran jama’ah haji yang masih ngantri 10-30 tahun. Kenapa tidak disubsidi dari negara? Pertanyaan anda aneh. Subsidi listrik, gas dan BBM saja dicabutin, mana kuat negara mensubsidi jama’ah haji?

Mengapa harus disubsidi? Karena uang setoran jama’ah haji tak mampu membayar seluruh kebutuhan haji. Perhatikan baik-baik! Kebutuhan haji per jama’ah Rp. 69.174.167,97. Total setoran jama’ah haji hanya Rp. 35, 235.602. Kurang Rp. 33. 938.555.

33.938.555 jika dikalikan 221 ribu jama’ah haji yang berangkat setiap tahunnya plus 4100 petugas haji dan kebutuhan operasional sebelum berangkat, maka total subsidi 7.164.668. 846.603, 92. Tujuh triliun lebih bung. Mampukan BPKH mengolah dana haji di bisnis yang bisa menghasilkan dana tujuh triliun lebih pertahun?



Jika rata-rata uang setiap jama’ah haji hanya menghasilkan satu juta pertahun, dalam waktu tunggu 10 tahun, maka hanya menghasilkan 10 juta. Sementara kekurangannya Rp. 33.938.555. Dari mana kekurangan dana itu diambil? Dari dana milik jama’ah daftar tunggu. Bisa hasil investasi, dan tidak menutup kemungkinan dari setoran pokok mereka.

Tahun 2020 ini BPIH tertolong. Karena harga minyak turun, rupiah menguat dan hasil nego tiket per jama’ah bisa turun dua juta. Sehingga, belum ambil uang pokok setoran jama’ah dalam daftar tunggu. Tapi, situasi ini insidentil dan tak bisa diprediksi. Kalkulasi normal, kedepan uang pokok setoran jama’ah haji daftar tunggu bisa terpakai untuk jama’ah yang berangkat duluan. Anda daftar haji tahun 2021, maka sebagian uang yang anda setor bisa langsung terpakai untuk jama’ah haji yang berangkat tahun itu. Seperti first travel dong? Mirip! Berpotensi terjebak dalam piramida ponzi.

Ibarat bisnis, hanya menunggu waktu untuk collaps. Ketika dana habis untuk mensubsidi jama’ah haji yang berangkat lebih awal, maka jama’ah haji dalam daftar tunggu suatu saat gak bisa berangkat haji. Saat itulah gempa dan sunami terjadi. BPKH akan menjadi pihak tertuduh, karena tidak berterus terang dari awal. Tidak adanya akuntabilitas dan transparansi publik bisa dianggap sebagai tindakan kriminal. Mungkinkah semua pimpinan BPKH akan dipenjarakan? Soal ini, silahkan tanya kepada ahli hukum.

Lalu, bagaimana antisipasinya? Pertama, naikkah setoran haji. Logika sederhana, dalam kondisi ekonomi yang normal, setiap tahun kebutuhan haji naik. Entah itu tiket pesawat, ketering, hotel, perlengkapan haji, dll. Termasuk peningkatan pelayanan jama’ah haji dengan naiknya biaya petugas haji. Anda beli nasi padang saja setiap tahun naik, wajar kalau ongkos haji naik.

Soal ongkos haji kebijakannya ada di pemerintah. Dalam hal ini adalah menteri agama atas persetujuan komisi VIII DPR. Di tangan menteri agama dan DPR-lah nasib dana haji ditentukan. Collaps atau tidak, bukan hanya tanggung jawab BPKH, tapi juga menteri agama dan DPR. Terutama komisi VIII.

Tentu, jika mau naik harus bertahap. Bisa dikalkulasi, sehingga Cash Flow dana haji bisa dikelola dengan sehat.

Kedua, subsidi pemerintah. Sekarang mungkin berat. Entah suatu saat nanti. Tapi, siapa yang jamin bahwa ekonomi Indonesia kedepan akan membaik. Gak ada yang tahu. Belum lagi muncul persoalan diskriminasi. Haji khusus untuk umat Islam, bagaimana dengan umat di luar Islam. Subsidi apa yang akan diberikan kepada umat non muslim supaya ada keadilan. Ternyata tak sesederhana seperti mencairkan dana PT. Jiwasraya dan PT. Asabri.

Jika satu dari dua solusi ini gak diambil, gempa dan sunami dana haji akan terjadi. Kecuali jika BPKH pandai bermain saham gorengan dengan memanfaatkan BUMN-BUMN yang ada. Itu kemungkinan bisa menutup semua subsidi. Cara cepat dan efektif. Tapi itu kan tidak halal… Mosok berangkat haji pakai dana yang gak halal? Bukan hanya Pak Jokowi yang marah, malaikat juga bakal marah loh…

Oleh : Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

OPINI

Pentingnya DPLK dan Merencanakan Masa Pensiun

Published

on

Perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba.

KENAPA Anda perlu merencanakan masa pensiun?

Tentu, ada banyak argumen untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi faktanya, 90% pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap untuk pensiun. Bahkan 93% pekerja menyatakan tidak tahu akan seperti apa di masa pensiun. Alhasil di Indonesia, riset menunjukkan 73% pensiunan mengalami masalah keuangan. Realitas pensiunan di Indonesia semacam itu terjadi. Akibat tidak adanya perencanaan masa pensiun para pekerja.

Hampir semua orang yang berpendidikan tinggi, pasti ujung-ujungnya ingin bekerja. Bekerja dari level rendah hingga mencapai karier puncaknya. Puluhan tahun waktu dihabiskan untuk bekerja. Sambil menikmati upah yang diterima setiap bulan. Tapi kenyataannya, riset membuktikan hanya 9% pensiunan alias pekerja yang benar-benar sejahtera di masa pensiun. Sementara 91% lainnya, masih tetap bekerja di usia pensiun atau menggantungkan hidupnya di hari tua pada anak-anaknya.



Good worker harus tahu. Bahwa di Indonesia saat ini. Usia harapan hidup orang Indonesia telah beranjak menjadi 72 tahun. Artinya apa? Bila seseorang pekerja pensiun di usia 55 tahun, maka masih ada 17 tahun masa kehidupan setelah pensiun. Sementara indeks biaya hidup di masa pensiun mencapai 70%-80% dari gaji terakhir. Itu berarti, bila gaji terakhir Rp. 10.000.000 maka tingkat penghasilan pensiun (TPP) yang dibutuhkan di hari tua berkisar di antara Rp. 7.000.000 s.d. Rp. 8.000.000 per bulan. Bila keadaannya sudah tidak bekerja lagi, maka dari mana uang yang dibutuhkan di masa pensiun itu diperoleh?

Maka suka tidak suka, siapapun orangnya, perencanaan masa pensiun penting untuk dilakukan sejak dini. Karena masa pensiun, hakikatnya cepat atau lambat pasti tiba. Jangan sampai masa bekerja jaya tapi masa pensiun merana.

“Urusan pensiun mah nanti saja, kan gaji yang ada hanya cukup untuk biaya hidup” begitu kata seorang pekerja. Tapi ada pekerja yang lain bilang “saya menyesal sekarang, karena dulu saat bekerja tidak mau menabung untuk masa pensiun?” Itulah kenyataannya, masa pensiun kadang seperti “buah simalakama”. Di satu sisi, gaji sering habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, tidak sedikit pensiunan yang menyesal karena lalai merencanakan masa pensiun yang sejahtera. Intinya, setiap pekerja harus punya sikap terhadap masa pensiunnya sendiri. Mau seperti apa, kau kayak apa?

Lalu, bagaimana cara jitu merencanakan masa pensiun?

Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melalui program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Karena DPLK merupakan program pengelolaan dana pensiun yang dirancang untuk mempersiapkan jaminan finansial di masa pensiun. Program yang didedikasikan untuk pembayaran manfaat pensiun bagi setiap pekerja. Melalui DPLK, setiap pekerja dapat menyetorkan sejumlah uang secara rutin setiap bulan. Sebagai perencanaan masa pensiun dan hanya dapat dicairkan ketika memasuki usia pensiun.

DPLK, tentu bukan asuransi jiwa. DPLK pun bukan reksadana. Tapi intinya, DPLK dirancang untuk menyiapkan masa pensiun yang sejahtera. Karena DPLK bertumpu pada pengelolaan program pensiun iuran pasti (PPIP) dan orientasinya untuk hari tua atau masa pensiun. Agar tersedia dana yang cukup untuk membiayai pensiunan di hari tuanya, di saat tidak bekerja lagi.

Ada tiga manfaat DPLK yang luar biasa sebagai program pensiun, yaitu :

1. Ada pendanaan yang pasti untuk masa pensiun melalui iuran yang disetor secara bulanan, tentu semakin besar iurannya semakin optimal uang pensiunnya.

2. Ada hasil investasi yang diperoleh selama menjadi peserta DPLK sehingga dana berkembang secara optimal karena bersifat jangka panjang.

3. Ada fasilitas perpajakan yang diperoleh saat manfaat pensiun dibayarkan ketika pensiun, yang tidak diperoleh bila tidak melalui DPLK.

Maka melalui DPLK, setiap pekerja akan dapat memperoleh manfaat pensiun yang luar biasa. Besar kecilnya uang pensiun yang diterima dari DPLK sangat bergantung pada besarnya iuran yang disetorkan – hasil investasi – lamanya kepesertaan. Semakin lama menjadi peserta DPLK maka semakin besar manfaat pensiun yang diterima.

Jadi, sudahkah Adna merencanakan masa pensiun?

Bila tidak sekarang, lalu kapan lagi? Kerja Yes, Pensiun Oke.

Oleh : Syarifudin Yunus, Edukator Dana Pensiun Asosiasi DPLK.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788 / 0821-96677788.

Continue Reading

Trending